Minggu, 17 Mei 2026

Mata Uang Regional Asia Kompak Melemah Terhadap Dolar AS

Sejumlah mata uang regional di Asia menunjukkan tren melemah pada perdagangan hari ini, Rabu, 14 Januari 2026. 

Tayang:
Editor: Choirul Arifin
HO/IST/Forever Vacation
MATA UANG REGIONAL MELEMAH - Layanan penukaran mata uang asing (money changer) di Tahiland. Sejumlah mata uang regional di Asia menunjukkan tren melemah pada perdagangan hari ini, Rabu, 14 Januari 2026. Pelemahan terjadi pada dolar Singapura, baht Thailand, yen Jepang, dolar Taiwan serta peso Filipina. 
Ringkasan Berita:
  • Sejumlah mata uang regional di Asia menunjukkan tren melemah pada perdagangan hari ini, Rabu, 14 Januari 2026.
  • Pelemahan terjadi pada dolar Singapura, baht Thailand, yen Jepang, dolar Taiwan serta peso Filipina.
  • Meningkatnya kebutuhan valuta asing di dalam negeri pada awal tahun turut menekan nilai tukar rupiah. 
 

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Sejumlah mata uang regional di Asia menunjukkan tren melemah pada perdagangan hari ini, Rabu, 14 Januari 2026. Pelemahan antara lain terjadi pada dolar Singapura yang turun 0,06 persen ke 1,289 per dolar AS.

Begitu pula Yen Jepang yang melemah 0,12 persen ke 159,31 per dolar AS dan Baht Thailand yang melemah 0,11 persen ke level 31,515 per dolar AS. 

Mengutip Reuters, tren pelemahan juga terjadi pada Peso Filipina yang melemah 0,05 persen ke level 59,363 per dolar AS serta dolar Taiwan yang melemah 0,10 persen ke 31,688 per dolar AS, sedangkan ringgit Malaysia turun 0,07 persen ke 4,058 per dolar AS. 

Penguatan tipis terjadi pada won Korea Selatan sebesar 0,06 persen ke 1.477,9 per dolar AS. Yuan China offshore juga menguat tipis 0,01 persen ke 6,979 per dolar AS.

Mata uang yang bergerak stabil adalah rupee India di level 90,19 per dolar AS, sementara rupiah di level 16.860 per dolar AS, tidak berubah dibandingkan posisi sebelumnya. 

Yuan China menjadi salah satu mata uang yang menguat sejak awal tahun, naik sekitar 0,13 persen dari posisi di akhir 2025.

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI Erwin G. Hutapea mengatakan, pergerakan mata uang global termasuk rupiah saat ini banyak dipengaruhi oleh kondisi pasar keuangan dunia yang sedang bergejolak.

Baca juga: Rupiah Melemah ke Rp 16.860 Per Dolar, BI: Stabilitas Tetap Terjaga

Selain faktor global, meningkatnya kebutuhan valuta asing di dalam negeri pada awal tahun turut menekan nilai tukar rupiah. 

Kondisi tersebut mendorong rupiah melemah dan ditutup pada level Rp16.860 per dolar AS pada 13 Januari 2026, atau terdepresiasi 1,04 persen secara year-to-date (ytd).

"Tekanan tersebut bersumber dari eskalasi tensi geopolitik, kekhawatiran terhadap independensi bank sentral di sejumlah negara maju, serta ketidakpastian arah kebijakan moneter The Fed ke depan, di tengah kebutuhan valuta asing domestik yang meningkat pada awal tahun," kata Erwin dalam keterangannya, Rabu (14/1/2026).

Erwin menegaskan pelemahan rupiah masih sejalan dengan pergerakan mata uang regional lainnya. Ia menyebut, won Korea Selatan melemah 2,46 persen, sementara peso Filipina terdepresiasi 1,04 persen akibat sentimen global yang sama.

 

Sumber: Tribunnews.com
Rekomendasi untuk Anda

BizzInsight

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved