Pekan Ini, Sandiaga Uno Akan Terbang ke Bali Atasi Persoalan Kebisingan Luar Biasa di Canggu

Sandiaga akan bekerja sama dengan aparat setempat agar secara lugas menegakkan peraturan, dan pastikan kearifan lokal bisa menjadi satu pedoman.

Tribunnews.com/Rizki Sandi Saputra
Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI (Menparekraf) Sandiaga Salahuddin Uno saat ditemui awak media di Gedung Nusantara I, Kompleks DPR/MPR RI, Senayan, Jakarta. 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Yanuar Riezqi Yovanda

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno mengaku sudah mendapatkan laporan sejak 1,5 tahun lalu terkait kebisingan di wilayah Canggu, Bali.

Karena itu, pihaknya akan melakukan kunjungan ke Pulau Dewata untuk mencari solusi agar tidak ada lagi aduan kebisingan.

"Kami akan lakukan kunjungan pekan ini di Bali, spesifik bicara dengan pelaku bagaimana atasi hal ini, dan juga bersama aparat setempat. Bahwa Canggu jadi digital nomad sudah terjadi, tapi belum tertata, salah satunya dengan kebisingan ini," ujarnya dalam sesi "The Weekly Brief with Sandi Uno" di Gedung Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Jakarta, Senin (12/9/2022).

Baca juga: Ketua MPR RI Bamsoet Dukung Penyelenggaraan Udayana Festival 2022 di Bali

Sementara itu, jika pada 1,5 tahun lalu ada laporan kebisingan di Canggu, maka waktu itu belum terlalu berdampak karena jumlah wisatawan masih sedikit akibat dampak pandemi Covid-19.

Namun, sekarang dinilainya jumlah wisatawan terus merangkak naik ke Bali, sehingga kebisingan di Canggu menimbulkan polemik hingga muncul petisi "End Extreme Noise in Canggu".

"Sekarang kunjungan wisman 10.000 per hari. Bukan hanya kepadatan, tapi kebisingan luar biasa sampai jam 4 pagi," kata Sandi.

Dia menambahkan, pihaknya akan bekerja sama dengan aparat setempat agar secara lugas menegakkan peraturan, dan pastikan kearifan lokal bisa menjadi satu pedoman yang harus dipatuhi.

"Kami akan bertindak segera, butuh dukungan semua pihak, termasuk aparat setempat. Sebab, sekarang ada 6.000 lebih tandatangan petisi yang harus kita pastikan suara masyarakat ini bahwa pemerintah hadir beri solusi," pungkas Sandi.

Diketahui, masyarakat dan warga asing di Canggu, Kabupaten Badung, Bali, mengirim surat terbuka dan petisi bertajuk End Extreme Noise in Canggu kepada Presiden Joko Widodo dan sejumlah tokoh.

Di antaranya yaitu Megawati Soekarnoputri, Menparekraf, Gubernur Bali, dan PHDI Pusat.

Surat terbuka dan petisi bertajuk End Extreme Noise in Canggu (Basmi Polusi Suara di Canggu).

Pengunggah petisi menyampaikan Pulau Dewata yang begitu terkenal karena kedamaian, keindahan, dan budaya hingga memenangkan sebagai pulau nomer 1 di dunia itu, kini diganggu suara menggelegar dari bar-bar terbuka di Batu Bolong maupun di Brawa.

"Hampir setiap malam dalam seminggu, setiap minggu, setiap bulan, sebelum maupun kini setelah pandemi, membuat manusia tidak mungkin beristirahat tidur di malam hari, di jam-jam normal seperti di atas jam 22, karena suara menggelegar dari bar-bar terbuka yang bersebelahan dengan pura-pura suci Bali, hingga membuat kaca-kaca jendela dan pintu bergetar. Lebih parah daripada gempa bumi," tulis petisi tersebut.

  • KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved