Breaking News:

Virus Corona

Survei Indo Barometer dan RRI: Masalah Pengangguran Meningkat Saat Pandemi Corona

Hasilnya, publik menilai angka pengangguran selama pandemi virus corona meningkat tajam.

KOMPAS.COM
Ilustrasi 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Fransiskus Adhiyuda

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Lembaga survei Indo Barometer bersama Puslitbangdiklat RRI melakukan survei jurnalisme presisi terkait pengangguran dan kemiskinan selama pandemi virus corona (Covid-19).

Dari survei yang dilakukan 12-18 Mei 2020 yang melibatkan 400 responden, menunjukan hasil terkait masalah pengangguran sebelum dan sesudah wabah Corona (Covid-19) masuk ke Indonesia.

Hasilnya, publik menilai angka pengangguran selama pandemi virus corona meningkat tajam.

Baca: Bersepeda Keliling Kampung, Cara Ganjar Pranowo Edukasi Warga Tentang Covid-19

"Mayoritas responden (95.6 persen) menilai bahwa perbandingan masalah pengangguran sebelum dan sesudah wabah Corona (Covid-19) masuk ke Indonesia meningkat signifikan," kata Direktur Eksekutif Indo Barometer M Qodari melalui keterangan tertulis yang diterima Tribunnews, Selasa (26/5/2020).

Baca: Anak 11 Tahun Terinfeksi Virus Corona, Tertular dari Klaster Pabrik Rokok Tulungagung

"Sedangkan hanya (0.3 persen) responden yang menilai menurun. Sisa responden yang menjawab tidak tahu/tidak jawab sebesar (0.8 persen)," tambahnya.

Selain itu, mayoritas responden (84.3 persen) menyatakan tidak puas terhadap penanganan pengangguran oleh pemerintahan Joko Widodo-Maruf Amin, hanya sebesar (11.6 persen) responden yang menyatakan puas. Sisanya (4.3 persen) menjawab tidak tahu/tidak jawab.

Baca: Pandemi Covid-19 Mulai Reda, Orang Kaya China Mulai Berburu Properti ke Singapura hingga Sydney

Ada pun lima alasan tertinggi responden menjawab tidak puas (pertanyaan terbuka) adalah;

PSBB mengakibatkan sulit bekerja dan mendapat pekerjaan (19.8 persen), sulitnya mencari pekerjaan (15.2 persen), kartu prakerja belum efektif (11.2 persen), belum ada solusi yang tepat bagi yang menganggur (8.6 persen), sulit mendapat pekerjaan (8.6 persen).

Sedangkan, lima alasan tertinggi responden menjawab puas (pertanyaan terbuka) adalah;

Program kartu prakerja bagus namun pendaftarannya sulit (32.8 persen), ada bantuan sosial untuk pengangguran (20.7 persen), ada program untuk mengatasi pengangguran (19 persen), bantuan pemerintah untuk PHK (8.6 persen), ada kelonggaran dari pemerintah untuk perusahaan (5.2 persen).

Sebagai informasi, wilayah pelaksanaan survei di 7 (tujuh) provinsi di Indonesia yaitu : Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, DKI Jakarta, Banten, Sumatera Utara dan Sulawesi Selatan (7 provinsi ini setara dengan 64.9% populasi nasional).

Metode penarikan sampel yang digunakan adalah quota & purposive sampling dengan 400 responden tersebar secara proporsional. Margin of error sebesar kurang lebih 4.90 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.

Adapun teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara via telepon seluler menggunakan kuesioner.

Data telepon seluler responden diambil secara acak dari no telp seluler responden di Indo Barometer dari hasil survei nasional, survei pileg, survei pilkada dan quick count di setiap wilayahnya di masa sebelumnya.

Penulis: Fransiskus Adhiyuda Prasetia
Editor: Malvyandie Haryadi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved