Senin, 20 April 2026

Pemerintah Tahan Harga BBM, Solusi Jangka Pendek, Ekonom Ingatkan Risiko Fiskal Mengintai

Menahan harga BBM dalam 2-3 bulan ke depan adalah langkah tepat untuk menjaga daya beli masyarakat

Editor: Sanusi
Tribunnews.com/Dodi Esvandi
ANTREAN BBM - Antrean kendaraan warga terlihat di SPBU Simpang Yarsi Bukittinggi, Sumatera Barat, pada Selasa (31/3/2026) pagi sekitar pukul 06.45 WIB. 
Ringkasan Berita:
  • Kebijakan menahan harga di tengah lonjakan harga minyak mentah merupakan upaya menjaga stabilitas
  • Jika harga minyak dunia terus bertengger di level tinggi sementara harga domestik tidak menyesuaikan, maka defisit anggaran dipastikan akan membengkak dari target semula.

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pemerintah memutuskan untuk tidak menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) per 1 April 2026. Kebijakan ini dinilai sebagai langkah jangka pendek untuk menjaga konsumsi domestik, meski berpotensi menambah beban fiskal.

Ekonom Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin menilai, kebijakan menahan harga di tengah lonjakan harga minyak mentah yang menyentuh US$ 100 per barel merupakan upaya menjaga stabilitas. 

Padahal, dalam asumsi APBN, harga minyak mentah Indonesia (Indonesian Crude Price/ICP) dipatok jauh di bawah itu, yakni US$ 70 per barel.

Baca juga: Arcandra Tahar Hingga Ekonom Ingatkan Ada Ancaman Mengintai Usai Harga BBM Tak Naik

"Menahan harga BBM dalam 2-3 bulan ke depan adalah langkah tepat untuk menjaga daya beli masyarakat. Tentunya harga jual BBM dalam bulan-bulan berikutnya perlu disesuaikan dengan harga internasional dan kapasitas fiskal kita," ujarnya, Kamis (2/4/2026).

Meski tepat untuk menjaga daya beli, Wijayanto memberikan catatan pada beban pembiayaan negara. Menurutnya, jika harga minyak dunia terus bertengger di level tinggi sementara harga domestik tidak menyesuaikan, maka defisit anggaran dipastikan akan membengkak dari target semula.

"Defisit akan melebar. Kita perlu menerbitkan lebih banyak surat utang, pada saat kondisi ekonomi dunia sedang tidak pasti. Selain suku bunga tinggi, risiko undersubscribe juga sangat tinggi," jelasnya.

Oleh karena itu, Wijayanto menekankan bahwa penyesuaian harga hanyalah tinggal menunggu waktu demi menjaga keberlanjutan fiskal. Pemerintah diharapkan mampu mengelola momentum agar tidak terjadi guncangan ekonomi yang drastis di masa depan. 

"Menaikkan harga BBM adalah kepastian, ini masalah timing saja," pungkasnya.

artikel ini sudah tayang di Kontan dengan judul Ekonom Ingatkan Risiko Defisit Jika Harga BBM Terus Ditahan

Sumber: Kontan
Rekomendasi untuk Anda

BizzInsight

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved