Breaking News:

Virus Corona

Aksi Demo Tuntut Pelengseran Xi Jinping, Dorong Pasar Saham Asia ke Zona Merah 

Indeks Hang Seng di Hong Kong turun 1,63 persen memperpanjang kerugian setelah turun 4 persen.

TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
Ilustrasi. Investor khawatir aksi demo di China akan berdampak kepada ekonomi negara hingga akhirnya mereka kompak hengkang dari bursa perdagangan Asia saat kerusuhan terjadi. 

Laporan Wartawan Tribunnews.com Namira Yunia Lestanti

TRIBUNNEWS.COM, BEIJING – Ketegangan China akibat aksi demo jutaan masyarakat yang menuntut pelengseran presiden Xi Jinping, mendorong pasar bursa Asia – Pasifik berjatuhan hingga mencatatkan rapor merah pada penutupan perdagangan Senin (28/11/2022) sore.

Kebijakan lockdown yang diberlakukan presiden China belakangan tak hanya membuat roda masyarakat tersendat, namun juga telah memicu korban jiwa lantaran pasien covid yang terisolasi di apartemen Urumqi Xinjiang tak dapat melarikan diri dari kobaran api kebakaran karena tak diperbolehkan keluar dari area apartemen.

Warga yang diselimuti rasa frustasi atas kebijakan nol-Covid yang diberlakukan Xi Jinping selama 3 tahun termasuk pembatasan lockdown, karantina hingga kampanye pengujian massal lantas mengeluarkan amarah dengan melakukan demonstrasi besar-besaran selama beberapa hari terakhir, dimulai dari Minggu malam (27/11/2022) waktu setempat hingga Senin (28/11/2022).

Baca juga: Aksi Protes Meminta Lockdown Dicabut Meluas, China Perketat Keamanan Seluruh Penjuru Kota

Ratusan warga yang menggelar demo menyalahkan penguncian Covid-19 yang dilakukan Xi Jinping, mereka bahkan menuntut agar Jinping untuk segera lengser karena dianggap gagal memimpin China.

Hal ini yang kemudian membuat investor khawatir apabila ketegangan tersebut akan berdampak kepada ekonomi China, hingga akhirnya mereka kompak hengkang dari bursa perdagangan Asia saat kerusuhan terjadi.

Tercatat selama penutupan di sore ini Indeks Hang Seng di Hong Kong turun 1,63 persen memperpanjang kerugian setelah turun 4 persen pada awal pembukaan pasar di Senin pagi.

Tak hanya itu Indeks Hang Seng Tech juga dilaporkan turun 2,07 persen, seperti yang dikutip dari CNBC International.

Sementara di Cina daratan, saham Shanghai Composite terpantau anjlok 0,75 persen menjadi 3.078,55 diikuti pergerakan bursa saham Komponen Shenzhen yang turun 0,69 persen menjadi 10.829,08.

Rapor merah juga terjadi pada Straits Times Singapura yang turun 0,14 persen ke 3.240,06, dilanjutkan ASX 200 Australia yang terpangkas 0,42 persen ke 7.229,1, KOSPI Korea Selatan merosot 1,21 persen ke 2.408,27, dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang anjlok 0,51 persen menjadi 7.017,36.

“Sentimen telah berubah menjadi masam ketika kerusuhan di seluruh China tumbuh. Protes sejauh ini jarang terjadi di negara ini dan menimbulkan banyak ketidakpastian," kata Stephen Innes dari SPI Asset Management, perusahaan investasi di China.

Berbeda dari yang lainnya pada perdagangan Senin sore, bursa saham India justru mencatatkan kenaikan.

Baca juga: Protes Lockdown dan Nol Covid di China, Demonstran Bawa Kertas Putih untuk Sindir Pemerintah

Di mana indeks Nifty 50, indeks yang dipasarkan di Bursa Efek Nasional India melesat menyentuh 18.611,05, menembus level tertinggi sepanjang masa intraday di 19 Oktober 2021 dimana saat itu hanya dapat dipatok 18.604,45.

Lonjakan serupa turut dialami saham Sensex yang mencapai 62.690,39 di sesi pagi, melampaui level tertinggi dari sesi di awal pekan lalu yang hanya berada di level 62.447,73.

Belum diketahui kapan pasar saham Asia – Pasifik akan berjalan naik ke zona hijau, namun diperkirakan kondisi seperti ini akan terjadi selama beberapa hari kedepan menyusul ketegangan yang ada di China.

  • KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved