Jumat, 29 Agustus 2025

Virus Corona

Hasil Dalam Hitungan Menit Biaya Murah, Negara-negara di Dunia Beralih ke Rapid Test Antigen

Amerika Serikat dan Kanada juga membeli jutaan alat tes serupa, seperti halnya Italia, yang baru-baru ini melakukan tender

tribunnews.com/abdul majid
Ilustrasi: Ketua NPC Indonesia, Senny Marbun saat menjalani swab test bersama dengan para atlet yang menjalani pelatnas Paralimpiade 2021 Tokyo di Kusuma Sahid Prince Hotel, Senin (12/10/2020). 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Srihandriatmo Malau

 TRIBUNNEWS.COM, ZURICH-- Kini negara-negara di dunia sedang berjuang menghadapi gelombang kedua Covid-19.

Terkait itu, banyak negara beralih ke tes yang lebih cepat, lebih murah tetapi kurang akurat untuk menghindari keterlambatan dan kekurangan yang telah mengganggu upaya untuk mendiagnosis dan melacak mereka yang terinfeksi secara cepat.

Jerman, yang kini kasus positifnya melonjak sebanyak 4.122 pada Selasa (13/10/2020) menjadi total 329.453, telah mengamankan 9 juta alat tes antigen per bulan yang dapat memberikan hasil dalam hitungan menit dan biaya masing-masing sekitar 5 euro (5,90 dolar AS) atau kurang dari Rp 90 Ribu.

Baca juga: Penanganan Covid-19 di Indonesia Tunjukan Hasil Signifikan, Berikut Datanya

Itu akan, secara teori, mencakup lebih dari 10% populasi.

Amerika Serikat dan Kanada juga membeli jutaan alat tes serupa, seperti halnya Italia, yang baru-baru ini melakukan tender untuk 5 juta alat tes itu dari 35 perusahaan.

Robert Koch dari Institute (RKI) Jerman sekarang merekomendasikan tes antigen untuk melengkapi tes PCR molekuler yang ada, yang telah menjadi standar untuk menilai kasus aktif.

Namun kini tes PCR ini juga telah mengalami kekurangan karena pandemi membuat banjirnya pengujian di laboratorium dan melampaui kapasitas produksi produsen.

Baca juga: Muncul Gejala Baru Pasien Covid-19, dari Ruam Kaki hingga Neurologis

Tes PCR mendeteksi bahan genetik dalam virus, sementara tes antigen mendeteksi protein di permukaan virus, meskipun keduanya dimaksudkan untuk mengambil infeksi aktif.

Jenis tes lain, untuk antibodi yang dihasilkan tubuh sebagai respons terhadap infeksi, dapat membantu mengetahui apakah seseorang pernah terpapar Covid-19 di masa lalu.

Seperti tes PCR (polymerase chain reaction), tes cepat antigen membutuhkan swab atau usap hidung yang tidak nyaman. Tes ini juga dapat menghasilkan lebih banyak "negatif palsu," dan mendorong beberapa ahli untuk merekomendasikan hanya digunakan dalam keadaan terjepit.

Baca juga: Turis Jepang Ini Jadi Wisatawan Pertama yang Mengunjungi Machu Picchu Saat Pandemi Covid-19

Namun, peningkatan yang mengkhawatirkan dalam kasus baru secara global membuat para pejabat kesehatan mengejar lebih banyak pilihan tes, apalagi musim influenza yang kerap terjadi di musim dingin telah mendekat.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan lebih dari 2 juta kasus baru pekan lalu, sehingga total di seluruh dunia menjadi 37 juta, dengan lebih dari 1 juta kasus kematian akibat Covid-19.

Daya Tarik Tes Antigen di Industri Penerbangan

Tes antigen memiliki daya tarik dalam industri perjalanan, termasuk penerbangan.

Maskapai Italia Alitalia menawarkan penerbangan Roma-Milan khusus untuk penumpang dengan hasil tes negatif Begitu pula dengan maskapai Lufthansa Jerman telah mengumumkan rencana pengujian serupa.

Tetapi skala besar pandemi telah membebani kemampuan negara-negara untuk menguji semua warga negara mereka, sehingga sulit untuk melacak jalur infeksi secara komprehensif dan mencegah peningkatannya.

Di Amerika Serikat, misalnya, ketergantungan pada mesin PCR otomatis selama musim panas membuat banyak pasien frustrasi karena mereka harus menunggu hasilnya selama seminggu atau lebih.

Pengujian di Eropa juga telah mengalami polemik.

Prancis melakukan lebih dari satu juta tes seminggu tetapi kebijakan pengujian gratis untuk semua warga telah menyebabkan antrian panjang dan keterlambatan dalam hasil, mendorong peneliti Prancis untuk datang dengan tes yang mereka katakan dapat menghasilkan hasil dalam 40 menit, tanpa menggunakan tes usap atau swab.

Italia melakukan antara 800.000 dan 840.000 tes seminggu, lebih dari dua kali lipat pada April, menurut Kementerian Kesehatan.

Tetapi seorang penasihat pemerintah, profesor mikrobiologi Universitas Padua Andrea Crisanti, mengatakan negara itu membutuhkan 2 juta tes seminggu untuk benar-benar bisa mengatasi covid-19.

Di Belanda, yang tingkat infeksi termasuk yang tertinggi di Eropa, pemerintah telah bekerja keras untuk memperluas pengujian mingguan dan kapasitas laboratorium menjadi 385.000 pada minggu depan dari 280.000 sekarang.

Targetnya hampir setengah juta tes seminggu pada bulan Desember dan hanya di bawah 600.000 pada bulan Februari.

Tapi orang-orang harus menunggu berhari-hari untuk bisa tes. Pihak berwenang menyalahkan permintaan tes yang luar biasa dari mereka yang tidak memiliki gejala.

Sebagai tanggapan, pihak berwenang telah membatasi tes antigen cepat untuk petugas kesehatan dan guru, sementara yang lain masuk daftar tunggu.

'STANDAR EMAS'

Berbagai pihak menyoroti teka-teki bagi pemerintah: bagaimana membuat orang kembali bekerja sambil cepat melacak virus dalam populasi, tanpa kehabisan persediaan.

Pembuat diagnostik Swiss Roche, mengumumkan rencana pada Selasa (13/10/2020) untuk meluncurkan tes antigen baru pada akhir tahun yang dapat diproses pada mesin laboratorium hingga 300 tes per jam, tidak termasuk waktu pengumpulan.

Saingannya, termasuk Siemens Healthineers, Abbott Laboratories dan Becton Dickinson juga menawarkan banyak tes diagnostik Covid-19.

Roche mengatakan tes ini dapat dikerahkan di tempat-tempat seperti panti jompo atau rumah sakit, di mana hasil yang cepat dapat mematikan mata rantai wabah yang berpotensi mematikan itu.

Pada awal 2021, perusahaan yang berbasis di Basel itu mengatakan bisa membuat sekitar 50 juta alat tes baru sebulan, di atas tes titik perawatan cepat yang sudah dijualnya.

Sandra Ciesek, direktur Institute of Medical Virology di University Clinic di Frankfurt, Jerman mengatakan tes antigen cepat bisa menjadi pilihan bagi pasien tanpa gejala yang berencana mengunjungi pasien lanjut usia di panti jompo.

Tetapi orang harus menahan diri dari menggunakannya sebagai pengganti definitif untuk menilai status infeksi mereka.

"Tes PCR tetap menjadi standar emas," kata Ciesek.

"Tes antigen hanya boleh digunakan sebagai alternatif jika PCR tidak dimungkinkan tepat waktu." (Reuters)

Berita Terkait
AA

Berita Terkini

© 2025 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
About Us Help Privacy Policy Terms of Use Contact Us Pedoman Media Siber Redaksi Info iklan