Pekan Depan, IMF Akan Kunjungi China Bahas Percepatan Restrukturisasi Utang

IMF bersama dengan Bank Dunia dan pejabat dari negara kelompok tujuh sepakat melontarkan kritik untuk China usai menunda upaya restrukturisasi utang.

Chatham House
Ilustrasi logo IMF. Kepala strategi Dana Moneter Internasional (IMF) Ceyla Pazarbasioglu pada Rabu (30/11/2022) mengatakan bahwa dirinya akan melakukan pertemuan dengan pejabat senior China di Beijing pekan depan untuk membahas restrukturisasi utang bagi negara-negara yang membutuhkan. 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Mikael Dafit Adi Prasetyo

TRIBUNNEWS.COM, SHANGHAI – Kepala strategi Dana Moneter Internasional (IMF) Ceyla Pazarbasioglu pada Rabu (30/11/2022) mengatakan bahwa dirinya akan melakukan pertemuan dengan pejabat senior China di Beijing pekan depan untuk membahas restrukturisasi utang bagi negara-negara yang membutuhkan.

"Sangat penting bahwa kami harus bergerak maju. Kami sedang mengerjakan ini dan tentu saja perjalanan ke China pekan depan adalah sesuatu yang kami nantikan,” katanya, seraya menambahkan bahwa Presiden Xi Jinping sendiri telah menyebutkan kerangka kerja dalam sambutannya pada KTT G20 di Indonesia.

Dikutip dari Channel News Asia, Pazarbasioglu menyambut partisipasi China dalam paket penanganan utang untuk Chad, negara pertama yang menyelesaikan proses di bawah Kerangka Kerja Bersama yang dibentuk pada akhir 2020 oleh Kelompok 20 (G20) dan negara ekonomi utama.

Baca juga: Pulihkan Ekonomi, IMF Minta China Genjot Vaksinasi Covid-19 dan Beri Dukungan di Sektor Properti

“Namun untuk saat ini, semua mata tertuju pada Zambia, yang krediturnya masih menuntaskan solusi penanganan utang,” kata Pazarbasioglu, menggambarkan restrukturisasi utang Zambia yang lebih besar dan lebih rumit sebagai ujian nyata bagi Kerangka Kerja Bersama.

Beberapa waktu lalu, IMF bersama dengan Bank Dunia dan pejabat dari negara kelompok tujuh (G7) sepakat melontarkan kritik untuk China usai menunda upaya merestrukturisasi utang tersebut.

“Sekitar seperempat dari negara berkembang dan 60 persen negara berpenghasilan rendah berada pada atau mendekati tekanan utang," kata IMF sembari mendesak negara-negara untuk mencari bantuan lebih awal daripada menunggu sampai mereka berada dalam krisis besar-besaran.

Di samping itu, Pazarbasioglu mengatakan IMF akan terus mendesak perubahan Kerangka Kerja Bersama, termasuk pembekuan pembayaran utang ketika negara-negara mengajukan perlakuan utang, serta prosedur dan jadwal tindakan yang lebih jelas, dan memastikan perlakuan yang sebanding untuk kreditur swasta.

Adapun, salah satu masalah utamanya adalah bahwa kreditur besar perlu menyusun mekanisme kelembagaan internal untuk menangani utang yang tidak layak dan mempersiapkan pemotongan.

  • KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved