Mobil Hybrid Dinilai Paling Menarik, LPEM UI Ungkap Perilaku Konsumen Otomotif
pasar otomotif nasional tengah berada dalam fase transisi seiring dorongan elektrifikasi kendaraan dan berbagai insentif yang diberikan pemerintah.
Ringkasan Berita:
- LPEM UI melakukan kajian terhadap minat masyarakat bertransisi ke arah elektrifikasi, melalui survei terhadap calon pembeli mobil dalam lima tahun ke depan
- Menurut data, pangsa hybrid tercatat lebih tinggi, terutama di wilayah Pulau Jawa. Sebaliknya, minat terhadap BEV relatif lebih terbatas
TRIBUNNEWS.COM, BANDUNG - Pasar otomotif nasional tengah berada dalam fase transisi seiring dorongan elektrifikasi kendaraan dan berbagai insentif yang diberikan pemerintah.
Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Universitas Indonesia (LPEM UI) melakukan kajian terhadap minat masyarakat bertransisi ke arah elektrifikasi, melalui survei terhadap calon pembeli mobil dalam lima tahun ke depan.
Peneliti LPEM UI Syahda Sabrina mengungkap, hasil survei terhadap 1.511 potential car buyers menunjukkan mayoritas konsumen masih memprioritaskan kendaraan berbahan bakar bensin.
Baca juga: Penjualan Mobil 2026 Diproyeksi Penuh Tantangan, TMMIN Soroti Daya Beli hingga Likuiditas Kredit
"Dari hasil survei, ada 81 persen yang tetap ingin membeli bensin. Sementara pangsa dari xEV-nya sekitar 19 persen dari hasil responden dari survei kami," tutur Syahda dalam diskusi yang diselenggarakan PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) di Bandung, Jawa Barat, Jumat (9/1/2025).
Dalam kelompok kendaraan elektrifikasi (xEV), preferensi konsumen masih condong ke mobil hybrid dibandingkan mobil listrik murni berbasis baterai atau Battery Electric Vehicle (BEV).
Menurut data, pangsa hybrid tercatat lebih tinggi, terutama di wilayah Pulau Jawa. Sebaliknya, minat terhadap BEV relatif lebih terbatas.
Syahda menjelaskan, perbedaan minat tersebut juga terlihat dari kecenderungan pembelian mobil baru dan bekas.
Semakin baru teknologi sebuah kendaraan, semakin rendah kepercayaan konsumen untuk membeli versi bekasnya.
Baca juga: Penjualan Mobil Stagnan, Target 2 Juta Unit pada 2030 Dinilai Sulit Tercapai
"Kalau kita lihat BEV, yang berminat untuk membeli mobil bekasnya paling rendah, hanya 38 persen. Sementara semuanya menyatakan ingin membeli, dominasi membeli mobil baru," katanya.
Rendahnya minat terhadap mobil listrik bekas dinilai dipengaruhi oleh dua faktor utama, yakni pasar mobil bekas BEV yang masih sangat tipis dan ketidakpercayaan konsumen terhadap teknologi baru.
"Pasar dari mobil bekas BEV-nya masih shallow, masih tipis dan yang kedua bisa juga disebabkan ketidakpercayaan dari konsumen untuk membeli mobil bekas pada mobil dengan teknologi baru," terang Syahda.
Dari sisi pengetahuan konsumen, LPEM UI juga menyoroti perbedaan tingkat awareness dan familiarity antar jenis powertrain.
Mobil bensin atau Internal Combustion Engine (ICE) masih menjadi yang paling dikenal luas di seluruh wilayah. Menariknya, awareness terhadap mobil listrik justru tercatat lebih tinggi dibandingkan mobil hybrid. Sementara itu, tingkat familiaritas mobil hybrid di wilayah non-Jawa masih relatif rendah.
"Yang menarik adalah perbandingan antara mobil listrik dan mobil hybrid maupun plug-in hybrid, di mana awareness dari mobil BEV itu lebih tinggi dibandingkan dengan mobil hybrid," ungkap Syahda.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/World-Premiere-New-Veloz-Hybrid-EV.jpg)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.