Sabtu, 23 Mei 2026

Nilai Tukar Rupiah

Sore Ini, Pergerakan Nilai Tukar Rupiah Menguat Tipis di Level Rp15.621 per Dolar AS

Tanda-tanda melambatnya perekonomian AS baru-baru ini memicu beberapa spekulasi mengenai penurunan suku bunga lebih awal pada tahun depan.

Tayang:
TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
Karyawan menunjukkan mata uang Rupiah dan Dolar AS di tempat penukaran uang di Jakarta. 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Dennis Destryawan

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA -- Dalam penutupan pasar sore ini, mata uang rupiah ditutup menguat tipis 2 point walaupun sebelumnya sempat melemah 15 point di level Rp 15.621 dari penutupan sebelumnya di level Rp 15.622

Direktur PT Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuaibi menyampaikan, penguatan rupiah tersebut seiring pelemahan indeks dolar Amerika Serikat (AS).

"Indeks dolar turun tipis di perdagangan hari ini," ujar Ibrahim di Jakarta, Selasa (12/12/2023).

Namun, lanjut dia, greenback bertahan di atas level 104 terhadap sejumlah mata uang lainnya, menjelang data inflasi utama AS dan ketidakpastian atas rencana The Fed untuk menurunkan suku bunga pada tahun 2024 mendorong aliran dana ke dolar.

Baca juga: Nilai Tukar Rupiah Hari Ini Ditutup Melemah, Apa Saja Faktornya?

"Pasar sekarang fokus pada data inflasi indeks harga konsumen (CPI) AS, yang akan dirilis pada hari Selasa," kata Ibrahim.

Meskipun angka tersebut diperkirakan menunjukkan bahwa inflasi sedikit menurun pada bulan November, angka tersebut diperkirakan masih jauh di atas target tahunan The Fed sebesar 2 persen.

Menyusul data inflasi, The Fed akan memutuskan suku bunga untuk terakhir kalinya tahun ini pada hari Rabu. The Fed diperkirakan akan mempertahankan suku bunganya, namun sinyal apa pun dari bank sentral mengenai jalur suku bunga pada tahun 2024 akan diawasi dengan ketat.

"Sejauh ini, The Fed masih mempertahankan retorikanya bahwa suku bunga akan tetap tinggi untuk jangka waktu yang lebih lama," terangnya.

Namun tanda-tanda melambatnya perekonomian AS baru-baru ini memicu beberapa spekulasi mengenai penurunan suku bunga lebih awal pada tahun depan.

Sedangkan, di dalam negeri, Bank Indonesia (BI) memperkirakan kinerja penjualan eceran pada November 2023 meningkat, tecermin dari indeks penjualan riil (IPR) November sebesar 209,4 atau tumbuh 2,9 persen secara year on year (yoy).

Peningkatan kinerja penjualan eceran tersebut didorong oleh kelompok perlengkapan rumah tangga lainnya, subkelompok sandang, serta kelompok makanan, minuman, dan tembakau.

Secara bulanan, penjualan eceran diperkirakan tumbuh 0,9 persen month to month (mtm) didorong oleh peningkatan kelompok perlengkapan rumah tangga lainnya serta kelompok suku cadang dan aksesori.

Sementara itu, beberapa kelompok tetap tumbuh positif meski melambat, antara lain, kelompok peralatan informasi dan komunikasi serta kelompok makanan, minuman, dan tembakau seiring dengan cuaca yang kurang mendukung.

Pada Oktober 2023, IPR tercatat sebesar 207,5 atau secara tahunan tumbuh 2,4 persen (yoy). Peningkatan kinerja penjualan eceran tersebut didorong oleh kelompok perlengkapan rumah tangga lainnya serta kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang tumbuh lebih tinggi dibandingkan dengan bulan sebelumnya.

Secara bulanan, penjualan eceran meningkat 3,2 persen (mtm), setelah pada bulan sebelumnya mengalami kontraksi.

Peningkatan kinerja penjualan eceran tersebut terutama terjadi pada kelompok peralatan informasi dan komunikasi, kelompok makanan, minuman, dan tembakau, serta kelompok bahan bakar kendaraan bermotor didorong oleh permintaan dalam negeri, persiapan Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Natal, libur akhir tahun, serta kelancaran distribusi.

Dari sisi harga, indeks ekspektasi harga umum (IEH) Januari dan April 2024 masing-masing sebesar 133,1 dan 137,8, lebih tinggi daripada IEH bulan sebelumnya yang masing-masing sebesar 131,2 dan 133,0.

Rekomendasi untuk Anda

BizzInsight

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved