Breaking News:

Penanganan Covid

Pemerintah Kembangkan Teknologi Artificial Intelligence untuk Tangani Covid-19

Pemerintah saat ini sedang mengembangkan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligenc

TRIBUN JABAR/GANI KURNIAWAN
Menteri Riset dan Teknologi (Menristek) dan Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Bambang Brodjonegoro meninjau Robot Ultima Multiguna UV-C Lamp dan Mist Disinfektan saat melakukan kunjungan ke Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Bandung, Jalan Sangkuriang, Kota Bandung, Rabu (29/7/2020). Dalam kunjungannya, Bambang Brodjonegoro meninjau sejumlah produk inovasi hasil buatan LIPI untuk pencegahan Covid-19, diantaranya alat bantu terapi oksigen HFNC, Robot Ultima Multiguna UV-C Lamp dan Mist Disinfektan, Airborne Terminator, serta Qirani 19 alat deteksi Covid-19. TRIBUN JABAR/GANI KURNIAWAN 

Laporan wartawan Tribunnews.com, Fahdi Fahlevi

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pemerintah saat ini sedang mengembangkan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence untuk penanganan pandemi Covid-19 di Indonesia.

Menteri Riset dan Teknologi/ Kepala Badan Riset Nasional (Menristek/BRIN) Bambang Brodjonegoro mengungkapkan teknologi artificial intelligence dikembangkan dalam bentuk health pass.

"Saat ini kita sedang mencoba menggunakan artificial intelligence untuk penanganan Covid. Baik itu dalam bentuk informasi lengkap dan kemudian kita kembangkan juga artifisial intelijen situ menjadi semacam health pass," tutur Bambang dalam webinar pada Selasa (6/10/2020).

Baca: Hanya 2 Provinsi Nihil Kasus Positif Covid-19 per 6 Oktober, Ini Sebarannya

Baca: Pemerintah Gandeng Perusahaan Swasta untuk Produksi Vaksin Covid-19 dalam Negeri

Baca: Rencana Anies Jadikan GOR Tempat Isolasi Pasien Covid-19 Dikritik, Justru Bisa Menurunkan Imun

Bambang menjelaskan health pass ini berisi data masyarakat yang berkaitan dengan status Covid-19. Sejumlah daya seperti jumlah pengetesan Covid-19 juga dapat dikumpulkan melalui teknologi ini.

"Health pass ini nantinya bisa berfungsi sebagai semacam pasport. Dapat identifikasi bahwa kita sebagai individu pernah rapid test berapa kali di mana, hasilnya apa, pernah swab test di mana," ungkap Bambang.

Menurut Bambang, teknologi ini dapat dimanfaatkan untuk mengidentifikasi status Covid-19 seseorang ketika ingin bepergian.

Bambang mengatakan teknologi ini dapat membuat masyarakat tidak perlu membawa dokumen yang banyak.

"Sehingga tidak perlu siapkan pergi sana pergi sini harus bawa dokumen macam-macam hanya untuk membuktikan bahwa kita pernah rapid test, swab test, atau misalkan nanti dengan hembusan nafas," ucap Bambang.

Selain itu, health pass juga dapat dimanfaatkan untuk mengidentifikasi status zona wilayah yang dituju.

"Satu lagi, harapannya health pass bisa menjadi bagian dari aplikasi individu untuk tahu apakah dia berada di daerah yang aman atau tidak, ya sekitarnya merah atau tidak," pungkas Bambang.

Seperti diketahui, Pemerintah lewat Satgas Covid-19 saat ini terus menggencarkan kampanye penyuluhan 3M (Memakai masker, rajin mencuci tangan, dan selalu menjaga jarak).

Kampanye 3M ini terus menerus disosialisasikan supaya masyarakat tidak lupa bahwa penyebaran Covid-19 banyak datang dari pergerakan manusia. Sehingga pelaksanaan 3M harus dijalankan secara ketat.

Bersama-kita lawan virus corona. Tribunnews.com mengajak seluruh pembaca untuk selalu menerapkan protokol kesehatan dalam setiap kegiatan. Ingat pesan ibu, 3M (Memakai masker, rajin Mencuci tangan, dan selalu Menjaga jarak).

Penulis: Fahdi Fahlevi
Editor: Hendra Gunawan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved