Harga Minyak Anjlok karena Kekhawatiran Penurunan Permintaan dan Penguatan Dolar AS

Harga minyak mentah berjangka Brent turun 23 sen atau 0,2 persen, menuju ke level 93,87 dolar AS per barel pada pukul 06:36 GMT. 

dok. Sucofindo
Harga minyak mentah berjangka Brent turun 23 sen atau 0,2 persen, menuju ke level 93,87 dolar AS per barel pada pukul 06:36 GMT pada hari ini, Kamis 14 September 2022. 

 Laporan Wartawan Tribunnews, Nur Febriana Trinugraheni

 
TRIBUNNEWS.COM, SINGAPURA - Harga minyak mentah hari ini diperdagangkan lebih rendah, Kamis (15/9/2022), menyusul meningkatnya kekhawatiran permintaan pasokan bahan bakar yang lemah dan penguatan nilai dolar AS.

Dikutip dari Reuters, harga minyak mentah berjangka Brent turun 23 sen atau 0,2 persen, menuju ke level 93,87 dolar AS per barel pada pukul 06:36 GMT. 

Sementara harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS jatuh 9 sen atau 0,1 persen, menjadi 88,39 dolar AS per barel.

Data yang dirilis Administrasi Informasi Energi AS menunjukkan persediaan minyak mentah dan sulingan AS naik lebih tinggi dari yang diperkirakan sebelumnya, menunjukkan permintaan bahan bakar yang lemah sehingga membatasi kenaikan harga minyak.

Dolar AS yang lebih kuat juga mempengaruhi permintaan minyak, karena komoditas berdenominasi dolar AS termasuk minyak mentah menjadi lebih mahal bagi konsumen yang memegang mata uang lainnya. Indeks dolar AS dilaporkan naik 0,2 persen hari ini.

Sementara itu, ekspektasi kenaikan suku bunga AS akan terus mengaburkan pasar dan membatasi rebound harga minyak, kata analis dari perusahaan layanan konsultasi investasi Haitong Futures.

Namun pemogokan kereta api di AS karena adanya perselisihan antara perusahaan kereta api dan serikat pekerja, dapat menambah dukungan ke pasar bahan bakar.

Tiga serikat pekerja dilaporkan sedang bernegosiasi untuk kontrak baru yang dapat mempengaruhi pengiriman barang melalui kereta api.

Baca juga: Dibayangi Pemangkasan Pasokan OPEC+, Harga Minyak Mentah Melonjak Lebih dari 3 Persen

Negosiasi itu akan sangat penting untuk pengiriman berbagai produk termasuk minyak mentah.

"Harga minyak telah menentukan harga dalam resesi global, tetapi bahkan dengan pertumbuhan global yang datar, permintaan minyak akan tetap cukup kuat dibandingkan dengan kekhawatiran pasokan yang berkelanjutan," kata kepala ekonom di ACY Securities, Clifford Bennett.

Bennett menambahkan, pasar bahan bakar akhir-akhir ini memfokuskan diri pada permintaan energi, dengan memperkirakan penurunan permintaan yang terlalu besar, sementara mereka melupakan masalah ketersediaan pasokan bahan bakar.

Baca juga: Harga Minyak Mentah Mengalami Tekanan, Sepekan Anjlok 1,5 Persen di Tengah Ancaman Resesi

Badan Energi Internasional (IEA) pada Rabu (18/9/2022) kemarin mengharapkan peralihan luas dari gas ke minyak, dengan memperkirakan permintaan minyak tambahan rata-rata mencapai 700.000 barel per hari pada Oktober 2022 hingga Maret 2023.

Angka tersebut merupakan dua kali lipat dari permintaan minyak pada tahun lalu. IEA juga memproyeksikan pertumbuhan pasokan yang lemah, yang dapat membantu mendorong pasar bahan bakar.

Sementara perusahaan minyak bumi Prancis TotalEnergies SE memangkas produksi minyak 238.000 barel per hari di Port Arthur, Texas, karena rencana penutupan dua unit pemulihan belerang (SRU), menurut sumber yang mengetahui masalah tersebut.

KOMENTAR

BERITA TERKINI

Tribun JualBeli
© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved