Selasa, 14 April 2026

Impor Mobil dari India

Dirut Agrinas: Selama Ini Pikap 4x4  Impor, Tak Ada Satupun Diproduksi di RI

Agrinas memastikan langkah impor sesuai regulasi dan tidak melanggar aturan yang berlaku.

Tribunnews.com/Lita Febriani
IMPOR MOBIL - Direktur Utama Agrinas Pangan Nusantara Joao Angelo De Sousa dalam Konferensi Pers di Kantor Agrinas, Yodya Tower, Jatinegara, Jakarta Timur, Selasa (24/2/2026). (Tribunnews.com/Lita Febriani).   
Ringkasan Berita:
  • PT Agrinas Pangan Nusantara menegaskan impor 105.000 kendaraan bukan arahan khusus pemerintah.
  • Keputusan diambil karena produsen domestik dinilai belum mampu memenuhi kapasitas dan tenggat waktu.
  • Agrinas memastikan langkah impor sesuai regulasi dan tidak melanggar aturan yang berlaku.

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Kebijakan PT Agrinas Pangan Nusantara mengimpor 105.000 unit kendaraan pikap 4x4 dan truk ringan dari India memicu perdebatan, terutama soal komitmen terhadap produk dalam negeri dan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN).

Direktur Utama Agrinas Pangan Nusantara Joao Angelo De Sousa.justru mempertanyakan keterpihakan yang selama ini berkembang di industri otomotif nasional.

"Saya setuju kita harus memprioritaskan perusahaan lokal. Tapi kalau 4x4, tidak ada satu pun yang diproduksi di Indonesia, 100 persen 4x4 diimpor dari Thailand," ungkap Joao dalam Konferensi Pers di Kantor Agrinas, Yodya Tower, Jatinegara, Jakarta Timur, Selasa (24/2/2026).

Baca juga: Bos Agrinas Ngaku Keputusan Impor 105.000 Mobil dari India Bukan Arahan Pemerintah

Joao menilai, polemik impor seolah menempatkan Agrinas sebagai pihak yang tidak berpihak pada industri nasional, padahal selama puluhan tahun pasar pikap 4x4 Indonesia memang bergantung pada produk impor.

Ia menyinggung merek-merek yang telah lama mendominasi pasar. Rantai produksinya.melibatkan banyak negara, mesin diproduksi di China dan Jepang, dirakit di Thailand, lalu dikirim ke Indonesia.

"Yang paling tidak fair adalah kita ini sudah hampir 80 tahun menggunakan merek tertentu itu produksi mesinnya di Cina, di Jepang, kemudian dikirim ke Thailand, baru dikirim ke Indonesia. Sehingga membuat harga begitu mahal," kata Joao.

Joao mempertanyakan mengapa selama ini tidak ada dorongan kuat agar produksi 4x4 dilakukan langsung di Indonesia, sehingga menciptakan nilai tambah dan lapangan kerja di dalam negeri.

"Kenapa selama ini tidak ada keberpihakan dari Kementerian Perindustrian khususnya. Kenapa tidak langsung mengirim mesin-mesin ke Indonesia dan diproduksi di Indonesia. Selama ini tidak ada keterpihakan juga," tuturnya.

Klaim Terobosan dan Pilihan bagi Publik

Joao menilai langkah Agrinas justru dapat menjadi momentum perubahan dalam peta persaingan kendaraan niaga di Indonesia.

"Saya pikir ini adalah suatu terobosan yang mungkin membuat banyak orang yang akhirnya bisa merasa bahwa kuenya terganggu dengan importasi yang kami lakukan," imbuhnya.

Ia menegaskan bahwa pada akhirnya masyarakat yang akan menentukan pilihan berdasarkan kualitas dan nilai ekonomis produk.

"Ini adalah kesempatan kita memberikan pilihan kepada rakyat dan nantinya rakyat akan memilih produk siapa yang terbaik, produk siapa yang paling rasional untuk mereka gunakan dengan money value yang mereka akan keluarkan," jelas Joao.

TKDN dan Status CBU

Terkait isu TKDN, Joao menjelaskan bahwa kendaraan berstatus Complete Build Up (CBU) memang tidak memiliki kandungan komponen dalam negeri.

Ia mencontohkan model seperti Toyota Hilux Double Cabin dan Nissan Navara yang selama ini beredar di Indonesia sebagai unit impor utuh.

Dengan kondisi tersebut, Joao menilai kebijakan impor yang dilakukan Agrinas tidak berbeda secara prinsip dengan praktik yang telah berlangsung lama di segmen 4x4.

"Untuk mobil CBU itu tidak ada TKDN. Hilux Double Cabin atau Navara yang 4x4 itu juga tidak ada TKDN sama sekali karena Complete Build Up," terangnya.

 

 

 

Sumber: Tribunnews.com
Rekomendasi untuk Anda

BizzInsight

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved