Harga Minyak Melonjak Saat Rebound Permintaan China dan Kekhawatiran Pasokan Energi Rusia

Harga minyak mentah berjangka Brent ditutup di level 90,46 dolar AS, setelah naik 63 sen atau 0,7 persen.

Rostock Port
Harga minyak mentah berjangka Brent ditutup di level 90,46 dolar AS, setelah naik 63 sen atau 0,7 persen, Jumat 23 September 2022. 

Permintaan minyak mentah di China, importir utama minyak mentah dunia, mengalami rebound, setelah pembatasan Covid-19 meredam permintaan.

Berbicara mengenai kebijakan moneter, Bank of England menaikkan suku bunga utamanya sebesar 50 basis poin menjadi 2,25 persen dan mengatakan akan terus "merespons dengan kuat, seperlunya" terhadap inflasi.

Kenaikan tersebut dinilai "kurang dari harga pasar dan menentang beberapa ekspektasi bahwa pembuat kebijakan Inggris mungkin dipaksa ke langkah yang lebih besar," kata bank ING.

Namun di saat bank sentral di seluruh dunia memperketat kebijakan moneternya, kabar tidak terduga datang dari Turki, setelah bank sentralnya memangkas suku bunga sebesar 100 basis poin.

Baca juga: Harga Minyak Anjlok karena Kekhawatiran Penurunan Permintaan dan Penguatan Dolar AS

Menyusul kenaikan besar-besaran suku bunga Federal Reserve AS (The Fed) sebesar 75 basis poin pada Rabu (21/9/2022) lalu, kenaikan suku bunga juga datang dari Bank Nasional Swiss, Bank Norges (Norwegia), Bank Indonesia, dan Bank Cadangan Afrika Selatan.

Kenaikan suku bunga untuk mengendalikan inflasi telah membebani ekuitas, yang bergerak seiring dengan harga minyak. Selain itu, dapat mengekang kegiatan ekonomi dan permintaan bahan bakar.

"Ini menunjukkan betapa sinkronnya siklus pengetatan saat ini," kata Deutsche Bank.

KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved