Kebutuhan Pasar Tinggi, Panenan Vanili Kering Kualitas Ekspor Tembus Rp 3 Juta Per Kilogram

Potensi pengembangan budidaya dan pasar vanili sangat menjanjikan karena kebutuhan dunia cukup besar.

Editor: Choirul Arifin
Indonesia.go.id/Eri Sutrisno
Budidaya tanaman vanili oleh Musa Dimar, warga Kampung Sota, Kabupaten Merauke, Papua. 

Laporan Wartawan Tribunnews, Willy Widianto 
 
 
 
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Budidaya tanaman vanili atau biasa disebut 'emas hijau' kini sedang banyak diperbincangkan karena mulai banyak generasi muda mulai mengembangkan bisnis tersebut karena menguntungkan.

Plt. Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan Kementerian Pertanian(Kementan), Baginda Siagian mengatakan potensi pengembangan budidaya dan pasar vanili sangat menjanjikan karena kebutuhan dunia cukup besar.

Bbisa mencapai 8-10 ribu ton/tahun tetapi produksi terbatas, hanya 5-6 ribu ton/tahun.

"Saat ini hanya Indonesia, Madagaskar, PNG, Meksiko dan China yang merupakan 5 besar produsen vanili dunia," ujar Baginda, Jumat (23/9/2022).

Tantangan lain adalah industrialisasi produk di Indonesia yang belum berkembang luas walaupun potensi daerah penghasil vanili cukup banyak, NTT salah satu unggulan vanili Indonesia.

Ke depan lanjutnya solusi kemitraan produksi dan ekspor bisa menjadi solusi berkembangnya hilirisasi vanili di Indonesia dan Ditjen.

"Perkebunan akan berada di scope tersebut untuk mendukung hilirisasi yang berkelanjutan," ujarnya.

Direktur Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian Andi Nur Alam Syah mengatakan saat ini dari komoditas perkebunan unggulan lainnya yang harga raw material-nya saja sudah tinggi adalah vanili, kisaran basah mencapai 300-800 ribu/ kg.

Baca juga: Bamsoet Apresiasi Menteri Pertanian Canangkan Salatiga Sebagai Kota Vanili

Harga vanilI kering kualitas ekspor bisa mencapai diatas 3 juta/kg. Potensi ini yang perlu digarap bersama, dimulai dari hulu serta perlu dilakukan penataan kebun, juga aspek keamanan kebun yang menjadi titik sentral, dari sisi mutu dan pascapanen harus diperbaiki.

"Vanili Indonesia tidak perlu energi besar untuk mencari buyer, hanya perlu sedikit sentuhan branding, maka laku terjual dan biasanya continue karena buyer tahu vanili Indonesia berkualitas di atas 2,75 persen kadarnya, bahkan vanili lor bisa mencapai di atas 3 persen," ujarnya.

Baca juga: Bea Cukai Jayapura Terima Pajak Impor Vanili Papua New Guinea Rp2,4 Miliar

Karena itu pihaknya mendukung kemitraan ekspor yang harus digali potensi-potensi petani milenial di tiap sentra produksi.

"Dari para petani milenial tersebut, produksi vanili Indonesia mampu menguasai 80% lebih pasar vanili dunia. Ini harapan saya," kata Andi.

KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved