Harga Minyak Merosot di Tengah Kekhawatiran Melemahnya Permintaan Pasokan dari China

Harga minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS turun 51 sen atau 0,7 persen, diperdagangkan pada 76,73 dolar AS per barel.

Editor: Seno Tri Sulistiyono
Top 1 Market
Ilustrasi minyak mentah. Harga minyak mentah berjangka Brent turun 45 sen atau 0,5 persen, menjadi 82,74 dolar AS per barel pada pukul 01:13 GMT. Sementara harga minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS turun 51 sen atau 0,7 persen, diperdagangkan pada 76,73 dolar AS per barel. 

Laporan Wartawan Tribunnews, Nur Febriana Trinugraheni

TRIBUNNEWS.COM, TOKYO - Harga minyak dunia jatuh pada awal perdagangan hari ini, Selasa (29/11/2022), menyusul kekhawatiran mengenai lambatnya permintaan bahan bakar dari China yang merupakan importir minyak mentah utama dunia.

Pelemahan permintaan China diiringi dengan pengetatan wilayahnya akibat kembali merebaknya viru Covid-19.

Dikutip dari Reuters, harga minyak mentah berjangka Brent turun 45 sen atau 0,5 persen, menjadi 82,74 dolar AS per barel pada pukul 01:13 GMT. Sementara harga minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS turun 51 sen atau 0,7 persen, diperdagangkan pada 76,73 dolar AS per barel.

Baca juga: Aksi Protes Lockdown di China Picu Kemerosotan Harga Minyak Mentah 2 Dolar Per Barel

Brent menetap naik 0,5 persen pada perdagangan Senin (28/11/2022), setelah merosot lebih dari 3 persen menjadi 80,61 dolar AS di awal sesi perdagangan kemarin, menuju ke level terendah sejak 4 Januari.

Sedangkan WTI AS menetap naik 1,3 persen pada perdagangan kemarin, setelah menyentuh level terendah sejak Desember 2021 di awal sesi perdagangan.

"Suasana bearish terhadap harga minyak menyebar di Asia karena kekhawatiran tentang penurunan permintaan China sementara protes yang jarang terjadi selama akhir pekan juga menimbulkan kekhawatiran atas dampaknya terhadap ekonomi China," kata seorang analis di Fujitomi Securities Co Ltd, Toshitaka Tazawa.

Protes di jalanan yang jarang terjadi telah meletus di kota-kota China selama akhir pekan kemarin, menentang kebijakan nol-COVID Presiden Xi Jinping dan menjadi pembangkangan publik terkuat selama karir politiknya, kata seorang analis China.

Beijing tetap berpegang pada kebijakan nol-COVID meskipun negara-negara lain telah mencabut sebagian besar pembatasan.

Investor juga tetap berhati-hati menjelang pertemuan penting Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya termasuk Rusia, yang dikenal sebagai OPEC+, pada 4 Desember.

Analis di perusahaan konsultasi Eurasia Group memperingatkan dalam sebuah catatan yang diterbitkan pada Senin, bahwa melemahnya

Baca juga: Uni Eropa Tunda Pembicaraan Tentang Batas Harga Minyak Rusia

permintaan dari China dapat memacu OPEC+ untuk memangkas produksi.

"Kerugian terbatas (pada hari Selasa) karena beberapa investor berharap bahwa OPEC dan sekutunya dapat menyepakati pengurangan produksi dalam pertemuan berikutnya untuk mendukung harga minyak," kata Tazawa.

Pasar bahan bakar juga masih memantau dampak dari batas harga pihak Barat yang akan dikenakan pada minyak Rusia.

Para diplomat Group of Seven (G7) dan Uni Eropa telah membahas batas harga minyak Rusia antara 65 dolar AS dan 70 dolar AS per barel, dengan tujuan membatasi pendapatan Moskow yang digunakan untuk mendanai serangan militernya di Ukraina tanpa mengganggu pasar minyak global.

Baca juga: Harga Minyak Naik Tipis di Tengah Perselisihan Batas Harga Minyak Rusia

Namun, pemerintah Uni Eropa pada Senin gagal menyepakati batas harga tersebut, dengan Polandia bersikeras mengatakan batas harga minyak Rusia harus ditetapkan lebih rendah dari yang diusulkan G7, kata para diplomat.

Batas harga akan mulai berlaku pada 5 Desember, ketika larangan UE terhadap minyak mentah Rusia juga mulai berlaku.

  • KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved