Breaking News:

Virus Corona

NU Sebut Korban Meninggal Akibat Corona Termasuk Mati Syahid

Oleh karena itu, Makky meminta agar tidak ada penolakan terhadap pemakaman jenazah korban Covid-19.

Tribunnews/Irwan Rismawan
Petugas mengangkat jenazah pasien virus corona atau Covid-19 yang meninggal untuk dimakamkan di TPU Pondok Ranggon, Cipayung, Jakarta Timur, Rabu (25/3/2020). Pemprov DKI Jakarta menyediakan dua taman pemakaman umum (TPU) untuk pasien virus corona (Covid-19) yang meninggal dunia, yakni TPU Tegal Alur dan TPU Pondok Ranggon. Tribunnews/Irwan Rismawan 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Ketua Satuan Tugas Nahdlatul Ulama (NU) Peduli dr. Muhamad Makky Zamzami mengatakan korban meninggal karena virus corona atau Covid-19 termasuk jenazah yang mati syahid. 

"Dari imbauan Lembaga Bahtsul Masail bahwa jenazah yang sudah positif Covid-19 maupun PDP yang diduga berat untuk positif dan meninggal, maka itu termasuk jenazah yang mati syahid. Seperti dalam satu hadis, wa man mata fit tha'un fahuwa syahid," ujar Makky, dalam konferensi pers di Kantor BNPB, Jakarta, Sabtu (4/4/2020). 

Oleh karena itu, Makky meminta agar tidak ada penolakan terhadap pemakaman jenazah korban Covid-19.

Baca: Jenazah Wakil Jaksa Agung Arminsyah Dibawa ke RS Polri Kramat Jati

Menurutnya hal itu sudah sesuai protokol kesehatan dan unsur syariat agama.

Masyarakat, kata dia, seharusnya berempati dan menerima jenazah akan dimakamkan di pemakaman terdekat atau di kampung tertentu.

"Jangan terjadi adanya penolakan atau stigma-stigma terhadap petugas kesehatan atau petugas yang bawa jenazah itu," jelasnya.

Di sisi lain, Makky menyinggung bahwa seharusnya yang mendapatkan stigma adalah masyarakat atau keluarga yang memaksa membawa pulang jenazah positif Covid-19

Pasalnya, aksi tersebut justru akan berdampak meluasnya penyebaran virus corona dan menularkannya kepada keluarga dan masyarakat.

Dia menegaskan pengurusan jenazah yang meninggal karena Covid-19 harus dilakukan dengan protokol kesehatan yang sangat ketat sesuai dengan standar WHO dan juga unsur syariat atau tata cara agama.

"Jadi stigma ini harusnya begitu. Bahwa seluruh RT/RW maupun perangkat di daerah sigap bila ada pasien positif COVID-19 dibawa pulang paksa dan dilakukan penatalaksanaan jenazahnya oleh keluarganya. Jadi jangan dibalik," tandasnya.
 

Penulis: Vincentius Jyestha Candraditya
Editor: Hasanudin Aco
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved