Resesi Dunia

CEO JPMorgan Peringatkan Resesi Global Akan Tiba Pertengahan Tahun 2023

CEO bank investasi JPMorgan Chase Jamie Dimon mengatakan resesi pada ekonomi global dan Amerika Serikat (AS) kemungkinan akan terjadi

Freepik
Ilustrasi Resesi. CEO bank investasi JPMorgan Chase Jamie Dimon mengatakan resesi pada ekonomi global dan Amerika Serikat (AS) kemungkinan akan terjadi pada pertengahan tahun 2023 

Laporan Wartawan Tribunnews, Nur Febriana Trinugraheni

TRIBUNNEWS.COM, NEW YORK - CEO bank investasi JPMorgan Chase Jamie Dimon mengatakan resesi pada ekonomi global dan Amerika Serikat (AS) kemungkinan akan terjadi pada pertengahan tahun 2023.

Kenaikan inflasi baik di AS maupun negara-negara lainnya, suku bunga yang naik melebihi ekspektasi, dan perang Rusia-Ukraina dianggap sebagai faktor yang dapat memicu resesi, menurut CEO bank investasi yang berbasis di AS ini.

"Ini adalah hal-hal yang sangat, sangat serius yang menurut saya kemungkinan akan mendorong AS dan dunia - maksud saya, Eropa sudah dalam resesi - dan mereka kemungkinan akan menempatkan AS dalam semacam resesi enam hingga sembilan bulan dari sekarang,” kata Dimon, yang dikutip dari Anadolu Agency.

Baca juga: Sejumlah Tokoh Ekonomi Dunia Ungkap Resesi Global akan Segera Tiba, Begini Proyeksinya

Banyak bank sentral di seluruh dunia, termasuk Federal Reserve AS (The Fed), telah menaikkan suku bunga secara agresif untuk memerangi inflasi. Dimon mengatakan The Fed "menunggu terlalu lama dan melakukannya terlalu sedikit" karena inflasi di AS naik ke level tertinggi dalam lebih dari 40 tahun terakhir.

Meskipun The Fed dan Ketuanya Jerome Powell telah berulang kali mengatakan pada kuartal terakhir tahun 2021 bahwa inflasi bersifat "sementara", namun anggota Komite Pasar Terbuka Federal AS (FOMC) dengan cepat berubah dari nada dovish ke sikap hawkish ketika perang di Ukraina mendorong kenaikan harga pangan dan energi serta meningkatnya tekanan inflasi.

Namun Dimon mengatakan dia tidak yakin berapa lama resesi AS akan berlangsung.

"Ini bisa berubah dari sangat ringan hingga cukup keras dan banyak yang akan bergantung pada apa yang terjadi dengan perang ini. Jadi, saya kira menebak itu sulit, bersiaplah," katanya.

Komentar Dimon muncul saat bank-bank AS akan melaporkan pendapatan di kuartal ketiga tahun ini mulai Jumat (14/10/2022) besok. Sejauh tahun ini, indeks S&P 500 telah kehilangan sekitar 24 persen, dengan ketiga indeks utama AS diperdagangkan di wilayah bear market, menurut laporan Reuters.

Dimon mengatakan indeks S&P 500 bisa turun "20 persen lagi" dari level saat ini, dengan penurunan 20 persen berikutnya akan "jauh lebih menyakitkan daripada yang pertama".

Awal tahun ini Dimon telah meminta investor untuk bersiap menghadapi "badai" ekonomi, dengan JPMorgan, bank investasi terbesar AS, menangguhkan pembelian kembali saham pada bulan Juli setelah melesat dari ekspektasi kuartalan Wall Street.

Baca juga: Bos IMF: Prospek Ekonomi Makin Gelap di Tengah Meningkatnya Ancaman Resesi Global

Pada bulan Juni lalu, bank investasi AS yang dipimpin David M. Solomon, Goldman Sachs memperkirakan 30 persen kemungkinan ekonomi AS menuju resesi pada tahun 2023, sementara Morgan Stanley menempatkan kemungkinan resesi untuk 12 bulan ke depan sekitar 35 persen.

Presiden Bank Dunia David Malpass dan Direktur Pelaksanaan Dana Moneter Internasional (IMF) Kristalina Georgieva juga memperingatkan mengenai meningkatnya risiko resesi global dan mengatakan inflasi tetap menjadi masalah setelah invasi Rusia ke Ukraina.

  • KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved