Jumat, 24 April 2026

Pasca Lebaran, Gadai Emas di Bima Meningkat hingga 21,65 Persen

Transaksi gadai di Bima meningkat pasca Lebaran. Masyarakat memanfaatkan emas sebagai sumber likuiditas tanpa harus menjual aset.

Editor: Content Writer
Dok. Pegadaian
PENINGKATAN TRANSAKSI EMAS - Transaksi gadai di Bima meningkat pasca Lebaran. Masyarakat memanfaatkan emas sebagai sumber likuiditas tanpa harus menjual aset. 

TRIBUNNEWS.COM – Pegadaian mencatat lonjakan transaksi gadai pasca Idul Fitri 1447 H, khususnya di wilayah Kota dan Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat.

Peningkatan tersebut terlihat signifikan di unit layanan seperti Pegadaian UPC Ambalawi, yang menunjukkan tren masyarakat semakin cerdas dalam mengelola keuangan dengan memanfaatkan emas sebagai sumber likuiditas tanpa harus menjual aset.

Deputy Bisnis Area Pegadaian Bima dan Sumbawa, Mustofa, mengatakan kebutuhan likuiditas masyarakat memang cenderung meningkat setelah Lebaran. Namun, ia menilai terdapat perubahan perilaku keuangan yang positif.

“Pasca Lebaran, masyarakat kini lebih memilih menggadaikan emas dibandingkan menjualnya. Ini menunjukkan kesadaran bahwa emas tetap dipertahankan sebagai aset jangka panjang,” ujarnya.

Baca juga: Ini Penyebab Harga Emas Tak Selalu Melonjak Saat Terjadi Perang

Berdasarkan data hingga akhir April 2026, transaksi gadai mengalami pertumbuhan signifikan dibandingkan periode sebelum Lebaran. Mayoritas transaksi didominasi oleh gadai emas perhiasan untuk memenuhi kebutuhan seperti biaya pendidikan, modal usaha, hingga kebutuhan rumah tangga.

Mustofa menambahkan, Pegadaian UPC Ambalawi mencatat pertumbuhan sebesar 21,65 persen secara year to date. Sementara itu, secara area, Pegadaian Bima dan Pulau Sumbawa tumbuh sebesar 23,68 persen.

Untuk mendukung kebutuhan masyarakat, Pegadaian menghadirkan berbagai produk gadai yang cepat, aman, dan transparan, dengan proses mudah serta pencairan dana yang relatif cepat.

Selain itu, program Gadai Bebas Bunga yang diperpanjang hingga akhir April 2026 turut menjadi daya tarik bagi masyarakat. Melalui program ini, nasabah dapat memperoleh pinjaman dengan biaya sewa modal nol persen.

“Program ini kami hadirkan untuk membantu masyarakat menjaga stabilitas keuangan tanpa harus kehilangan aset berharganya,” tambah Mustofa.

Pemimpin Wilayah Kanwil VII Denpasar, Edy Purwanto, juga menyampaikan bahwa tren peningkatan transaksi gadai terlihat jelas di wilayah NTB, terutama di Bima.

“Kami melihat adanya peningkatan transaksi gadai yang cukup tinggi pasca Lebaran. Ini menunjukkan masyarakat semakin memahami fungsi gadai sebagai solusi keuangan yang bijak dan terencana,” jelasnya.

Dengan tren tersebut, Pegadaian optimistis pemanfaatan gadai akan terus berkembang, tidak hanya sebagai solusi darurat, tetapi juga sebagai bagian dari strategi pengelolaan keuangan yang sehat.

Sebagai informasi, Pegadaian yang didirikan pada 1901 kini telah bertransformasi menjadi lembaga keuangan inklusif dan tergabung dalam Holding Ultra Mikro bersama Bank Rakyat Indonesia dan Permodalan Nasional Madani.

Pegadaian juga telah memperoleh izin dari Otoritas Jasa Keuangan untuk menghadirkan layanan Bank Emas, serta menyediakan berbagai produk investasi dan pembiayaan guna mendukung pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Rekomendasi untuk Anda

BizzInsight

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved