Potensi LST Indonesia dan Tantangan Korporasi Menuju Netralitas Karbon

Pemerintah Indonesia telah menetapkan Nationally Determined Contribution (NDC) untuk menurunkan emisi gas rumah kaca sebesar 31% pada tahun 2030.

Editor: BizzInsight
HSBC
Indonesia sangat menyadari kebutuhan untuk mempercepat investasi dalam lingkup LST (lingkungan, sosial, tata kelola) – terutama yang berkaitan dengan kelestarian lingkungan. 

TRIBUNNEWS.COM - Pertemuan COP 26 pada tahun 2021 menjadi tonggak penting bagi negara-negara di dunia untuk tak hanya menurunkan emisi karbon, melainkan melakukan langkah-langkah percepatan pengurangan emisi gas rumah kaca. 

Pemerintah Indonesia telah menetapkan Nationally Determined Contribution (NDC) untuk menurunkan emisi gas rumah kaca sebesar 31 persen pada tahun 2030. Pengurangan tersebut bisa didorong hingga 41% dengan dukungan dari negara-negara maju.

Korporasi kini menghadapi pengawasan yang lebih ketat terkait praktik keberlanjutan, baik dari pemerintah, pihak regulator, investor, maupun dari sisi pelanggan dan konsumen. 

Kami berkesempatan berbincang dengan Amanda Murphy, Head of Commercial Banking South and Southeast Asia, HSBC, untuk membahas potensi serta tantangan usaha yang berkelanjutan di Indonesia. Berikut kutipan perbincangan yang telah disunting:

T: Bagaimana perspektif Anda tentang upaya global menuju keberlanjutan di tengah krisis iklim saat ini?

AM: Kami sangat meyakini bahwa perubahan iklim merupakan penentu abad ini. Banyak negara menghadapi ancaman dari kenaikan permukaan laut, bencana alam, dan degradasi lingkungan. 

Secara geografis, Indonesia berada di wilayah yang sangat rentan terhadap dampak perubahan iklim. Anda di negara ini sangat menyadari kebutuhan untuk mempercepat investasi dalam lingkup LST (lingkungan, sosial, tata kelola) – terutama yang berkaitan dengan kelestarian lingkungan. Kami melihat sebuah urgensi untuk mempercepat transisi menuju ketahanan iklim.

T: Beberapa perusahaan di Indonesia telah menunjukkan komitmen mereka untuk bertransisi ke net zero, namun lebih banyak lagi yang masih berjibaku menghadapi tuntutan praktik usaha berkelanjutan. Bagaimana Anda memfasilitasi nasabah yang bisnisnya berbasis di Indonesia?

AM: Kami memulai dengan mendengarkan nasabah kami di Indonesia, mencoba memahami masalah yang mereka hadapi – masalah mereka akan berbeda dari nasabah kami di Inggris, AS, atau negara lain – dan kemudian membantu membangun rencana transisi mereka. 

Batas waktu untuk mencapai Net Zero adalah tahun 2050 ataupun lebih cepat, namun bukan Net Zero pada tahun ini. 

Saya melihat komitmen kuat dari banyak perusahaan untuk mengurangi emisi. Pembiayaan berkelanjutan di kawasan Asia Tenggara tumbuh dengan pesat menunjukkan bukti nyata komitmen tersebut.

Salah satu temuan menarik dalam survey HSBC Navigator: SEA in Focus yakni satu dari lima korporasi berniat untuk menginvestasikan lebih dari 10% laba operasional mereka untuk meningkatkan praktik keberlanjutan. 

T: Apa yang Anda lihat sebagai tantangan utama bagi dunia usaha dalam menerapkan praktik keberlanjutan?

AM: Hambatan utama di kawasan Asia Tenggara adalah minimnya tenaga kerja dengan keahlian pada aspek keberlanjutan. Hal ini umum terjadi di seluruh kawasan, termasuk di Indonesia.

Sebagai bank internasional, kami dapat berbagi keahlian dan pembelajaran tentang LST dan reduksi karbon dengan para nasabah kami.

Kami telah mengembangkan solusi pembiayaan berkelanjutan yang inovatif guna mendukung transisi para nasabah kami ke net zero, mempercepat inovasi untuk meningkatkan skala keekonomian dari solusi perubahan iklim, dan membangun kemitraan untuk memastikan investasi disalurkan ke proyek yang benar-benar berkelanjutan; semua dalam konteks membantu nasabah kami dalam mengelola risiko transisi usaha mereka.

T: Spesifik tentang Indonesia, sektor apa yang menurut Anda paling potensial untuk investasi LST?

AM: Yang jelas berpotensi adalah sektor energi seperti panas bumi dan energi terbarukan lainnya, sektor pertanian dan akuakultur untuk keberlanjutan pasokan pangan, sektor kehutanan, sektor perkebunan, serta industri manufaktur. 

Namun, yang lebih penting bukanlah sektornya, melainkan bagaimana memperbaiki rantai pasok agar lebih berkelanjutan. Rantai pasok menyumbang 80% dari emisi karbon bumi ini – menciptakan jaringan produksi yang berkelanjutan adalah salah satu pengungkit terpenting bagi perbankan dan dunia usaha dalam transisi menuju net zero.

HSBC ingin mendorong semua pelaku usaha yang berkelindan dalam rantai pasok agar fokus pada praktik keberlanjutan, karena kami telah melihat bagaimana hal tersebut akan memicu inovasi dan menghasilkan nilai tambah.

Untuk informasi lebih lanjut tentang beragam produk dan solusi keuangan keberlanjutan dari HSBC, kunjungi: https://www.business.hsbc.co.id/id-id/campaigns/sustainable-finance

KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2023 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved