Keuntungan Industri China Merosot 3 Persen Imbas Kebijakan Pembatasan Covid-19

laba industri China turun 3 persen dalam 10 bulan pertama tahun ini. Sebelumnya, pada periode Januari hingga September laba industri turun 2,3 persen.

Apple Inside
Ilustrasi pekerja pabrik di China. Perusahaan industri di China mengalami penurunan keuntungan pada periode Januari sampai Oktober karena kasus Covid-19 yang merebak dan pemerintah setempat memberlakukan pembatasan baru sehingga meredam aktivitas ekonomi. 

Laporan Wartawan Tribunnews, Nur Febriana Trinugraheni
 
TRIBUNNEWS.COM, BEIJING - Perusahaan industri di China mengalami penurunan keuntungan pada periode Januari sampai Oktober karena kasus Covid-19 yang merebak dan pemerintah setempat memberlakukan pembatasan baru sehingga meredam aktivitas ekonomi.

Menurut data dari Biro Statistik Nasional China yang diterbitkan hari ini, Minggu (27/11/2022), laba industri turun 3 persen dalam 10 bulan pertama tahun ini. Sebelumnya, pada periode Januari hingga September laba industri turun 2,3 persen.

Keuntungan menurun untuk 22 dari 41 sektor industri utama di China.

Baca juga: Shanghai Dilanda Protes saat Kemarahan atas Kebijakan Nol-Covid yang Menyebar ke Seluruh China

"Wabah epidemi domestik baru-baru ini sering terjadi, risiko resesi ekonomi global semakin meningkat, dan perusahaan industri menghadapi tekanan yang lebih besar," kata Biro Statistik Nasional China, yang dikutip dari Reuters.

Data suram untuk ekonomi terbesar kedua di dunia juga mencerminkan krisis pembayaran utang dalam sektor properti China dan perlambatan tajam dalam belanja konsumen.

Sejak Oktober, wabah Covid-19 semakin meningkat dan kemarahan publik juga meningkat atas kebijakan keras nol-Covid yang telah memicu protes penduduk negara itu selama akhir pekan ini. China pada hari ini melaporkan rekor kasus harian Covid-19 keempat berturut-turut.

Keuntungan produsen turun 13,4 persen pada sepuluh bulan pertama, sedikit lebih rendah dari penurunan 13,2 persen pada periode Januari-September.

"Keuntungan industri terus berada di bawah tekanan karena harga terbebani oleh permintaan domestik yang lemah secara keseluruhan dan biaya input tetap tinggi di beberapa sektor manufaktur," kata analis di China Everbright Bank, Zhou Maohua.

Baca juga: Pabrik Foxconn Terganggu Lockdown China, Warga AS Sulit Dapatkan iPhone Terbaru di Black Friday

Sektor-sektor yang menunjukkan penurunan paling tajam termasuk industri pengolahan minyak bumi, batu bara dan bahan bakar yang mengalami penurunan laba sebesar 70,9 persen.  

Sementara di sembilan bulan pertama tahun ini, sektor-sektor tersebut mengalami penurunan 67,7 persen.

Beberapa sektor yang mengalami pertumbuhan laba yang kuat melihat laju pertumbuhan melambat secara signifikan.

Di sektor pertambangan, laba tumbuh 60,4 persen, dibandingkan dengan kenaikan 76 persen selama sembilan bulan pertama.

Bulan lalu, output industri China melonjak 5 persen dari tahun sebelumnya, meleset dari ekspektasi untuk kenaikan 5,2 persen dalam jajak pendapat Reuters dan melambat dari pertumbuhan 6,3 persen pada September.

Data laba industri mencakup perusahaan besar dengan pendapatan tahunan di atas 20 juta yuan dari operasi utama mereka.

Baca juga: China Dilanda Gelombang Protes Massal, Tolak Lockdown yang Diperluas

Beberapa analis sekarang percaya Produk Domestik Bruto (PDB) China dapat berkontraksi pada kuartal saat ini dari kuartal ketiga, dan telah memangkas prakiraan 2023 mereka, memprediksi ekonomi akan melambat dan bergejolak.

Analis dari Nomura memperkirakan PDB China di kuartal keempat menyusut 0,3 persen dari tiga bulan sebelumnya.

Demikian pula dengan analis dari Oxford Economics, yang memangkas perkiraan PDB 2022 dan 2023 China karena mereka yakin akan terjadi perluasan terhadap tindakan lockdown Covid-19.

Untuk menopang ekonomi yang goyah, pihak berwenang di China baru-baru ini meluncurkan serangkaian tindakan, termasuk langkah untuk melonggarkan beberapa pembatasan COVID-19 dan memberikan dukungan finansial ke pasar properti, yang telah menopang sentimen pasar keuangan.

Pada Jumat (25/11/2022), China mengatakan akan memangkas jumlah uang tunai yang harus disimpan bank sebagai cadangan untuk kedua kalinya tahun ini, melepaskan sekitar 500 miliar yuan atau senilai 69,8 miliar dolar AS dalam likuiditas jangka panjang.

  • KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved