Emiten Importir Buah dan Sayuran Optimistis Hadapi Isu Resesi 2023

Emiten importir buah dan sayuran ini masih meyakini target kenaikan pendapatan sebesar 40 persen akan dicapai pada tahun ini.

Penulis: Reynas Abdila
Editor: Hendra Gunawan
dok. Kementan
Buah segar menjadi salah satu komoditas Indonesia yang dibawa ke Brussel Belgia untuk dipamerkan di event Discover Indonesian Super Foods and Drinks. 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Reynas Abdila

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - PT Segar Kumala Indonesia Tbk. (BUAH) optimistis memasuki kuartal IV-2022 di tengah isu resesi yang mengancam tahun 2023.

Emiten importir buah dan sayuran ini masih meyakini target kenaikan pendapatan sebesar 40 persen akan dicapai pada tahun ini.

Direktur Utama BUAH Renny Lauren mengatakan, Perseroan masih akan tetap melanjutkan ekspansinya untuk membuka cabang baru di Palu, Sulawesi Tengah.

Perseroan pun melihat tren pertumbuhan kinerja masih akan dapat berlangsung hingga tahun depan.

Baca juga: Pemerintah Akan Stop Ekspor Bauksit pada 2023, Ini Respon Industri Pertambangan

“Manajemen BUAH masih optimistis dapat mencapai target penjualan di sepanjang tahun ini. Keyakinan tersebut didukung rencana pembukaan cabang yang dapat menjadi pendongkrak omzet kami di masa mendatang,” kata Renny melalui siaran pers, dikutip Jumat (2/12/2022).

Menurut Renny, konsumsi masyarakat terus meningkat dan masyarakat yang peduli terhadap gaya hidup sehat terus meningkat.

Sejalan dengan hal tersebut, Renny menyebut Perseroan juga telah menyiapkan berbagai strategi dan penyesuaian agar dapat mencapai target di penghujung tahun tersisa.

Direktur BUAH Toni Soegiarto menambahkan Perseroan tentunya tetap mempertimbangkan berbagai kemungkinan pada Kuartal IV/2022 ini.

Isu resesi, menurunnya daya beli masyarakat, kenaikan harga pembelian, dan hal lain yang tentunya akan dan bahkan sedang Perseroan hadapi.

“Manajemen tentunya menyusun skema dan strategi agar tetap dapat mencapai target BUAH kedepannya,” ujarnya.

Baca juga: RI Tingkatkan Ekspor Buah hingga Rempah-Rempah ke Chile

Toni mengungkapkan bahwa isu resesi menjadi salah satu faktor utama, karena daya beli masyarakat cenderung menurun.

Sebelumnya, secara keseluruhan kinerja Perseroan hingga Kuartal III/2022 telah membukukan laba bersih sebesar Rp20 miliar atau turun 21.24 persen dibandingkan laba bersih di periode yang sama tahun lalu.

  • KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved