Breaking News:

Virus Corona

Kendala yang Dihadapi Lembaga Eijkman dalam Membuat Vaksin Covid-19

Dalam pembuatan vaksin, ada tahapan uji klinis pada hewan yang selnya paling mirip dengan manusia sebelum nantinya diuji klinis pada manusia

Pixabay
ILUSTRASI Virus Corona - Menristek Bambang Brodjonegoro Ungkap Fakta Penyebab Kasus Virus Corona Tak Kunjung Turun, Apa Itu? 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Lembaga Biologi Molekuler (LBM) Eijkman sampai saat ini terus melakukan penelitian dan pengembangan untuk membuat vaksin untuk virus corona atau covid-19.

Kepala Lembaga Biologi Molekuler (LBM) Eijkman, Prof. dr. Amin Soebandrio menyebutkan ada beberapa kendala yang dihadapi dalam proses penemuan vaksin.

Baca: KSAD: Hasil Uji Klinis Anti Covid-19 Nantinya untuk Seluruh Masyarakat

Pertama dari sumber daya manusia dan teknis sudah mendukung.

Tapi untuk uji klinis pada hewan besar, Eijkman harus bekerjasama dengan lembaga yang memelihara hewan besar.

"Saat ini secara teknis SDM peralatan ruangan sudah memiliki lembaga Eijkman tapi kajian untuk hewan besar seperti kera atau monyet, kita harus kerja sama dengan mereka yang punya peliharan monyet," ucap Prof. Amin saat live webinar Vaksin Covid-19 Buatan Indonesia, Rabu (15/7/2020).

Dalam pembuatan vaksin, ada tahapan uji klinis pada hewan yang selnya paling mirip dengan manusia sebelum nantinya diuji klinis pada manusia.

Kemudian kendala kedua adalah ada beberapa zat atau reagensia yang tidak ada di Indonesia alias harus impor dari luar negeri.

Sementara itu akibat pandemi covid-19 proses pengiriman reagen jadi lebih lambat dan ditambah lagi dengan banyaknya permintaan negra lain sehingga reagen tiba lebih lama di Indonesia.

"Reagen baru datang sebulan atau dua bulan kemudian itu kendala utama yang kami rasakan, tapi kalau anggaran sudah di sediakan pemerintah," ungkap Prof. Amin.

Baca: Kepala LBM Eijkman Sebut Indonesia Harus Mampu Temukan Vaksin Covid-19 dan Memproduksinya

Saat ini perkembangan dalam penemuan vaksin sudah mencapai 30 persen. Prof. Amin menyebutkan tahapan prosesnya memang agak lebih lama, tapi kalau tahap awal sudah sesuai maka proses kedepannya akan lebih cepat.

"Itu persentase sekitar 20 sampi 30 persen itu pondasinya. Pondasi selesai proses ke depan akan lebih cepat, kita berharap akhir bulan ini atau Agustus kita bisa uji pada hewan kecil dan besar," pungkas Prof. Amin.

Penulis: Apfia Tioconny Billy
Editor: Imanuel Nicolas Manafe
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved