BBM Bersubsidi

Sistem Digital Dinilai Bisa Menjadi Solusi untuk Penyaluran BBM Subsidi secara Tepat

Mulyanto optimistis jika perbaikan terus dilakukan, sistem saat ini sangat bermanfaat dalam pengendalian penyaluran dan volume BBM.

Penulis: Sanusi
Editor: Hendra Gunawan
Istimewa
Ilustrasi: Pendaftaran BBM Subsidi Lewat MyPertamina dalam rangka melindungi hak subsidi energi masyarakat rentan. 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Sanusi

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Penggunaan IT dan digitalisasi distribusi BBM mulai dari kilang sampai nozzle SPBU dinilai bisa mempermudah pengawasan, dan ini membantu tugas tidak hanya Pertamina tapi juga Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas (BPH Migas).

Anggota Komisi VII DPR dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera Mulyanto, mengungkapkan sistem digital menjadi jawaban tantangan penyaluran BBM secara tepat.

"Saya rasa sistem ini sangat bermanfaat di era digital sekarang ini," ujar Mulyanto di Jakarta, Minggu (11/9/2022).

Baca juga: Buruh Telanjang Dada di Depan Kantor Anies dan Bawa Keranda untuk Jokowi, Demo Protes Harga BBM

Pertamina diketahui telah memiliki sistem pemantauan data mulai dari produksi di hulu hingga distribusi BBM ke masyarakat lewat Pertamina Integrated Enterprise Data and Command Center (PIEDCC).

Melalui sistem PIEDCC bisa terpantau aliran dari fluidanya (cairan) ataupun gas. Produk BBM yang dihasilkan dari kilang Pertamina disalurkan ke Terminal Bahan Bakar Minyak (TBBM).

Mulyanto optimistis jika perbaikan terus dilakukan, sistem saat ini sangat bermanfaat dalam pengendalian penyaluran dan volume BBM.

"Melalui penyempurnaan terus-menerus, sistem ini sangat efisien untuk memonitor dan mengendalikan volume BBM," kata Mulyanto.

Sistem PIEDCC merupakan upaya Pertamina dalam mengantisipasi dan mencegah terjadinya kehilangan jumlah BBM yang tidak wajar, baik mulai dari produksi di kilang, distribusi oleh truk tangki maupun kapal, hingga masuk ke SPBU dan diterima oleh masyarakat.

Langkah ini juga merupakan upaya untuk efisiensi dalam produksi dan distribusi BBM.

“Itu upaya yang kita lakukan untuk mengurangi losses, baik dari kilang, masuk ke kapal, masuk mobil tangki dan masuk ke SPBU.

Di SPBU semua terekam, dari dispenser nomor 5 (misalnya) SPBU nanti produknya apa yang keluar, jadi kalau ada selisih bisa kelihatan,” kata Nicke Widyawati, Direktur Utama Pertamina.

Baca juga: Tujuh Perwakilan KSPSI Bawa Petisi Tolak Kenaikan BBM ke Istana

Menurut Nicke, dari TBBM jumlah BBM yang akan disalurkan ke kendaraan pengangkut (truk tangki) akan dilakukan secara otomatis sesuai dengan jumlah yang dimasukkan lewat sistem. Semua data ini juga terpantau lewat PIEDCC.

Selanjutnya, saat diangkut oleh truk tangki menuju Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU), juga dimonitor secara sistematis.

Dia menjelaskan ada potensi penyusutan jumlah BBM yang dibawa oleh truk tangki karena BBM secara nature (sifatnya) bisa mengalami penguapan selama di dalam perjalanan. “Angka penyusutan tersebut ada batas kewajarannya dan jumlah BBM yang diangkut selalu terpantau oleh sistem di PIEDCC,” katanya.

Pengawasan tidak hanya di darat, tapi juga dilakukan di laut saat pengangkutan BBM menggunakan kapal.

Saat ini, Pertamina memiliki sekitar 258 kapal yang beroperasi dan semuanya terdata dengan baik dan terpantau secara langsung lewat PIEDCC.

“Kalau orang bilang ada yang kencing di laut, berarti jika ada kecepatan kapalnya 0 (berhenti) tapi dia di tengah laut, itu bisa langsung tersambung ke sistem dan ada CCTV di dalam, jadi kita bisa lihat apa yang sedang dilakukan,” jelas dia.

KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved