Rupiah Ditutup Menguat ke Rp 18.058 per Dolar AS usai BI Naikkan BI-Rate
Pengamat ekonomi dan pasar uang Ibrahim Assuaibi mengatakan rupiah ditutup menguat 129 poin ke level Rp 18.058 per dolar AS
Ringkasan Berita:
- Ketegangan di kawasan Timur Tengah masih menjadi perhatian investor.
- Selain itu, pelaku pasar menunggu rilis data inflasi AS yang akan diumumkan pada Rabu (10/6/2026).
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Nilai tukar rupiah berhasil menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa (9/6/2026), meski tekanan dari kondisi global masih cukup tinggi.
Pengamat ekonomi dan pasar uang Ibrahim Assuaibi mengatakan rupiah ditutup menguat 129 poin ke level Rp 18.058 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp 18.187 per dolar AS.
"Untuk perdagangan besok, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah direntang Rp. 18.050- Rp.18.100," ujar Ibrahim dalam keterangannya, Selasa.
Baca juga: Gubernur BI Yakin Tahun 2027 Rupiah Bisa Bangkit, Ungkap 5 Faktor Pendorongnya
Dari faktor eksternal, pasar keuangan mendapat dorongan positif setelah Iran dan Israel menyatakan menghentikan serangan satu sama lain menyusul desakan Presiden AS Donald Trump agar kedua negara segera menghentikan konflik.
Meski demikian, ketegangan di kawasan Timur Tengah masih menjadi perhatian investor. Selain itu, pelaku pasar menunggu rilis data inflasi AS yang akan diumumkan pada Rabu (10/6/2026). Inflasi yang masih tinggi dapat membuat bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed), menunda penurunan suku bunga atau bahkan mempertimbangkan kebijakan yang lebih ketat.
Dari dalam negeri, Bank Indonesia mencatat cadangan devisa Indonesia turun menjadi 144,9 miliar dolar AS pada akhir Mei 2026, dari sebelumnya 146,2 miliar dolar AS pada April 2026.
Penurunan tersebut dipengaruhi oleh pembayaran utang luar negeri pemerintah, penerbitan obligasi global, serta transaksi perpajakan. Posisi cadangan devisa saat ini menjadi yang terendah sejak Juli 2024.
Di sisi lain, penguatan nilai tukar rupiah terjadi setelah Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan, BI-Rate sebesar 25 bps menjadi 5,50 persen hari ini.
Baca juga: Lagi, Purbaya Klaim Fundamental Ekonomi Indonesia Tetap Bagus di Tengah Pelemahan Rupiah
Kenaikan ini sebagai langkah lanjutan untuk memperkuat stabilisasi nilai tukar Rupiah dari dampak tingginya gejolak global akibat perang di Timur Tengah serta sebagai langkah pre-emptive untuk menjaga inflasi pada tahun 2026 dan 2027 agar tetap berada dalam kisaran sasaran 2,5±1 persen yang ditetapkan Pemerintah.
Sehubungan dengan itu, BI memandang perlu untuk menempuh langkah-langkah lanjutan guna memperkuat stabilisasi nilai tukar Rupiah dengan meningkatkan kembali imbal hasil dan sejumlah insentif lain untuk mendorong masuknya aliran investasi asing.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Nilai-Tukar-Rupiah-Melemah_20260605_182921.jpg)