Resesi Dunia

BI Beberkan Pemicu Inflasi Global, Ada Sisi Positifnya Bagi Indonesia

Deputi Gubernur BI Dody Budi Waluyo mengatakan, ada sekira 35 negara saat ini melakukan proteksi untuk melakukan ekspor pangan ke negara-negara lain.

Editor: Hendra Gunawan
Istimewa
Ilustrasi suasana di Jakarta International Container Terminal (JICT). Bank Indonesia (BI) menyatakan, inflasi merupakan permasalahan global, di mana pemicunya berasal dari dua hal, yakni pertama adalah isu terkait dengan proteksionisme pangan yang dilakukan oleh banyak negara. 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Yanuar Riezqi Yovanda

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA -- Bank Indonesia (BI) menyatakan, inflasi merupakan permasalahan global, di mana pemicunya berasal dari dua hal, yakni pertama adalah isu terkait dengan proteksionisme pangan yang dilakukan oleh banyak negara.

Deputi Gubernur BI Dody Budi Waluyo mengatakan, ada sekira 35 negara saat ini melakukan proteksi untuk melakukan ekspor pangan ke negara-negara lain.

"Sekira 40 kebijakan perdagangan proteksi dari 35 negara tersebut dilakukan. Artinya, memang sekarang ini semua negara melakukan tutup pintu dari sisi menjaga keamanan pangan mereka masing-masing," ujarnya dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah secara virtual, Selasa (30/8/2022).

Baca juga: Dampak jika Harga BBM Naik: Disebut Bisa Picu Inflasi hingga Timbulkan Efek Domino Negatif

Selanjutnya, hal kedua yang jadi pemicu inflasi global adalah kenaikan harga komoditas, meski bagi Indonesia sebenarnya ada dampak positifnya.

"Dampak ke Indonesia ada dua, pertama adalah ini merupakan sisi positif kita mendapatkan benefit dari devisa ekspor sumber daya alam yang meningkat tinggi. Indonesia termasuk negara yang diuntungkan dengan kondisi saat ini," kata Dody.

Namun demikian, Indonesia juga merupakan net impor untuk beberapa komoditas, sehingga tentunya ini berdampak kepada harga-harga pangan maupun industri.

Sementara itu sampai hari ini, Dody menambahkan, kenaikan harga komoditas sudah mencapai sekira 30 persen hingga 35 persen.

"Lalu untuk pangan sendiri mencatat kenaikan hingga sekira 43 persen. Jadi, tidak salah kalau memang transmisi daripada harga pangan global kepada harga domestik ini tidak tertahankan," pungkasnya.

KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved