Breaking News:

Virus Corona

Krisis Akibat Covid-19, Indonesia Beruntung Bisa Belajar dari Krisis 98 hingga Skandal Bank Century

Piter mengatakan semua pihak di dunia menghadapi hal yang sama, yakni krisis, resesi hingga perlambatan ekonomi akibat Covid-19.

KEMENKEU
Direktur Riset Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Piter Abdullah Redjalam 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Peneliti Senior Center of Reform on Economics (CORE Indonesia) Dr. Piter Abdullah mengatakan Indonesia beruntung bisa belajar dari krisis-krisis terdahulu untuk menghadapi krisis yang terjadi saat ini akibat pandemi Covid-19.

"Wabah Covid-19 ini adalah sebuah kondisi yang tidak benar-benar diduga. Pada tahun 2019 kita sudah memperkirakan perekonomian pada 2020, tapi ini menghancurkan semuanya," ujar Piter, dalam diskusi online 'Dampak Disahkannya Perppu 1/2020 terhadap Ekonomi dan Pemerintahan', Selasa (19/5/2020).

Baca: Direktur Tajdid Institute Inisiasi Penggalangan Dana untuk Aksi Peduli Jamaah Persis Bandung Raya

"Kalau kita bicara Indonesia, kita termasuk harus bersyukur bahwa pemerintah dalam hal ini belajar dari menghadapi krisis '98, kejadian 2008-2009, hingga skandal Century, kita sudah banyak belajar," imbuhnya.

Piter mengatakan semua pihak di dunia menghadapi hal yang sama, yakni krisis, resesi hingga perlambatan ekonomi akibat Covid-19.

Ketidakpastian pun masih akan membayangi dunia karena Covid-19 bukan sesuatu yang bisa diprediksi dan tak bisa diperkirakan akan hilang kapan waktunya.

Atas ketidakpastian itu, Piter mengungkap pemerintah Amerika Serikat (AS) dan Jepang sampai mengeluarkan kebijakan stimulus fiskal dengan angka yang tak terbayangkan.

Baca: Bamsoet Beri Bantuan ke Keluarga Besar TNI-Polri

"Stimulus yang disiapkan oleh pemerintah AS itu mencapai 10-12 persen dari PDB, sementara Jepang menyiapkan stimulus hingga 20 persen dari PDB. Dan itu di-back up penuh oleh bank sentral. The Fed (bank sentral AS) bahkan turun langsung melakukan injeksi likuiditas ke UMKM dan korporasi secara langsung," jelasnya.

"Perekonomian AS akan kontraksi atau minus sampai berapa tidak bisa diperkirakan, mereka juga tidak bisa memprediksi sampai kapan. Karena WHO mengatakan selama vaksin belum ada maka persoalan wabah ini belum selesai," imbuh Piter.

Sementara Indonesia sendiri, kata dia, sudah mempersiapkan secara cukup lengkap infrastruktur kelembagaan, perundang-undangan untuk menghadapi krisis tersebut.

Piter menyebut ada empat pihak atau otoritas yang sudah mempersiapkan berbagai kebijakan untuk mengantisipasi Covid-19.

"Pemerintah mengeluarkan stimulus fiskal, kemudian Bank Indonesia melonggarkan moneter, OJK itu memperkuat sektor keuangan, sementara LPS mempersiapkan kondisi yang lebih buruk yaitu apabila terjadi bank gagal. Jadi semua otoritas itu sudah bekerja sama mempersiapkan semua hal yang perlu," tandasnya.

Penulis: Vincentius Jyestha Candraditya
Editor: Johnson Simanjuntak
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved