Selasa, 19 Mei 2026

Menko Airlangga Bilang Pemerintah akan Bentuk BUMN Tekstil, Bos Danantara: Masih Opsi

Danantara masih mengkaji berbagai opsi pembentukan BUMN tekstil, termasuk investasi pada perusahaan bermasalah yang masih bisa disehatkan.

Tayang:
Tribunnews.com/ Igman Ibrahim
BUMN TEKSTIL - CEO Danantara Rosan Roeslani. Danantara masih mengkaji berbagai opsi pembentukan BUMN tekstil, termasuk investasi pada perusahaan bermasalah yang masih bisa disehatkan. 
Ringkasan Berita:
  • Danantara masih mengkaji berbagai opsi pembentukan BUMN tekstil, termasuk investasi pada perusahaan bermasalah yang masih bisa disehatkan.
  • Penyehatan dilakukan tak hanya lewat modal, tapi juga perbaikan pasar, off-taker, dan operasional.
  • Danantara siap menerima return lebih rendah jika investasi mampu menciptakan lapangan kerja besar, sejalan strategi hadapi perang tarif global.

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - CEO Danantara Rosan Roeslani mengungkapkan, pemerintah masih mengkaji berbagai opsi terkait rencana pembentukan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di sektor tekstil yang berada di bawah pengelolaan Danantara.

Hal ini merespons statement Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto yang menyebut bahwa anggaran pembentukan BUMN tekstil sebesar 6 miliar dolar AS akan disalurkan melalui Danantara

"Kita masih melihat opsi-opsinya," kata Rosan di Kantor Kementerian Investasi/BKPM, Kamis (15/1/2026).

Baca juga: Danantara Siapkan Dana 6 Miliar Dollar, KSPSI Dukung Rencana Prabowo Bentuk BUMN Tekstil Baru

Selain itu, Rosan menyinggung kemungkinan investasi Danantara pada perusahaan tekstil yang masuk kategori distressed asset atau perusahaan bermasalah secara finansial, selama masih memiliki prospek untuk disehatkan.

Menurut dia, proses penyehatan tidak hanya dilakukan melalui suntikan modal, tetapi juga mencakup perbaikan pasar, penyerapan produk (off-taker), hingga aspek operasional lainnya, seperti yang telah dilakukan pada sejumlah BUMN sebelumnya.

"Kita lihat selama kita yakin bahwa nanti kita bisa turn around perusahaan itu melakukan restrukturisasi secara maksimal. Seperti yang kita lakukan misalnya di perusahaan-perusahaan BUMN lainnya yang memang perlu mendapatkan penyehatan secara keseluruhan," kata

"Tidak hanya dari permodalan saja tapi juga dari marketnya, dari off-takernya dan lain-lain. Jadi terbuka kok," imbuhnya menegaskan.

Rosan menegaskan, Danantara memiliki sejumlah parameter dalam menentukan investasi, salah satunya adalah penciptaan lapangan pekerjaan.

Bahkan, menurut Rosan, Danantara terbuka untuk menerima tingkat imbal hasil (return) yang lebih rendah apabila investasi tersebut mampu menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar.

"Mungkin ya we are willing kita terbuka untuk menerima misalnya investasi yang secara return mungkin lebih redah dari parameter kita apabila penciptaan lapangan pekerjaan lebih tinggi," ucap Rosan.

"Ya mungkin tekstil kan salah satu yang dari segi penciptaan lapangan pekerjaan itu sangat besar ya, jadi kita melihat potensi-potensi yang ada aja gitu ya," sambungnya.

Sebelumnya, pemerintah akan membentuk BUMN baru yang secara khusus bergerak di sektor tekstil.

Kebijakan ini diambil sebagai strategi pemerintah dalam menghadapi perang tarif global yang berdampak besar pada industri padat karya nasional.

"Akan membentuk BUMN baru khusus tekstil," ujar Menko Perekonomian Airlangga Hartarto usai menghadiri acara Indonesian Business Council (IBC) di Hotel Mulia Jakarta, Rabu (14/1/2026).

"Tidak menghidupkan kembali," imbuhnya menegaskan.

Airlangga mengatakan, keputusan pembentukan BUMN khusus tekstil ini dibahas dalam rapat bersama Presiden Prabowo Subianto di Hambalang. 

Dalam rapat itu, pemerintah memetakan sektor-sektor dengan risiko tertinggi akibat kebijakan tarif, di antaranya tekstil, produk tekstil, sepatu, garmen, dan elektronik.

"Kami mengusulkan sudah diselesaikan roadmap sekaligus karena tadi seperti saya sampaikan, yang di garis terdepan dalam tarif itu adalah yang resiko tinggi tertinggi itu di sektor tekstil, produk tekstil, sepatu, garment, dan elektronik," tutur Airlangga.

Pemerintah kemudian menyiapkan posisi defensif, termasuk dengan membuka pasar ekspor baru. Menurut Airlangga, salah satu peluang yakni perjanjian Indonesia–Uni Eropa Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA), meski perjanjian tersebut baru efektif pada 2027.

Lebih lanjut, Airlangga bilang bahwa pemerintah telah menyusun roadmap peningkatan ekspor, dengan target nilai ekspor industri tekstil meningkat dari sekitar 4 miliar dolar Amerika Serikat (AS) menjadi 40 miliar dolar AS dalam 10 tahun ke depan. 

"Nah oleh karena itu sudah dibuat roadmap bagaimana meningkatkan ekspor kita yang dari 4 miliar dolar AS bisa naik ke 40 miliar dolar AS dalam 10 tahun dan bagaimana pendalaman dari value chain daripada industri tekstil," tegas Airlangga.
 

 

 

Sumber: Tribunnews.com
Rekomendasi untuk Anda

BizzInsight

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved