Senin, 18 Mei 2026

Harga Saham

IHSG Makin Ambrol: Merosot 4,26 persen ke Posisi 6.436, Ada 719 Saham Rontok

Pasar saham masih dibayangi sejumlah faktor eksternal dan internal yang memicu tekanan jual di pasar.

Tayang:
TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
IHSG MELEMAH - Karyawan mengamati pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Jakarta. Hingga pukul 10.51 WIB, IHSG sudah merosot 4,26 persen atau 286,70 poin ke level 6.436,62 dari posisi penutupan sebelumnya 6.723,32. 
Ringkasan Berita:
  • IHSG anjlok 4,26 persen ke level 6.436,62 menjelang siang dengan 719 saham bergerak turun.
  • Tekanan pasar dipicu sentimen geopolitik Timur Tengah, pelemahan rupiah, dan potensi foreign outflow pasca rebalancing MSCI.
  • Analis menilai tekanan jual asing masih lebih terkendali karena sebagian pelaku pasar sudah mengantisipasi efek MSCI sebelumnya.

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) makin anjlok menjelang siang pada perdagangan Senin (18/5/2026).

Hingga pukul 10.51 WIB, IHSG sudah merosot 4,26 persen atau 286,70 poin ke level 6.436,62 dari posisi penutupan sebelumnya 6.723,32.

Pergerakan IHSG sejak dibuka pukul 09.00 WIB hingga 10.51 WIB, bergerak pada rentang 6.425 hingga 6.631.

Baca juga: Bursa RI Dibuka Berdarah, IHSG Anjlok 2 Persen Lebih Tinggalkan Level 6.600

719 saham anjlok, 71 saham menguat, 169 saham stagnan.

Adapun nilai transaksi mencapai Rp9,48 triliun dengan melibatkan 16,12 miliar lembar saham.

Head of Retail Research MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana mengatakan, pasar saham masih dibayangi sejumlah faktor eksternal dan internal yang memicu tekanan jual di pasar.

"Sentimen yang membayangi antara lain konflik geopolitik Timur Tengah, potensi foreign outflow pasca rebalancing MSCI, serta pergerakan rupiah terhadap dolar AS," paparnya.

Kondisi tersebut memicu penyesuaian portofolio investor asing dan meningkatkan volatilitas pasar.

Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas, Alrich Paskalis Tambolang menilai, meski aksi jual asing masih terjadi, tekanan yang muncul sejauh ini relatif lebih terkendali dibandingkan kekhawatiran awal pelaku pasar.

"Perkiraan foreign outflow tidak sebesar proyeksi awal karena sebagian pasar sudah lebih dulu mengantisipasi langkah MSCI," kata Alrich.

Ia menambahkan, status Indonesia yang masih bertahan sebagai bagian dari kelompok emerging market turut menjadi penopang sentimen positif bagi investor

Hal ini dinilai membantu meredam tekanan jual yang lebih dalam di pasar domestik.

Sumber: Tribunnews.com
Rekomendasi untuk Anda

BizzInsight

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved