Produksi Gula Semut Desa Semedo Melejit, Ekspor Capai 100 Ton per Bulan
Produksi gula semut dari Desa Semedo, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah kini melonjak pesat. ini buktinya
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Produksi gula semut dari Desa Semedo, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah kini melonjak pesat. Dari yang semula hanya mampu mengekspor sekitar 500 kilogram per bulan, saat ini volume ekspornya sudah menembus 100 ton per bulan ke berbagai negara.
Kenaikan ini berjalan seiring dengan bertambahnya jumlah petani yang terlibat. Awalnya hanya ada 25 petani binaan yang tergabung.
Baca juga: SGN dan ID Food Serap 121 Ribu Gula Lokal, Petani Diminta Tak Khawatir Harga Anjlok
Direktur BUMDes di Desa Semedo sekaligus Penerima SATU Indonesia Awards 2016 Bidang Kewirausahaan Ahmad Sobirin menceritakan, kini lebih dari 1.000 petani di Semedo dan sekitarnya telah bergabung. Hal ini membuat Desa Semedo yang dulu terpinggirkan, sebagai sentra gula semut berdaya saing global.
Sobirin, penggagas program pemberdayaan petani Semedomenyebut permintaan pasar internasional akan gula semut masih terus meningkat, sehingga tahun ini target ekspor gula semut dari Desa Semedo juga dikerek.
"Mungkin di akhir tahun ini kita akan tambah lagi karena program kami dinilai bagus. Beberapa kepala desa ingin bekerja sama agar petaninya juga ikut dibina. InsyaAllah, jumlah petani akan terus bertambah," tutur Sobirin dalam Lestari Summit 2025 di Kuningan, Jakarta Selatan, Kamis (2/10/2025).
Baca juga: Ahli Bea Cukai Mengaku Tak Kuasai Aturan Impor Gula di Sidang Korupsi
Tidak hanya berdampak pada peningkatan produksi, program ini juga membuka lapangan kerja baru. Sobirin menyatakan, seluruh tenaga kerja berasal dari warga lokal.
"Kami tidak melihat harus lulusan sarjana. Yang penting mau kerja, walaupun lulusan SMP atau SMA, kita belajar bareng. Dulu hanya 5-6 orang, sekarang sekitar 40 orang. Awal tahun depan kita target 50-60 tenaga kerja baru lagi," jelasnya.
Perjalanan Desa Semedo menjadi sentra gula semut yang telah merambah ekspor tak lepas dari dukungan Astra melalui program Satu Indonesia Award 2016.
Pada tahun tersebut, Sobirin menjadi salah satu pemenang tingkat nasional dari program tersebut. Sejak itu, pendampingan berkelanjutan terus diberikan Astra. Mulai dari peningkatan kualitas produksi agar memenuhi standar food grade, pelatihan, hingga akses pasar ekspor.
"Yang kami cari bukan hanya awarding semata, tapi dampaknya. Mas Sobirin ini salah satu contoh bagaimana penghargaan bisa menjadi pintu awal. Setelah itu, kami dampingi agar programnya berkelanjutan dan memberi manfaat bagi banyak orang," ungkap Head of Corporate Communication Astra Windy Riswantyo.
Berkat kolaborasi itu, Desa Semedo kini masuk ke dalam program Desa Sejahtera Astra, dan bahkan menjadi percontohan dalam pengembangan hutan karbon yang ditanami kopi serta peremajaan pohon kelapa agar penderes lebih aman.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Penerima-SATU-Indonesia-Awards-2016-bidang-Kewirausahaan-Akhmad-Sobirin-ASTRA.jpg)