Dari Pengelola Sampah Kini Jadi Penyuplai Dapur MBG
Banyak BUMDesa di Indonesia lahir secara simsalabim; pagi dibentuk, sore keluar SK, tanpa tahu apa yang harus dikerjakan.
Ringkasan Berita:
- Kunci sukses program nasional seperti MBG bukan hanya pada memasak makanan, melainkan pada rantai pasok (supply chain)
- BUMDesa Susukan kini menjadi pemasok bagi BUMDesa-BUMDesa lain di luar wilayahnya, seperti Ciseeng, Citaringgul, dan Cimanggis
TRIBUNNEWS.COM, BOJONG GEDE – Di sebuah sudut kantor yang kini tampak representatif di pinggiran Jalan Bomang, Desa Susukan, Bojong Gede, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Alek Solehudin duduk dengan guratan kepuasan sekaligus ambisi yang belum padam.
Pria yang menjabat sebagai Direktur BUMDesa Surya Karya Mandiri ini baru saja membawa desanya meraih Juara 1 di tingkat Regional Office (RO) BRI Jakarta 2 (Region 7) sekaligus predikat 4 nasional dalam program Desa BRILiaN 2026 yang digagas oleh BRI.
Namun bagi Alek, trofi itu hanyalah "pemanasan" dari sebuah misi besar: kedaulatan ekonomi desa.
Baca juga: Bukan Jualan Pemandangan, Susukan Menangi Desa BRILiaN BRI Pakai Jurus Ekonomi Cetuk
Perjalanan Susukan adalah anomali. Di saat banyak BUMDesa di Indonesia menggantungkan nasib pada objek wisata alam atau lahan pertanian yang luas, Susukan justru lahir dan besar dari keterbatasan.
Dari Bau Sampah Menuju Aroma Dapur Nasional
Beberapa tahun lalu, BUMDesa di Susukan hanya dikenal sebagai pengelola sampah.
Tugasnya lebih banyak bersifat sosial dan "nombok".
"Mengurusi sampah itu urusan sosial. Bisa menggaji petugas lapangan saja sudah syukur," kenang Alek.
Namun, titik balik terjadi pada pertengahan 2025 ketika program Makan Bergizi Gratis (MBG) mulai bergulir.
Alek, yang memiliki latar belakang 12 tahun sebagai praktisi perbankan, melihat celah besar.
Ia menyadari bahwa kunci sukses program nasional seperti MBG bukan hanya pada memasak makanan, melainkan pada rantai pasok (supply chain).
Ia pun membanting setir, mengubah orientasi BUMDesa dari sekadar pengelola limbah menjadi agregator pangan.
Kini, BUMDesa Susukan telah bertransformasi menjadi pusat distribusi raksasa.
Mereka memasok segala kebutuhan dapur MBG, mulai dari beras, sayuran, buah-buahan, hingga kebutuhan operasional kecil seperti sabun cuci piring dan gunting kuku.
Salah satu rahasia sukses Alek adalah kemampuannya memangkas rantai distribusi.
Meski Susukan tidak memiliki peternakan ayam, ia mampu menyediakan telur dengan harga yang lebih kompetitif dibanding harga kandang lokal.
"Orang belanja telur masih Rp26.000, saya bisa dapat Rp25.000. Kenapa? Karena kami langganan tetap dan punya akses langsung ke hulu," ungkapnya.
Baca juga: BRI Consumer Expo 2026 Hadirkan Promo KPR, KKB hingga Cashback Investasi
"Kami tidak belanja seperti konsumen biasa. Kami menggunakan hubungan baik dengan importir dan produsen utama. Kami punya kartu member 'Gold' di distributor besar. Jika BUMDesa lain harus membayar tunai di depan kepada agen, kami sudah sampai pada tahap di mana barang dikirim dulu, nota menyusul, baru kami bayar. Itulah kekuatan trust," jelas Alek.
Bahkan, BUMDesa Susukan kini menjadi pemasok bagi BUMDesa-BUMDesa lain di luar wilayahnya, seperti Ciseeng, Citaringgul, dan Cimanggis.
Alek memfasilitasi mereka yang tidak memiliki modal atau akses ke pemasok besar, menciptakan kolaborasi antar-desa yang saling menguntungkan.
"Mereka tinggal pesan lewat kami, barang sampai ke dapur mereka, baru bayar kemudian," ungkapnya.
Membangun "Peta Ekonomi"
Salah satu visi Alek yang paling visioner—dan mungkin dianggap gila oleh sebagian orang—adalah ambisinya membangun Peta Ekonomi Desa.
Alek merasa miris ketika warga desa lebih mengenal merek korporasi besar dibanding potensi tetangganya sendiri.
Maka itu ia ingin setiap jengkal potensi warga, mulai dari tukang servis kipas angin hingga pembuat tempe, terdata secara digital layaknya Google Maps.
"Kalau kipas angin warga rusak, mereka bingung cari tukang servis. Padahal mungkin tetangga sebelah bisa membetulkannya. Saya ingin membuat sistem seperti Google Maps, tapi isinya potensi ekonomi warga. Klik, muncul tukang servis; klik, muncul penjual edamame," tuturnya.
Mengapa data ini penting? Menurut Alek, peta ekonomi ini disiapkan sebagai benteng pertahanan.
Alek melihat ancaman nyata di depan mata: pintu tol yang akan segera dibangun di Susukan.
Alek memprediksi bahwa pembukaan pintu tol di wilayah Bojong Gede dalam waktu dekat akan memicu migrasi besar-besaran.
Jika warga desa tidak siap dengan data dan kekompakan ekonomi, mereka hanya akan menjadi penonton saat korporasi besar masuk.
"Saat tol dibuka, migrasi besar akan terjadi. Kalau warga kita belum kompak, korporasi besar akan masuk dan kita hanya jadi penonton atau pembantu di rumah sendiri. Peta ekonomi ini adalah benteng," jelasnya.
"Saat UMKM berkembang, BUMDesa adalah gudang besarnya. Korporasi besar akan susah bergerak kalau kita sudah menguasai peta pembelanjaan dari bawah," tegasnya.
BUMDesa adalah "BUMN Desa"
Alek juga dikenal sangat keras dalam urusan profesionalisme.
Ia seringkali harus bersitegang—bahkan hingga "gebrak meja"—di kantor desa demi menegaskan posisi hukum BUMDesa.
Banyak BUMDesa di Indonesia lahir secara simsalabim; pagi dibentuk, sore keluar SK, tanpa tahu apa yang harus dikerjakan.
Alek memilih jalan yang sulit. Baginya, BUMDesa harus dikelola layaknya perusahaan profesional, bukan sebagai "anak buah" administratif kepala desa.
Maka itu ia merombak total struktur manajemen sejak 2024, menyingkirkan intervensi politik, dan memposisikan dirinya sebagai direktur yang punya otoritas penuh, bukan sekadar pelaksana keinginan kepala desa.
Berdasarkan PP No. 11 Tahun 2021, Alek menekankan bahwa Direktur BUMDesa memiliki kewenangan penuh untuk mengatur manajerial, mengangkat pegawai, hingga menentukan arah investasi tanpa intervensi politik.
"BUMDesa itu badan hukum. Penyertaan modal dari Dana Desa itu statusnya berubah menjadi modal bisnis, bukan dana hibah yang diatur belanja spanduk atau spanduk oleh pihak luar," tegas Alek.
Ia meyakini, tanpa kemandirian manajerial, BUMDesa hanya akan menjadi beban bagi anggaran desa.
"Dana desa yang dijadikan penyertaan modal itu statusnya berubah menjadi modal bisnis, bukan dana hibah yang diatur belanja per item oleh desa. Saya siap bertanggung jawab secara hukum, tapi biarkan saya bekerja secara profesional," katanya.
Hasil dari ketegasan dan visi Alek kini mulai dirasakan warga.
Sejak produktivitas meningkat signifikan pada Agustus 2025, BUMDesa Surya Karya Mandiri mampu mencatatkan Pendapatan Asli Desa (PADes) sebesar Rp18 juta dalam waktu singkat.
