Senin, 1 September 2025

Virus Corona

Pengembangan Vaksin Covid-19 Gunakan Metode Tradisional dan Baru, Ini Penjelasannya

Ines mengatakan ada dua metode pengembangan vaksin yakni, tradisional dan baru.

Penulis: Fahdi Fahlevi
Editor: Johnson Simanjuntak
Shutterstock
Ilustrasi vaksin Covid-19. 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Direktur Utama Lipotek Australia Dr Ines Atmosukarto membeberkan sejumlah metode pengembangan vaksin Covid-19 yang dilakukan perusahaan farmasi dunia.

Ines mengatakan ada dua metode pengembangan vaksin yakni, tradisional dan baru.

Cara tradisional adalah dengan menginaktivasi vaksin lalu diperbanyak.

Ines mengatakan cara itu dilakukan oleh perusahaan farmasi asal China, Sinovac.

Baca: Vaksin Merah Putih Diuji Coba pada Hewan Sebelum Pengetesan Terhadap Manusia

"Jadi untuk vaksin tersebut, maka virus tersebut diperbanyak dengan menggunakan suatu sel di dalam tabung kemudian virus itu diinaktivasi, virus yang diinaktivasi ini yang akan menjadi vaksin," ujar Ines dalam webinar yang di laman Youtube Katadata Indonesia, Jumat (14/8/2020).

Vaksin Sinovac saat ini sedang memasuki fase ketiga uji klinis yang dilakukan di Indonesia.

Sementara metode lain yang masuk kategori baru adalah dengan menggunakan vaksin rekombinan.

Metode ini dengan mengambil bagian dari Covid-19 dan dimasukan ke dalam suatu virus lainnya.

"Kemudian virus ini yang menjadi vaksin. Nah virus pengantar ini dipilih tentunya karena dia tidak menimbulkan penyakit, yang tidak menimbulkan suatu efek terhadap sistem respiratori misalnya, tetapi dia bisa mensimulasi imun respon," ucap Ines.

Metode tersebut saat ini digunakan oleh perusahaan farmasi Astrazeneca.

Selanjutnya metode baru lainnya adalah vaksin sub yakni dengan pengambilan protein tertentu terutama protein spike.

Hanya proteinnya yang digunakan, kemudian dicampur dengan adjuvant untuk menstimulasi respon imun.

"Metode ini saat ini dikembangkan oleh Lembaga Bio Molekuler Eijkmann," ungkap Ines.

Metode lainnya adalah dengan platform yang paling baru berdasarkan nucleid acid.

Hanya DNA atau arena dari dari virus itu yang digunakan kemudian yang disuntik dan menjadi vaksin.

"Tentunya dengan harapan bahwa arena atau ini yang akan memproduksi bagian-bagian dari virusnya dan kemudian yang akan merangsang terjadinya respon imun," pungkas Ines.

Metode pengembangan platform nucleid acid ini, menurut Ines termasuk cukup baru. Sehingga belum ada produk lainnya di pasaran yang menggunakan platform ini.

Berita Terkait
AA

Berita Terkini

© 2025 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
About Us Help Privacy Policy Terms of Use Contact Us Pedoman Media Siber Redaksi Info iklan