Minggu, 31 Agustus 2025

Virus Corona

Dokter AS Peringatkan Adanya Efek Jangka Panjang Covid-19, Bisa Akibatkan Cacat Seumur Hidup

Dokter di AS memperingatkan adanya efek jangka panjang setelah sembuh dari Covid-19. Disebutkan, virus tersebut dapat mengakibatkan cacat selamanya.

Penulis: Citra Agusta Putri Anastasia
Mahadeo Sen/TOI, BCCL, Ranchi
Ilustrasi pasien virus corona. 

TRIBUNNEWS.COM - Sebagian besar orang yang terinfeksi Covid-19 akhirnya dapat bertahan hidup.

Namun, bagi banyak pasien, mereka hidup dengan gejala pascasembuh yang bertahan lama.

Bahkan, gejala tersebut dapat menjadi permanen.

Hal itu dijelaskan oleh Dr. Rony Shimony, ahli jantung di RS Mount Sinai, New York, Amerika Serikat.

Dalam wawancaranya dengan Time, Shimony mengatakan, dia dan rekan-rwkannya telah memperhatikan bahwa pasien usia 30-an yang selamat dari Covid-19 melaporkan gejala yang bertahan lama.

Gejala tersebut antara lain kerusakan ginjal, penurunan fungsi jantung, dan gangguan kognitif.

Baca: Terungkap Penyebab Orang Tanpa Gejala Covid-19 karena Virus yang Cacat Partikelnya

Shimony menambahkan, semakin sakit pasien akibat Covid-19, semakin besar kerusakan pada organ mereka.

"Kami sekarang mulai memahami dampaknya pada otak, jantung, paru-paru, ginjal," kata Shimony.

Para tenaga medis sedang memindahkan seorang pasien ke unit berbeda dari Covid-19 Unit di United Memorial Medical Center di Houston, Texas, (2/7/2020). Meski menjadi pusat kedokteran dengan banyak rumah sakit dan laboratorium penelitian, Houston terancam dibanjiri pasien Covid-19 di Texas yang melonjak. Amerika Serikat pada Kamis (2/7/2020) melaporkan ada lebih dari 55 ribu kasus baru Covid-19.
Para tenaga medis sedang memindahkan seorang pasien ke unit berbeda dari Covid-19 Unit di United Memorial Medical Center di Houston, Texas, (2/7/2020). Meski menjadi pusat kedokteran dengan banyak rumah sakit dan laboratorium penelitian, Houston terancam dibanjiri pasien Covid-19 di Texas yang melonjak. Amerika Serikat pada Kamis (2/7/2020) melaporkan ada lebih dari 55 ribu kasus baru Covid-19. (MARK FELIX / AFP)

Dia mengungkapkan, infeksi khusus tersebut terjadi di seluruh tubuh.

Oleh karena itu, orang-orang perlu memahami lebih jauh tentang dampak Covid-19.

"Itu benar-benar membuat kita lebih berhati-hati tentang apa yang akan datang," ujarnya.

Sejarah menorehkan jejak yang memunculkan kekhawatiran lebih lanjut.

Setelah flu Spanyol tahun 1918, Shimony mengatakan, sebanyak 50-60 persen pasien ditemukan masih merasakan gejala selama empat tahun.

Dia berharap agar orang-orang perlu waspada dan melihat efek serupa pada Covid-19.

Baca: Hasil Studi Benarkan Golongan Darah Tentukan Tingkat Keparahan Gejala Covid-19, A Lebih Berisiko

Perawat bawa pasien pandemi flu Spanyol.
Perawat bawa pasien pandemi flu Spanyol. (eva.vn)

Untungnya, para ilmuwan dan dokter telah belajar tentang cara merawat pasien dengan penyakit tersebut.

Misalnya, mengenai pentingnya memulai pengobatan sejak dini untuk mencegah risiko kerusakan organ.

Namun, risiko efek jangka panjang sangat penting dipelajari untuk mencegah penyebaran penyakit.

"Ini adalah penyakit yang dapat membuat orang menjadi cacat selama bertahun-tahun yang akan datang, atau seumur hidup," ucap Shimony.

"Dampaknya ada pada keluarga, psikologis, finansial, termasuk negara. Jadi, kita harus membangun pencegahan.

"Kita harus mendengarkan para ahli. Kenakan topeng dan jarak sosial," jelasnya.

Seberapa Dekat Kita dengan Vaksin Virus Corona? Inilah Kemajuannya

Para peneliti di seluruh dunia berlomba untuk mengembangkan vaksin Covid-19.

Lebih dari 170 calon vaksin kini dilacak oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Biasanya, vaksin membutuhkan pengujian bertahun-tahun.

Diperlukan pula waktu tambahan untuk memproduksi vaksin dalam skala besar.

Namun, para ilmuwan berharap dapat mengembangkan vaksin virus Corona dalam 12 hingga 18 bulan.

Vaksin berfungsi melindungi dan menstimulasi sistem kekebalan untuk mengembangkan antibodi.

Mereka harus mengikuti standar keamanan yang lebih tinggi daripada obat lain.

Sebab, nantinya vaksin akan diberikan kepada jutaan orang sehat.

Bagaimana vaksin duji?

Seorang staf menampilkan sampel vaksin Covid-19 yang tidak aktif di pabrik produksi vaksin China National Pharmaceutical Group Co., Ltd. (Sinopharm) di Beijing, ibukota China, 10 April 2020.
Seorang staf menampilkan sampel vaksin Covid-19 yang tidak aktif di pabrik produksi vaksin China National Pharmaceutical Group Co., Ltd. (Sinopharm) di Beijing, ibukota China, 10 April 2020. (Zhang Yuwei / XINHUA / Xinhua via AFP)

Dilansir Guardian, terdapat empat tahapan dalam pengujian vaksin.

Lima tahap tersebut yakni Tahap Pra-klinis, Tahap 1, Tahap 2, Tahap 3, hingga akhirnya disetujui.

Dalam tahap pengujian Pra-klinis, vaksin belum diuji coba pada manusia.

Peneliti memberikan vaksin kepada hewan untuk melihat apakah vaksinnya memicu respons imun.

Dalam uji klinis Tahap 1, vaksin diberikan kepada sekelompok kecil orang untuk menentukan apakah vaksin tersebut aman.

Kemudian, fase ini akan mempelajari lebih lanjut tentang respons kekebalan yang dipicu.

Pada Tahap 2, vaksin diberikan kepada ratusan orang.

Sehingga, para ilmuwan dapat mempelajari lebih lanjut tentang keamanan dan dosis yang tepat.

Selanjutnya, pada Tahap 3, vaksin diberikan kepada ribuan orang untuk memastikan keamanan dan keefektifannya.

Uji coba ini melibatkan kelompok kontrol yang diberi plasebo.

Baca: Jika Tahap Uji Klinis Lancar, Vaksin Covid-19 Mulai Diproduksi Awal Tahun Depan

Vaksin dalam Uji Klinis

Ilustrasi Vaksin Covid-19
Ilustrasi Vaksin Covid-19 (Foto Nikkei)

Hingga kini, 139 calon vaksin masih pada Tahap Pra-klinis.

25 calon vaksin sedang diuji pada Tahap 1, dan 17 lainnya berada pada Tahap 2.

7 calon vaksin telah masuk ke dalam Tahap 3, dan menunggu mana kah vaksin yang akhirnya disetujui sebagai vaksin Covid-19.

Simak kemajuannya pada daftar di bawah ini, menurut data terbaru dari WHO, per 11 Agustus 2020.

1. University of Oxford / AstraZeneca

Vaksin dari University of Oxford diberikan melalui virus simpanse, yang disebut vektor vaksin.

Vektor tersebut berisi kode genetik dari lonjakan protein yang terdapat pada virus Corona dan memicu respons imun yang kuat dalam tubuh manusia.

Vaksin ini sedang dalam uji coba Tahap 2/3 gabungan di Inggris.

aru-baru ini telah memasuki uji coba Tahap 3 di Afrika Selatan dan Brasil.

Dikutip dari ox.ac.uk, baru-baru ini, vaksin telah memasuki uji coba Tahap 3 di Afrika Selatan dan Brasil.

2. Moderna / NIAD

Perusahaan bioteknologi Amerika, Moderna, sedang mengembangkan kandidat vaksin menggunakan messenger RNA (atau disingkat mRNA) untuk mengelabui tubuh agar memproduksi protein virus itu sendiri.

Tidak ada vaksin mRNA yang pernah disetujui untuk penyakit menular, dan Moderna tidak pernah memasarkan produknya.

Namun, para pendukung vaksin mengatakan, vaksin itu bisa lebih mudah diproduksi secara massal daripada vaksin tradisional.

Saat ini, vaksin yang dikembangkan Moderna telah memasuki uji coba Tahap 3.

3. Sinovac

Perusahaan China Sinovac sedang mengembangkan vaksin berdasarkan partikel Covid-19 yang tidak aktif.

Vaksin tersebut telah menunjukkan profil keamanan yang menjanjikan pada tahap awal pengujian.

Kini, vaksin beralih ke uji coba Tahap 3 di Brasil.

4. Wuhan Institute of Biological Products/Sinopharm

Perkembangan: Tahap 3

5. Beijing Institute of Biological Products/Sinopharm

Perkembangan: Tahap 3

6. BioNTech/Fosun Pharma/Pfizer

Perkembangan: Tahap 3

7. Bharat Biotech

Perkembangan: Tahap 2

8. Novavax

Perkembangan: Tahap 2

9. Cadila Healthcare Limited

Perkembangan: Tahap 2

10. CanSino Biologics Inc./Beijing Institute of Biotechnology

Perkembangan: Tahap 2

11. Anhui Zhifei Longcom Biopharmaceutical

Perkembangan: Tahap 2

12. Arcturus/Duke-NUS

Perkembangan: Tahap 2

13. Kentucky Bioprocessing, Inc

Perkembangan: Tahap 2

14. Inovio Pharmaceuticals/ International Vaccine Institute

Perkembangan: Tahap 2

15. Janssen Pharmaceutical Companies

Perkembangan: Tahap 2

16. Institute of Medical Biology, Chinese Academy of Medical Sciences

Perkembangan: Tahap 2

17. Genexine Consortium

Perkembangan: Tahap 2

18. Osaka University/ AnGes/ Takara Bio

Perkembangan: Tahap 2

19. Vaxine Pty Ltd/Medytox

Perkembangan: Tahap 1

20. Medicago Inc.

Perkembangan: Tahap 1

21. University of Queensland/CSL/Seqirus

Perkembangan: Tahap 1

22. Gamaleya Research Institute

Perkembangan: Tahap 1

23. Clover Biopharmaceuticals Inc./GSK/Dynavax

Perkembangan: Tahap 1

24. Imperial College London

Perkembangan: Tahap 1

25. Curevac

Perkembangan: Tahap 1

26. People's Liberation Army (PLA) Academy of Military Sciences/Walvax Biotech.

Perkembangan: Tahap 1

27. Medigen Vaccine Biologics Corporation/NIAID/Dynavax

Perkembangan: Tahap 1

28. University of Melbourne/Murdoch Children’s Research Institute

Perkembangan: Tahap 3

Children’s Research Institute di Murdoch, Australia, sedang melakukan uji coba Tahap 3 menggunakan vaksin tuberkulosis yang berusia hampir 100 tahun.

Vaksin tersebut diperkirakan tidak melindungi tubuh secara langsung terhadap Covid-19.

Namun, vaksin itu diyakini dapat meningkatkan respons imun non-spesifik pada tubuh.

(Tribunnews.com/Citra Agusta Putri Anastasia)
Sumber: TribunSolo.com
Berita Terkait
AA

Berita Terkini

© 2025 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
About Us Help Privacy Policy Terms of Use Contact Us Pedoman Media Siber Redaksi Info iklan