Lebih dari itu, BUMDesa kini mampu memberikan gaji yang layak bagi 12 pegawainya, lengkap dengan jaminan makan siang dan lingkungan kerja yang representatif.
"Sejahtera itu bukan berarti semuanya gratis. Sejahtera itu saat masyarakat punya kemampuan mandiri; pendapatan cukup dan pengeluaran terukur," pungkas Alek.
Kisah dari Susukan ini menjadi bukti bahwa di tangan pemimpin yang memiliki insting bisnis tajam dan keberanian untuk mendobrak tradisi, sebuah desa "pemukiman" bisa bertransformasi menjadi kekuatan ekonomi yang diperhitungkan di tingkat nasional.
Kemenangan di Desa BRILiaN BRI hanyalah satu langkah kecil menuju mimpi besar Alek Solehudin: menjadikan desa sebagai pengendali ekonomi, bukan sekadar objek pasar.
Di sisi lain BRI Unit Bojong Gede memastikan komitmennya untuk terus melakukan pendampingan kepada pelaku usaha dan kelembagaan desa pasca-terpilihnya Desa Susukan sebagai pemenang program Desa Brilian di tingkat Regional Office Jakarta 2.
Sebagai bentuk apresiasi, BRI akan menyalurkan reward berupa program Corporate Social Responsibility (CSR) yang berdampak langsung bagi masyarakat.
Kepala BRI Unit Bojong Gede, Saiful Rizka, menjelaskan bahwa keterlibatan BRI dalam menyukseskan Desa Susukan dilakukan secara kolaboratif antara Kantor Wilayah (Kanwil) dan Unit Kerja setempat.
Dalam program Desa Brilian, BRI menerapkan dua lini pendampingan:
- Fasilitasi Edukasi Makro (Kanwil): BRI Kanwil mendatangkan akademisi/lecture untuk memberikan pendidikan manajemen dan tata kelola tingkat lanjut bagi pengurus desa dan BUMDes.
- Pendampingan Mikro (Unit Kerja): BRI Unit Bojong Gede bergerak di akar rumput dengan memberikan akses permodalan bagi UMKM, edukasi digitalisasi, akses pasar, hingga penyediaan produk tabungan dan simpanan.
Hadiah CSR Fasilitas Umum
Sebagai salah satu desa terbaik yang mewakili Regional 7, Desa Susukan kini bersiap menerima realisasi hadiah non-tunai berupa pembangunan fasilitas publik di desanya.
"Salah satu reward dari kemenangan Desa Brilian ini adalah program CSR. Saat ini sedang diarahkan untuk pembangunan fisik, seperti fasilitas selokan atau infrastruktur desa lainnya. Prinsipnya, hadiah dikembalikan dalam bentuk CSR yang manfaatnya bisa dirasakan langsung oleh seluruh warga Desa Susukan," kata Saiful.
Pada kesempatan terpisah, Direktur Utama BRI Heri Gunardi mengungkapkan bahwa Desa BRILiaN terbukti mendongkrak aktivitas ekonomi yang berada di desa-desa.
Hingga akhir September 2025, program Desa BRILiaN telah menjangkau 4.909 desa di seluruh Indonesia.
Angka ini menurut Heri, mencerminkan komitmen berkelanjutan BRI dalam memperkuat peran desa sebagai fondasi pertumbuhan ekonomi.
“Desa BRILiaN adalah salah satu bukti nyata BRI dalam membangun ekonomi yang lebih merata dan berkeadilan. Fokus BRI tidak hanya pada perluasan jangkauan program, tetapi pada penguatan kapasitas komunitas desa untuk menghasilkan nilai ekonomi yang tumbuh dari potensi lokal. Capaian ini juga merupakan bentuk dukungan BRI terhadap program prioritas pemerintah untuk memperkuat peran desa sebagai fondasi pembangunan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan,” ujar Hery.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Alek-Solehudin-Direktur-BUMDesa-Surya-Karya-Mandiri-BRI.jpg)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.