Selasa, 9 Juni 2026

Potensi Panas Bumi Indonesia Besar, Eksplorasi Geothermal di Halmahera Ungkap Daya Listrik 55–60 MW

Pengembangan proyek panas bumi ini juga diharapkan beri dampak lingkungan dan sosial yang berkelanjutan termasuk pengurangan ketergantungan pada fosil

Tayang:
(Ho/Campus League)
ENERGI PANAS BUMI - Pekerja melakukan pemeriksaan rutin jaringan instalasi pipa di wilayah pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) Salak yang berkapasitas 377 megawatt milik Star Energy Geothermal di Sukabumi, Jawa Barat (4/4/2018). Pemanfaatan energi panas bumi kian menjadi perhatian global seiring meningkatnya kebutuhan listrik bersih dan stabil, terutama di era kecerdasan buatan. Pengamat energi dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Fahmy Radhi menilai, panas bumi berpeluang menjadi motor penggerak utama pengembangan energi baru dan terbarukan (EBT) di Indonesia 

Ringkasan Berita:
  • Hasil eksplorasi panas bumi di Gunung Hamiding, Kabupaten Halmahera Utara, mengkonfirmasi potensi pembangkitan listrik sekitar 55–60 megawatt (MW).
  • Pengembangan panas bumi ini dapat mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil dan menekan emisi gas rumah kaca.

 

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Indonesia dikenal sebagai salah satu negara dengan potensi panas bumi terbesar di dunia. Namun hingga kini, pemanfaatan energi tersebut masih tergolong terbatas. Dari total cadangan yang tersedia, kapasitas terpasang pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) nasional baru memanfaatkan sebagian kecil, meski geothermal dinilai sebagai salah satu sumber energi bersih yang strategis untuk mendukung transisi energi.

Baca juga: Panas Bumi Jadi Andalan Transisi Energi, Analis Nilai Prospek PGEO Masih Menarik

Di tengah kesenjangan antara besarnya potensi dan realisasi pemanfaatan, sejumlah proyek panas bumi mulai dikembangkan di wilayah-wilayah potensial. Salah satunya berada di Gunung Hamiding, Kabupaten Halmahera Utara, Maluku Utara.

PT Star Energy Geothermal Indonesia, anak usaha Barito Renewables (BREN), mengumumkan telah menyelesaikan tahap eksplorasi panas bumi di wilayah tersebut. Hasil eksplorasi menunjukkan potensi pembangkitan listrik di kisaran 55 hingga 60 megawatt (MW).

Penyelesaian eksplorasi ini dilakukan sebagai bagian dari tahapan pengembangan proyek panas bumi yang mengacu pada ketentuan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Tahap eksplorasi menjadi dasar untuk menentukan kelayakan pengembangan pembangkit listrik pada fase berikutnya.

Presiden Direktur Barito Renewables, Hendra Soetjipto Tan, menyatakan bahwa hasil eksplorasi Gunung Hamiding menjadi pijakan awal pengembangan panas bumi di wilayah Halmahera.

“Pencapaian ini merupakan tonggak dalam pengembangan bertahap menuju pembangunan pembangkit listrik tenaga panas bumi tahap awal berkapasitas sekitar 50 MW di Halmahera,” ujar Hendra, dikutip Selasa (13/1/2026).

Menurutnya, pengembangan panas bumi tersebut sejalan dengan upaya menyediakan sumber energi bersih yang lebih andal, sekaligus mendukung agenda transisi energi nasional.

Penugasan eksplorasi panas bumi Gunung Hamiding diberikan oleh pemerintah dan mencakup berbagai tahapan teknis, mulai dari survei geologi, geokimia, geofisika, hingga geoteknik. Tahapan tersebut kemudian dilanjutkan dengan pekerjaan sipil dan pengeboran eksplorasi.

Untuk menunjang kegiatan eksplorasi, perusahaan juga membangun dan meningkatkan infrastruktur di sekitar lokasi proyek. Infrastruktur yang dikembangkan meliputi penambahan jalan akses sepanjang 7,7 kilometer dari jalur eksisting, pembangunan 13,8 kilometer jalan baru, tiga jembatan, serta satu well pad.

Baca juga: Transisi Energi, Tanaman Sorgum Jadi Bahan Baku Biomassa Pembangkit Listrik

Selain aspek teknis, pengembangan proyek panas bumi ini juga diarahkan agar memberikan dampak lingkungan dan sosial yang lebih berkelanjutan, termasuk pengurangan ketergantungan pada bahan bakar fosil dan penurunan emisi gas rumah kaca.

Berdasarkan data Kementerian ESDM, kapasitas terpasang PLTP Indonesia saat ini mencapai 2.744 MW. Angka tersebut menempatkan Indonesia sebagai negara dengan kapasitas panas bumi terbesar kedua di dunia, setelah Amerika Serikat yang mencapai 3.937 MW.

Meski demikian, tingkat pemanfaatan panas bumi nasional baru berada di kisaran 10 persen dari total potensi yang tersedia.

Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, sebelumnya menyampaikan bahwa geothermal merupakan salah satu sumber energi baru terbarukan yang memiliki peran penting dalam bauran energi nasional.

Sesuai Minatmu
Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

BizzInsight

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved