Sabtu, 6 Juni 2026

Luhut Tanggapi Negara dan Institusi Internasional yang Ragu Terhadap Program Hilirisasi Indonesia

Program atau kebijakan hilirisasi komoditas pertambangan di Indonesia kini tengah mendapat sorotan.

Tayang:
Penulis: Bambang Ismoyo
Editor: Sanusi
Istimewa
Menteri Koordinator bidang Maritim dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan  

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Ismoyo

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Program atau kebijakan hilirisasi komoditas pertambangan di Indonesia kini tengah mendapat sorotan. Ada beberapa pihak yang meragukan program andalan Pemerintah ini.

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan menyebut, justru pihaknya saat melakukan kunjungan kerja ke sejumlah malah memperoleh pujian.

Seperti halnya terjadi pada saat dirinya mendampingi Presiden Joko Widodo ke Australia.

Baca juga: Eks Sesmen BUMN Said Didu Sebut Hilirisasi Pertambangan Hanya Untungkan Pihak Asing

"Meski banyak keraguan dan tantangan yang dialamatkan terhadap program hilirisasi pertambangan Indonesia, nyatanya di setiap kesempatan kunjungan ke beberapa negara mitra dan negara sahabat, program hilirisasi mendapatkan apresiasi dan pujian," ungkap Luhut dalam unggahan di akun media sosial pribadinya dikutip, Minggu (9/7/2023).

Ia mengatakan, mulai dari Perdana Menteri Anthony Albanese sampai Menteri Industri Australia pun mengakui dan melihat bahwa Indonesia sudah sangat maju perekonomiannya karena tetap teguh dan fokus pada program hilirisasi pertambangan.

Selain kunjungan ke Australia, Luhut dan Joko Widodo juga melakukan lawatan ke Papua New Guinea (PNG) untuk membuka peluang kerjasama ekonomi.

Dan sekali lagi, hilirisasi mineral jadi fokus kerjasama bilateral kedua negara, karena PNG juga melihat potensi besar program ini untuk mengentaskan kemiskinan di sana.

Baca juga: Papua Nugini Ingin Melihat Langkah-langkah Hilirisasi Industri yang Dilakukan Indonesia

Untuk itulah, Presiden Joko Widodo dan Prime Minister James Marape sepakat membentuk task force untuk menindaklanjuti hal ini.

Luhut mengungkapkan, mungkin di mata negara-negara maju dan institusi internasional, program hilirisasi mineral Indonesia tidak berarti apa-apa.

"Tetapi bagi saya, inilah legacy terbaik dari Presiden Joko Widodo yang diberikan untuk generasi penerus bangsa dalam 20 atau bahkan 50 tahun ke depan," papar Luhut.

"Saya ingin anak-anak muda Indonesia punya semangat untuk tidak gentar terhadap semua tekanan yang diberikan kepada bangsamu," pungkasnya.

Sebagai tambahan informasi, pada 25 Juni 2023 lalu IMF sempat mengeluarkan dokumen ‘IMF Executive Board Concludes 2023 Article IV Consultation with Indonesia’ (IMF Country Report No. 23/221).

Dalam laporan tersebut diberikan catatan terkait program hilirisasi nikel di Indonesia.

Catatan-catatan tersebut antara lain potensi pendapatan negara yang hilang dari nilai ekspor, keraguan terhadap keberhasilan upaya hilirisasi nikel, hingga rekomendasi untuk menghentikan kebijakan tersebut secara bertahap dan tidak merambat ke sumber daya lainnya.

Rekomendasi untuk Anda

BizzInsight

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved