India Larang Ekspor Beras, Inflasi Pangan Bisa Meroket, Waspadai Dampaknya ke Indonesia

Pemerintah India melarang ekspor beras dan mengenakan pajak ekspor sebesar 20 persen untuk beberapa jenis beras, berlaku mulai 9 September 2022.

Editor: Choirul Arifin
India Today/ANI Photo
Petani wanita di India menyiapkan bibit tanaman padi di Jalandhar, 11 Juni 2022. 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Yanuar Riezqi Yovanda 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pemerintah India melarang ekspor beras dan mengenakan pajak ekspor sebesar 20 persen untuk beberapa jenis beras yang berlaku mulai 9 September lalu. 

Larangan ini dikhawatirkan akan semakin memicu krisis panangan global yang dampaknya bisa berimbas ke Indonesia.

"Profil India sebagai produsen utama beras global yang berkontribusi sebesar 40 persen beras global ke level dari 150 negara," ujar Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus dalam laporan riset hariannya, Rabu (21/9/2022). 

Pada 2021 saja, ekspor beras India mencapai 21,5 juta ton atau porsinya 53 persen yang melebihi empat eksportir biji-bijian terbesar yakni Thailand, Vietnam, Pakistan dan AS. 

Tren proteksionisme tersebut memang untuk mengendalikan harga domestik yang sedang tinggi imbas pasokannya mengalami penurunan. 

Terpantau tren produksi beras India telah mengalami penurunan hingga 5,6 persen secara tahunan dengan adanya curah hujan musim monsum di bawah rata-ratayang mempengaruhi aktivitas panen. 

Nico Demus mengatakan, kebijakan Pemerintah India ini menunjukkan tren proteksionisme berlanjut untuk komoditas unggulan beras.

Baca juga: Wapres Minta Pengusaha Tak Ekspor Beras & Minyak Goreng Jika Kebutuhan Dalam Negeri Belum Mencukupi

Dalam laporan yang dikeluarkan India, bahwa India berpotensi memperoleh penurunan produksi beras di 2022 menjadi 125 juta ton dibanding estimasi yang mencapai 129 juta ton. 

Sementara, Indonesia sendiri masuk dalam jajaran negara pengimpor beras di mana pada 2021 total yang diimpor sebesar 407,74 ribu ton. 

"Jumlah tersebut mengalami kenaikan sebesar 356,28 ribu ton. Dari jumlah tersebut, jumlah yang diimpor dari India sebesar 215,38 ribu ton atau dengan porsi 53 persen, dari Thailand sebesar 69,36 ribu ton atau 17 persen dari porsi ekspor, dari Vietnam sebesar 65,69 ribu ton dengan porsi 16 persen, dan dari Pakistan sebesar 52,47 ribu ton beras dengan porsi 13 persen," kata Nico. 

Baca juga: Stok Stabil, Bulog Sebut Indonesia Berpeluang untuk Ekspor Beras

Meski secara volume impor beras mengalami kenaikan, namun nilainya mengalami penurunan sebesar 195,40 miliar dolar AS menjadi 183,80 miliar dolar AS pada 2021. 

"Hal tersebut memberikan ekspektasi bahwa adanya penurunan volume impor pada 2022. Sesuatu yang juga kami lihat dapat memicu inflasi pangan," tuturnya. 

Nomura turut melaporkan, Indonesia berpotensi terdampak kebijakan tersebut mengingat sekitar 2,1 persen pasokannya berasal dari India. 

Baca juga: Negara Didera Krisis, Sri Lanka Tidak Impor Beras: Stok Cukup Sampai Desember

Nico menambahkan, dengan aksi proteksionisme tersebut, produsen utama setelah India berpotensi diuntungkan dengan adanya pengalihan demand. 

"Apabila inflasi pangan meningkat yang mana kontribusinya sebesar 15 persen terhadap CPI, maka situasi tersebut turut memberikan tekanan terhadap BI dalam menentukan keputusan kebijakan moneternya," pungkas Nico.

KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved