The Fed Kerek Suku Bunga Sebesar 75 Basis Poin, Analis: Berikan Tekanan ke IHSG dan Pasar Obligasi

Imbal hasil AS Treasury mulai dari yang bertenor pendek hingga bertenor panjang, semuanya berada di kisaran 4 persen, dan berpotensi meningkat.

TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
Pengunjung melintasi papan elektronik yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta. 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Yanuar Riezqi Yovanda

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Bank Sentral Amerika Serikat (AS) atau The Fed kembali menaikkan tingkat suku bunganya sebanyak 75 basis poin (bps) untuk dapat mengendalikan inflasi.

Alih-alih melambatkan kenaikkan tingkat suku bunganya, justru Gubernur The Fed Jerome Powell mengatakan ada kemungkinan kenaikkan tingkat suku bunga akan jauh lebih tinggi dari proyeksi sebelumnya, meskipun besaran kenaikkan di setiap pertemuan dapat dikatakan akan jauh lebih kecil.

"Hal ini berarti menandakan bahwa Powell tampaknya ingin tetap berada di jalur kenaikkan tingkat suku bunga, namun di fase kedua tahun depan," ujar Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus dalam risetnya, Kamis (3/11/2022).

Menurutnya, Powell tampaknya ingin kenaikkan tingkat suku bunga tersebut dapat lebih kecil meskipun sering dilakukan.

Baca juga: The Fed Kerek Suku Bunga Acuan Sebesar 75 Basis Poin ke Level 4 Persen, Tertinggi Sejak 2008

"Kemudian, Powell tidak menakut nakuti nih pemirsa, karena Powell mengatakan kemarin bahwa berdasarkan data yang ada pada pertemuan terakhir The Fed, melihat bahwa tingkat suku bunga akan naik lebih tinggi dari yang bisa di proyeksikan sebelumnya," katanya.

Hal ini tentu saja telah membuat market menjadi goyang, Dow Jones langsung turun 1,55 persen, begitupun dengan indeks saham Eropa yang mengalami penurunan karena pasar kecewa tampaknya dengan pernyataan The Fed.

Adapun sejauh ini, imbal hasil AS Treasury mulai dari yang bertenor pendek hingga bertenor panjang, semuanya berada di kisaran 4 persen, dan berpotensi untuk mengalami peningkatan.

"Oleh sebab itu kami melihat akan ada tekanan baik dari sisi IHSG dan pasar obligasi kita pada hari ini. Lantas apakah The Fed pernah memikirkan untuk dapat melambatkan laju kenaikkan tingkat suku bunga? Sejauh ini, Powell mengatakan bahwa akan menyampaikan potensi tersebut pada pertemuan berikutnya atau setelah pertemuan berikutnya," tutur Nico.

Di mana hal tersebut memberikan gambaran bahwa The Fed akan mencermati kemungkinan yang ada setelah pertemuan terakhir mereka yang akan terjadi pada bulan Desember mendatang.

"Sejauh ini menurut Powell belum ada keputusan yang dibuat, karena The Fed masih memiliki banyak cara untuk dapat dilakukan sebelum inflasi semakin tinggi. Oleh sebab itu, Powell mengatakan terlalu awal untuk mengatakan ada jeda untuk menaikkan tingkat suku bunganya," pungkasnya.

  • KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved