Resesi Dunia

Bos IMF: Prospek Ekonomi Makin Gelap di Tengah Meningkatnya Ancaman Resesi Global

IMF meminta para pembuat kebijakan global agar mengambil tindakan guna menekan risiko resesi ekonomi global.

Wikipedia
Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva. 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Mikael Dafit Adi Prasetyo

TRIBUNNEWS.COM, WASHINGTON – Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF) Kristalina Georgieva meminta para pembuat kebijakan global agar mengambil tindakan guna menekan risiko resesi ekonomi global.

Dalam pidatonya menjelang pertemuan tahunan IMF pekan depan, Georgieva mengatakan bahwa sangat penting untuk menstabilkan ekonomi global dengan mengatasi tantangan yang paling mendesak, termasuk inflasi yang merajalela.

Dia juga memperingatkan bahwa proses tersebut tidak akan mudah dan mengakui jika bank sentral bergerak terlalu agresif untuk menekan harga, yang bisa memicu penurunan ekonomi "berkepanjangan".

Para menteri keuangan dan gubernur bank sentral dari lebih dari 180 negara akan berkumpul minggu depan di Washington untuk pertemuan langsung pertama Dana Moneter Internasional dan Bank Dunia sejak 2019, sebelum pandemi Covid-19.

Dilansir dari Channel News Asia, Jumat (7/10/2022) pertemuan tersebut datang ketika dunia sedang menghadapi krisis ekonomi, dengan sebagian besar pandemi terkendali, tetapi melonjaknya harga dan kenaikan suku bunga diyakini akan menghambat pemulihan.

Baca juga: Daftar Negara yang Terancam Resesi 2023, Ada Amerika Serikat hingga Rusia

Namun, direktur pelaksana IMF mengatakan terlalu dini bagi bank sentral untuk mundur dalam pertempuran melawan inflasi yang telah mencapai level tertinggi dalam empat dekade.

“Saya melihat adanya prospek gelap untuk ekonomi global, dengan risiko resesi yang meningkat," kata Georgieva dalam pidatonya, mencatat bahwa sepertiga negara diperkirakan akan mengalami setidaknya dua perempat kontraksi.

Baca juga: Indonesia Dihantui Resesi Ekonomi Global, Kadin: Perusahaan Kelas Kakap hingga UMKM Rentan Terdampak

"Bahkan ketika pertumbuhan positif, itu akan terasa seperti resesi karena kenaikan harga mengikis pendapatan,” tambahnya.

IMF kembali menurunkan prediksi pertumbuhan ekonomi global untuk 2023 mendatang, dalam laporan yang akan diterbitkan pekan depan dalam pertemuan tahunannya.

IMF Ingatkan Dampak Pengetatan Kebijakan Moneter

Georgieva juga menekankan perlunya kebijakan fiskal untuk membantu segmen masyarakat yang paling rentan, dengan fokus pada rumah tangga berpenghasilan rendah untuk menghindari tindakan melawan kebijakan moneter saat ini.

Dia memperingatkan masyarakat agar tidak mengandalkan kontrol harga yang tidak terjangkau dan tidak efektif.

Pandemi telah memaksa banyak negara untuk mengambil lebih banyak pinjaman, dan sekarang banyak yang sudah menghadapi atau berisiko mengalami kesulitan membayar utang di tengah kenaikan suku bunga.

Hal itu dapat meningkatkan risiko krisis utang yang meluas dan selanjutnya dapat membahayakan pertumbuhan global.

KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved