Porsi Ekspor Produk Manufaktur Diproyeksikan Naik Jadi 30 Persen
Penjualan ekspor produk manufaktur Indonesia ditargetkan naik dari saat ini sekitar 20 persen menjadi 30 persen dan 70 persen ke pasar domestik.
Ringkasan Berita:
- Penjualan ekspor produk manufaktur Indonesia ditargetkan naik dari saat ini sekitar 20 persen dan 80 persen untuk pasar domestik menjadi 30 persen ekspor dan 70 persen domestik.
- Target tersebut ditopang oleh kinerja sektor manufaktur yang masih menunjukkan pertumbuhan positif.
- Realisasi investasi sektor industri manufaktur pengolahan mencapai Rp 182,04 triliun atau setara 36,49 persen dari total investasi nasional.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menargetkan kenaikan ekspor industri manufaktur nasional guna memperkuat daya tahan sektor industri di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Pemerintah membidik kenaikan penjualan ekspor produk manufaktur dari saat ini sekitar 20 persen dan 80 persen untuk pasar domestik menjadi 30 persen ekspor dan 70 persen domestik.
Menurut Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita, hal tersebut tidak akan mengurangi kemampuan industri dalam memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri yang tetap menjadi tulang punggung pertumbuhan manufaktur nasional.
"Pasar domestik tetap menjadi kekuatan utama industri nasional. Namun ke depan, kita perlu memperkuat industri yang berorientasi ekspor agar penetrasi produk manufaktur Indonesia di pasar global semakin besar.," ujarnya dalam Rapat Kerja dengan Komisi VII DPR RI di Senayan, Jakarta Pusat, Senin (8/6/2026).
Target tersebut ditopang oleh kinerja sektor manufaktur yang masih menunjukkan pertumbuhan positif. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), ekonomi Indonesia pada triwulan I 2026 tumbuh 5,61 persen.
Di saat yang sama, industri pengolahan tumbuh 5,04 persen dan menjadi penyumbang terbesar produk domestik bruto (PDB) nasional dengan kontribusi 19,07 persen atau senilai Rp 1.179,62 triliun.
Kontribusi industri manufaktur juga terlihat dari sisi investasi. Sepanjang periode tersebut, realisasi investasi sektor industri pengolahan mencapai Rp 182,04 triliun atau setara 36,49 persen dari total investasi nasional.
Nilai ekspor produk industri pengolahan pada Januari-April 2026 tercatat mencapai 75,57 miliar dolar AS. Angka tersebut menyumbang 82,01 persen terhadap total ekspor nasional, menegaskan peran penting manufaktur sebagai penggerak perdagangan luar negeri Indonesia.
Agus mengatakan, peningkatan ekspor perlu berjalan beriringan dengan upaya menjaga pasar domestik.
Karena itu, pemerintah terus menyiapkan berbagai kebijakan untuk memperkuat daya saing industri, mulai dari pemberian insentif fiskal dan nonfiskal, pengendalian impor secara terukur, hingga penguatan instrumen perlindungan industri nasional.
Agus juga menyoroti pentingnya penerapan Local Currency Settlement (LCS) dalam transaksi perdagangan internasional. Kebijakan itu telah direkomendasikan Kemenperin sejak 2023 sebagai langkah mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS.
"Pemanfaatan Local Currency Settlement sebenarnya telah kami rekomendasikan sejak tahun 2023. Jauh sebelum terjadi tekanan pelemahan nilai tukar rupiah seperti yang kita hadapi saat ini. Perluasan penggunaan mata uang lokal dalam transaksi perdagangan internasional menjadi instrumen penting untuk mengurangi risiko nilai tukar sekaligus meningkatkan efisiensi transaksi bagi pelaku industri nasional," jelas Menperin.
Selain memperkuat ekspor, Kemenperin optimistis target program dan anggaran tahun 2026 dapat tercapai melalui berbagai program prioritas.
Program tersebut mencakup hilirisasi industri, penguatan Industri Kecil dan Menengah (IKM), pembangunan sumber daya manusia industri, transformasi industri hijau, serta peningkatan produktivitas melalui inovasi dan pemanfaatan teknologi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Suku-cadang-Tiga-Berlian-GIIAS.jpg)