Breaking News:

Wawancara Eksklusif

Doni Monardo 3 Bulan Tak Pulang ke Rumah Perangi Covid-19, Ultah dan Lebaran Dirayakan di Kantor

Jadi Idul Fitri dan ultah, saya itu di kantor. Semata-mata untuk tunjukkan kepada temen-teman di daerah bahwa menangani covid itu harus totalitas

TRIBUN/DANY PERMANA
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letnan Jenderal TNI Doni Monardo berbincang dengan redaksi Tribun Network di Jakarta, Senin (7/9/2020). TRIBUNNEWS/DANY PERMANA 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Sudah 6 bulan Indonesia dilanda pandemi virus corona.

Sejak kasus pertama dan kedua terkonfirmasi positif Coronavirus disease ( Covid-19) , yakni seorang anak dan ibunya, warga Depok, Jawa Barat, diumumkan pada 2 Maret lalu, pandemi Covid-19, banyak orang menjadi supersibuk.

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Doni Monardo yang ditunjuk Presiden Jokowi menjadi Ketua Satuan Tugas (Satgas) Percepatan Penanganan Covid-19, misalnya.

Ia tiga bulan menginap di kantor. Simak wawancara eksklusifnya bersama Domuara D Ambarita, Nicolaas Manafe dan Dany Permana dari Tribun Network, pada Senin (7/9).

Baca: Cerita Pasien Positif Covid di Jakarta: Mau Masuk Wisma Atlet Antre Lima Jam, Persyaratannya Ribet

Saat anda ditunjuk Presiden Jokowi untuk menjabat Ketua Satgas Covid-19, padahal kita tahu, ini virus terkait penyakit, sedangkan anda seorang tentara, bagaiman sikap anda?

Penugasan dari Pak Jokowi adalah suatu kehormatan karena diberikan tanggung jawab dan kesempatan untuk jadi bagian dari sistem dalam rangka pengendalian Covid-19. Tentunya penugasan ini suatu tantangan yang harus saya lakukan dengan sebaik mungkin sehingga masalah-masalah yang ada bisa saya selesaikan. Bagaimana perasaan saya? Tentu saya merasa mendapatkan kehormatan juga dan diberikan suatu kewenangan, suatu kepercayaan. Bagi kami kepercayaan adalah segala-galanya. Saya harus abdikan secara total.

Saat itu anda sebaga kepala BNPB, apakah sempat ragu ketika ditunjuk Presiden Jokowi?

Sebagaimana Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana, mengamanatkan bencara --baik alam dan non-alam-- itu berada di bawah komando BNPB. Sebaga seorang prajurit yang belum pernah berkecimpung di bidang medis, tentu saya rasakan penugasan ini cukup berat. Tapi saya yakin waktu itu dengan jaringan, kerja sama dengan kementerian/lembaga, saya yakin secara bertahap kita mampu lakukannya.

Pertama, saya minta bantuan sahabat-sahabat saya dari kalangan (dokter/kesehatan, Red) TNI tentang apa itu Covid. Kemudian Saya berdiskusi dengan sejumlah pakar dari berbagai macam bidang. Ada dari bidan kesehatan masyarakat, epidiemologis, antropologis, sosiologis. Karena ini bukan saja kesehatan, tapi ada yang menyertainya.

Saya minta bantuan Prof Wiku (Prof Wiku Bakti Bawono Adisasmito, guru besar yang mendalami kebijakan kesehatan di bidang sistem kesehatan dan penanggulangan penyakit infeksi; dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia dan sekarang menjadi Jubir Satgas Covid-19). Kami sama-sama bersama jalani pendidikan di Lemhannas (tahun 2012). Dia yang tuntun saya bertemu dengan sejumlah pakar. Hampir setiap saat kami rapat dan diskusi untuk susun beberapa program. Mulai strateginya, sistem, struktur, skill, harus cepat dan target. Apa yang ditargetkan? Kami harus jaga masyarakat sehat tetap sehat, sakit harus diobati sampai sembuh.

Halaman
123
Penulis: Domu D. Ambarita
Editor: Imanuel Nicolas Manafe
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved