Breaking News:

Cerita Petani Lebak Sulit Dapatkan Lahan Bercocok Tanam di Tanah Kelahirannya Sendiri

Sangsang adalah satu dari sekian petani yang ikut turun dalam aksi petani dan buruh di kawasan Patung Kuda, Jakarta Pusat, Sabtu (24/9/2022).

Editor: Choirul Arifin
Tribunnews/Nitis Hawaroh
Sangsang (50), petani warga Desa Cibungur RT/08 Kecamatan Cigemblong, Kabupaten Lebak, Banten, mengeluhkan sulitnya mendapatkan lahan untuk bertani. 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Nitis Hawaroh

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Petani yang mulai renta bernama Sangsang (50) mengeluhkan sulitnya mendapatkan lahan untuk bertani di tanah kelahirannya sendiri di Desa Cibungur RT/08 Kecamatan Cigemblong, Kabupaten Lebak, Banten.

Sangsang adalah satu dari sekian petani yang ikut turun dalam aksi petani dan buruh di kawasan Patung Kuda, Jakarta Pusat, Sabtu (24/9/2022).

Bertepatan dengan Hari Tani Nasional, Sangsang bersama 33 orang lainnya tiba di Patung Kuda, Jakarta Pusat untuk menyampaikan aspirasinya sejak pukul 07.00 WIB. 

Dia mengatakan, masyarakat Desa Cibungur sulit mendapatkan pekerjaan lantaran lahan di daerahnya sudah dikuasai perusahaan swasta.

"Masyarakat juga enggak bisa bekerja sebagai petani. Karena lahannya diambil oleh perusahaan," kata Sangsang saat ditemui di lokasi aksi demo.

Dia dan masyarakat Desa Cibungur meminta pemerintah untuk membuat kebijakan lahan agar dikembalikan semestinya kepada warga sekitar.

"Kita minta pemerintah untuk membuat kebijakan lahan. Agar dikembalikan ke masyarakat oleh pemerintah, bukan ke perusahaan swasta," ujar Sangsang.

Baca juga: Tiga Tuntutan Buruh ke Jokowi di Hari Tani Nasional 2022

Dia membeberkan, selama kurun waktu 20 tahun lamanya, masyarakat tidak bisa bercocok tanam. Mereka kerap kali menjadi kuli harian yang hanya diupah Rp 50 ribu sehari.

"Kalau ada (kerjaan), jadi kuli dibayar Rp 50 ribu. Tapi kebanyakan nggak ada (kerjaan) kebanyakan nganggur," ucapnya.

Untuk menghidupi kebutuhan hariannya, Sangsang menanam padi dan singkong di lahan kecil miliknya. Ia juga mengatakan, sekali panen mendapat 4 kwintal padi yang dijual Rp 400 ribu per kwintalnya.

"Cuma nanam padi. Sekali panen dapat 3 karung, setahun dua kali panen. Harga satu kwintal padi 400 ribu," tambahnya.

Baca juga: Buruh dan Tani Kompak Menolak Kenaikan Harga BBM

Hal serupa dirasakan Dadang (45) tahun, ia mengatakan masyarakat Desa Cibungur sudah tidak bisa menggarap lahan untuk menghidupi kebutuhannya.

Dia ia sengaja datang ke Jakarta untuk menyampaikan aspirasi masyarakat Desa Cibungur.

"Saya ke Jakarta untuk mengambil tanah untuk masyarakat lagi, kalo bisa. Kalau bisa di perjuangkan," ujar pria yang memiliki dua anak.

Baca juga: Pikul Pisang Hasil Panen, Massa Aksi Hari Tani Nasional Joget Diiringi Musik di Patung Kuda

Dadang berharap, pemerintah bisa memberikan kebijakan pada petani Desa Cibungur, agar bisa memperoleh hak lahan bagi masyarakat.

"Tanah kembali ke masyarakat lagi. Tapi kalau permintaan masyarakat ga melanggar hukum, mau bertani lagi seperti dulu. Kalau permintaan masyarakat melanggar hukum gamau saya," kata dia.

KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved