Virus Corona
Bisakah Vaksin Siap dalam 18 Bulan? Ahli dari Amerika Angkat Bicara
Delapan belas bulan mungkin terdengar lama, tetapi dalam jangka pengembangan vaksin ini adalah waktu yang sangat cepat.
TRIBUNNEWS.COM - Delapan belas bulan mungkin terdengar lama, tetapi dalam jangka pengembangan vaksin ini adalah waktu yang sangat cepat.
Tapi jangka waktu inilah yang sudah dijanjikan Presiden AS Donald Trump dalam mengembangkan vaksin Covid-19.
Dilansir CNN, sejumlah ahli menilai waktu ini terlalu cepat dan berisiko pada keselamatan.
Baca: Indonesia Usul PT Biofarma Ikut Terlibat Produksi Vaksin Covid-19
Baca: Perusahaan Internasional Ini Tengah Uji Coba Vaksin Covid-19 Menggunakan Tembakau
Perkiraan waktu ini sempat menjadi berita utama di berbagai media bulan lalu.
Saat itu Trump mengatakan di depan awak pers dan jajarannya, vaksin bisa siap dalam waktu tiga sampai empat bulan.
Dalam siaran TV itu, Kepala National Institute of Allergy and Infectious Disease (NIAID), Anthony Fauci, bak menuangkan air dingin pada pernyataan Trump.
Lantaran dia mengatakan waktu yang diperlukan lebih kurang satu setengah tahun.
Sejak saat itulah, perkiraan 12 hingga 18 bulan seakan waktu pasti vaksin akan siap sempurna.
Tetapi para ahli dan ilmuwan skeptis dengan anggapan ini.
"Tony Fauci mengatakan satu tahun hingga 18 bulan - saya pikir itu optimis," kata Dr. Peter Hotez, pakar penyakit menular dan pengembangan vaksin di Baylor College of Medicine.
"Mungkin jika semua bintang sejajar, tapi mungkin lebih lama," imbuh dia.
Seorang penemu vaksin rotavirus, Paul Offit menjelaskannya lebih rinci lagi.
"Ketika Dr. Fauci berkata 12 hingga 18 bulan, saya pikir itu sangat optimis," katanya.
Baca: Ciri-ciri Corona Tanpa Gejala Umum: Kehilangan Indra Perasa dan Alami Masalah Pencernaan
Baca: Berikut Gejala Corona Terbaru dan Sejumlah Upaya Penyembuhan Covid-19
"Dan aku yakin dia juga begitu," lanjut dia.
Pengembangan vaksin biasanya dihitung menurut tahunan, bukan jangka bulan.
Saat jumlah kematian akibat Covid-19 menginjak angka 3.000 di AS, tekanan untuk menemukan vaksin bagi komunitas ilmiah makin besar.
Hanya dalam beberapa minggu saja, virus sudah menganggu roda perekonomian dan menyebabkan 3,3 pekerjaan gulung tikar.
Pada 16 Maret 2020, percobaan pertama yang didanai pemerintah federal ini dimulai di Kaiser Permanente Washington Health Research Institute di Seattle.
Pada Jumatnya, penelitian ini diperluas ke Universitas Emory di Atlanta.
Sebanyak 45 sukarelawan di komunitas Seattle dan Atlanta berpartisipasi dalam fase pertama percobaan.
Masalahnya adalah, para ahli mengatakan, jadwal yang sering dinyatakan sangat ambisius.
"Saya tidak berpikir itu (vaksin) pernah dilakukan pada skala 18 bulan," kata Amesh Adalja, sarjana senior yang fokus pada penyakit menular di Pusat Keamanan Kesehatan di Universitas Johns Hopkins.
"Pengembangan vaksin biasanya diukur dalam tahun, bukan bulan," tambahnya.
Uji coba vaksin biasanya dimulai dengan pengujian pada hewan, sebelum diluncurkan dalam tiga fase.
Fase pertama melibatkan menyuntikkan vaksin ke dalam sekelompok kecil orang untuk menilai keamanan dan memantau respons kekebalan mereka.
Kedua, meningkatkan jumlah orang dan sering kali ratusan termasuk lebih banyak kelompok berisiko.
Ini dilakukan untuk uji coba secara acak.
Jika hasilnya menjanjikan, uji coba akan beralih ke uji fase tiga untuk kemanjuran dan keamanan dengan ribuan atau puluhan ribu orang, menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC).
(Tribunnews/Ika Nur Cahyani)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/vaksin-virus-corona-3012020.jpg)