Gejolak Rupiah
Kemendag Klaim Pelemahan Rupiah Belum Berdampak ke UMKM Kriya
Dampak terhadap aktivitas ekspor diperkirakan baru bisa terlihat dalam dua hingga tiga bulan ke depan jika pelemahan rupiah terus berlanjut.
Ringkasan Berita:
- Kemendag menyebut pelemahan rupiah belum berdampak signifikan pada UMKM sektor kriya karena mayoritas bahan baku berasal dari dalam negeri.
- Dampak terhadap aktivitas ekspor diperkirakan baru bisa terlihat dalam dua hingga tiga bulan ke depan jika pelemahan rupiah terus berlanjut.
- Kenaikan harga plastik hingga 70 persen juga belum dikeluhkan pelaku UMKM kriya karena sebagian besar produk dan kemasannya minim penggunaan plastik.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Kementerian Perdagangan RI (Kemendag) merespons soal pelemahan kurs rupiah terhadap pengaruh geliat UMKM khususnya sektor kreatif dan kriya.
Direktur Pengembangan Ekspor Jasa dan Produk Kreatif Kemendag Ari Satria, menyampaikan, pelemahan rupiah terhadap dolar AS hingga hari ini belum berpengaruh pada UMKM sektor tersebut.
"Tapi kan ini pelemahan rupiah baru seminggu ini lah ya, dampaknya kan belum terlihat," kata Ari saat ditemui awak media di salah satu pusat perbelanjaan di Kawasan Jakarta, Kamis (21/5/2026).
Baca juga: Rupiah Masih Melemah ke Rp 17.667, Pengamat Soroti Perang Iran hingga Kenaikan BI Rate
Lagi pula kata Ari, selama pegiat UMKM kriya ada di Indonesia sebagian besar dari mereka tidak pernah mengandalkan produk impor.
Dengan begitu, biaya produksi untuk setiap karya lebih minim karena murni menggunakan bahan baku dari dalam negeri.
"Mungkin kalau teman-teman melakukan pekerjaan ekspor, mungkin dua bulan atau tiga bulan ke depan baru bisa kelihatan ya, apakah memang punya pengaruh, dan lagi pula ini kan produk-produk yang bahan bakunya 100 persen lokal ya," ucap Ari.
Tak hanya terhadap pelemahan rupiah, pegiat UMKM sektor kriya juga kata Ari belum mengeluhkan, melambungnya harga plastik yang belakangan ini terjadi.
Hal itu disebabkan karena, sebagian besar produksi dan proses pengemasan terhadap produk kriya jarang menggunakan bahan baku plastik.
"Belum ada keluhan, ini kan kayak Rutema ini, packaging juga kan juga gak pakai plastik," tandas dia.
Sebagai informasi, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS sempat menunjukkan angka paling lemah sepanjang sejarah yakni sempat menyentuh Rp17.717 per dolar AS.
Sejumlah pegiat usaha yang mengandalkan bahan baku dari impor mulai menunjukkan kekhawatiran terhadap kondisi tersebut.
Tak hanya dari segi nilai tukar rupiah, kenaikan harga plastik yang meroket belakangan ini juga menjadi Kekhawatiran yang tak terhindarkan bagi para pelaku usaha.
Dimana, kenaikan harga plastik imbas konflik antara Amerika Serikat-Israel terhadap Iran mencapai 50-70% atau mengalami kenaikan harga sekitar Rp5.000 hingga Rp10.000 pada tiap satu pack plastik beragam jenis.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/umkm-kriya-89.jpg)