Virus Corona
Epidemiolog: Protokol Kesehatan 3M di Rumah Tak Efektif Jika Tes dan Pelacakan Covid-19 Masih Minim
Klaster keluarga menjadi klaster penularan covid-19 yang tinggi di Indonesia. Tercatat, 1.100 klaster keluarga dari laporan Satgas Covid-19.
Penulis:
Rina Ayu Panca Rini
Editor:
Johnson Simanjuntak
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA -- Klaster keluarga menjadi klaster penularan covid-19 yang tinggi di Indonesia. Tercatat, 1.100 klaster keluarga dari laporan Satgas Covid-19.
Epidemiolog Griffith University, Dicky Budiman, menyatakan, terjadinya klaster keluarga merupakan fenomena yang umum yang terjadi di dalam pandemi Covid-19 ini, lantaran banyak penderita Covid-19 yang tidak menunjukan gejala atau gejalanya ringan.
Terlebih, cakupan untuk mendeteksi dini penularan seperti pengetesan dan pelacakan masih minim.
"Dan membuat ini semakin besar terjadinya klaster keluarga sebagian besar orang begejala kalau begejala ringan ini ternyata mengetahui status infeksinya tidak terdeteksi karena cakupan tesnya rendah," ujar Dicky saat dihubungi Tribun, Senin (28/9/2020).
Ia melanjutkan, upaya 3M memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan akan efektif bila berada di lokasi dengan pondasi strategi testing dan tracing yang memadai.
"Karena yang utama mendeteksi dini, memastikan orang-orang yang bawa virus terdeteksi," jelasnya.
Apalagi menurutnya, mayoritas masyarakat masih abai untuk melakukan protokol kesehatan.
Baca: Ini yang Akan Dilakukan Akmal Taher Setelah Keluar dari Satgas Covid-19
"Tentu masih ada keterbatasannya manusia. Pakai masker itu belum tentu benar-benar 100 persen bebas covid-19, kecuali masker N-95, tapi kan hal itu tidak bisa dilakukan semua masyarakat," ujarnya.
Untuk itu, selain memperbanyak testing dan pelacakan Covid-19, diharapkan pemerintah harus terus menerus memberi pemahaman kepada masyarakt terkait penularan virus corona ini.
Dicky melanjutkan, tak hanya di Indonesia, penularan Covid-19 melalui klaster keluarga juga terjadi tingkat global dengan penyumbang pasien positif bervariasi.
"Kluster keluarga bervariasi kontribusinya di tiap negara, mulai 40% hingga 85%. di China sempat sampai 85%," tutur Dicky.