Kadin: Industri Keramik Dalam Negeri Butuh Harga Gas Lebih Murah
Industri keramik dalam negeri membutuhkan dukungan Pemerintah melalui penyediaan harga gas industri yang lebih terjangkau.
Ringkasan Berita:
- Industri keramik dalam negeri membutuhkan dukungan Pemerintah melalui penyediaan harga gas industri yang lebih terjangkau.
- Harga gas industri sudah tidak wajar lagi, sementara industri keramik merupakan salah satu industri penerima harga gas bumi tertentu (HGBT) yaitu 7 USD per MMBTU.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Wakil Ketua Umum Kadin Perindustrian Saleh Husin mengatakan, industri keramik dalam negeri membutuhkan dukungan Pemerintah melalui penyediaan harga gas industri yang lebih terjangkau.
Dia mengatakan, harga gas industri sudah tidak wajar lagi. Sementara, industri keramik merupakan salah satu industri penerima harga gas bumi tertentu (HGBT) yaitu 7 USD per MMBTU.
Dia mengatalan, saat ini yang terjadi di lapangan industri ini hanya mendapatkan alokasi 40 persen gas bumi dengan harga HGBT dan sisanya 60 persen harus beli dengan harga pasar 21 USD per MMBTU.
"Tentu ini sangat berat yang akan membuat daya saing industri keramik dalam negeri akan turun dan akhirnya terpaksa harus stop produksi yang kemudian ya terpaksa kita menjadi negara pengimport keramik, padahal kita punya sumber bahan baku. Nah hal ini jangan sampai terjadi," kata Saleh Husin dikutip Selasa, 9 Juni 2026.
"Untuk itu keberpihakan pemerintah sangat dibutuhkan agar industri keramik dalam negeri bisa menjadi tuan rumah di negara nya sendiri, " ujarnya.
Dia mengatakan, kualitas dan desain keramik yang dihasilkan industri keramik dalam negeri saat ini sudah sangat bersaing dengan keramik impor dari luar negeri.
Hal itu bisa dilihat dari produk-produk yang ditampilkan di pameran keramik Indonesia di NICE PIK 2 yang berlangsung 4 - 7 Juni 2026.
Baca juga: Tertekan Kenaikan Harga Gas dan Pelemahan Rupiah, Industri Keramik Minta Dukungan Pemerintah
"Kemarin saya berkesempatan melihat secara langsung pameran tersebut. Saya sempatkan berbincang secara langsung dengan pemilik maupun direksi dari industri keramik dalam negeri dari berbagai merek terkemuka di Tanah Air, termasuk asosiasi yang menaunginya yaitu Asaki (Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia)," kata Saleh.
Baca juga: Industri Keramik Siap Bangkit, ASAKI Incar Utilisasi Tertinggi dalam 10 Tahun dan Investasi Rp 5 T
"Industri ini sudah berkembang cukup bagus dan menciptakan lapangan kerja serta memberikan nilai tambah yang bagus buat bangsa kita. Jangan sampai industri ini mati dan tergerus oleh produk import serta harga energi yang sudah terlalu tinggi," ujar Saleh Husin.
ASAKI Minta Turunkan Harga Gas Industri
Sebelumnya, Asosiasi Aneka Keramik Indonesia (ASAKI) menilai kenaikan harga regasifikasi LNG oleh PGN mulai Juni 2026 berpotensi memukul industri nasional.
Biaya energi menjadi komponen utama dalam proses produksi keramik yang hingga kini belum dapat digantikan sumber energi lain. Ketua Umum ASAKI Edy Suyanto mengatakan industri keramik sangat bergantung pada kelancaran pasokan gas bumi.
"Urat nadi industri keramik ada di supply gas, industri keramik harus didukung dengan supply gas. Kenapa? Karena gas bagi industri keramik adalah energi yang tidak bisa disubstitusi. Mati hidup industri keramik ada di kelancaran supply gas," tutur Edy melalui keterangan resmi, Senin (25/5/2026).
ASAKI menilai industri keramik saat ini berada dalam fase ekspansi memerlukan dukungan dari sisi ketersediaan pasokan dan harga gas yang terjangkau agar tetap kompetitif di pasar global.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Saleh-Husin-pameran-keramik-PIK-2.jpg)