Dua Faktor Ini Jadi Pendorong Kenaikan Harga Minyak Dunia

Harga minyak mentah berjangka Brent naik 22 sen atau 0,3 persen menjadi 89,37 dolar AS pada pukul 06:35 GMT.

ETF Daily News
Harga minyak mentah berjangka Brent naik 22 sen atau 0,3 persen menjadi 89,37 dolar AS pada pukul 06:35 GMT. Sedangkan, harga minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS naik 10 sen atau 0,1 persen menuju ke level 83,64 dolar AS. 

Laporan Wartawan Tribunnews, Nur Febriana Trinugraheni

TRIBUNNEWS.COM, SINGAPURA - Harga minyak dunia mengalami kenaikan tipis pada perdagangan, Jumat (9/9/2022), setelah tertekan dalam beberapa hari ke belakang akibat kenaikan suku bunga dan pembatasan Covid-19 yang mempengaruhi permintaan di pasar bahan bakar.

Dikutip dari Reuters, harga minyak mentah berjangka Brent naik 22 sen atau 0,3 persen menjadi 89,37 dolar AS pada pukul 06:35 GMT.

Harga minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS naik 10 sen atau 0,1 persen menuju ke level 83,64 dolar AS.

Baca juga: Di Tengah Konflik Energi Rusia dan Eropa, Harga Minyak Alami Kenaikan Jadi 88,91 Dolar AS Per Barel

"Saya pikir aksi jual harga minyak mungkin berhenti untuk saat ini karena pemulihan sentimen risiko secara keseluruhan," kata analis di perusahaan jasa keuangan CMC Markets, Tina Teng.

Teng menambahkan, pelemahan nilai dolar AS dan penurunan imbal hasil obligasi telah membantu kenaikan harga minyak.

"Pada dasarnya, penurunan tajam dalam SPR AS menunjukkan bahwa kekurangan pasokan masih menjadi masalah utama di pasar minyak fisik, meskipun kekhawatiran resesi mungkin terus membebani," kata Teng.

Brent dan WTI AS menuju ke penurunan mingguan sebesar 4 persen. Penurunan ini dipengaruhi oleh ketatnya pasokan di tengah ancaman Rusia untuk memotong aliran minyak ke negara-negara yang menerapkan pembatasan harga minyak.

Pengurangan produksi oleh Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya atau dikenal sebagai OPEC+, serta prospek pertumbuhan produksi minyak mentah AS juga membebani harga minyak.

Administrasi Informasi Energi AS pada Kamis (8/9/2022) kemarin mengatakan pihaknya memperkirakan produksi minyak mentah AS naik 540.000 barel per hari menjadi 11,79 juta barel per hari pada tahun 2022, turun dari perkiraan sebelumnya sebesar 610.000 barel per hari.

Analis mengatakan, kemungkinan prospek pasokan dan aksi jual minyak di pasar bahan bakar dapat segera pulih, mengingat permintaan China sebagai importir minyak utama dunia dapat membaik pasca Covid-19.

Baca juga: Dibayangi Pemangkasan Pasokan OPEC+, Harga Minyak Mentah Melonjak Lebih dari 3 Persen

"Permintaan China lebih sulit untuk diprediksi, tetapi pembukaan kembali pasca-COVID sebelumnya telah melihat kemunduran daripada kenaikan permintaan secara bertahap. Dalam konteks itu, fundamental tampak condong terhadap sinyal teknis terbaru," kata analis di National Australia Bank dalam sebuah laporan.

Namun saat ini, pembatasan Covid-19 di China semakin ketat. Kota Chengdu yang memiliki 21 juta penduduk, pada Kamis kemarin memperpanjang lockdown.

Sementara jutaan warga China lainnya di berbagai daerah didesak untuk tidak bepergian selama masa liburan mendatang.

  • KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved