Virus Corona
Begini Cara Kerja Virus Corona Menyerang Manusia hingga Gejala Infeksi Bisa Berbeda
Ketua Komite Medik Halodoc, dr Theresia Novi SpPK menjelaskan cara kerja virus corona hingga membuat manusia memilki gejala yang berbeda.
Penulis:
Inza Maliana
Editor:
Tiara Shelavie
TRIBUNNEWS.COM - Ketua Komite Medik Halodoc, dr Theresia Novi SpPK menjelaskan cara kerja virus corona atau COVID-19 menyerang manusia.
Terlebih, virus yang menyerang ini bisa membuat gejala infeksi yang berbeda di setiap tubuh manusia.
Menurut dr Novi, cara kerja virus corona sama seperti virus lainnya, yakni menginvasi tubuh manusia untuk beranak pinak.
Ia mengibaratkan virus corona seperti alien, yang tidak tampak nyata namun bisa masuk ke dalam tubuh dan memperbanyak diri.
"Dia (virus corona) menginvasi sel kita kemduian bereplikasi disana."
"Ini akan merangsang tubuh kita bereaksi membentuk suatu respon imun," kata dr Novi dalam diskusi daring Halotalks 'Pendekatan Kesehatan Holistik Guna Mewujudkan Indonesia Sehat' pada Rabu (11/11/2020).

Baca juga: Setelah Pilpres, AS Hadapi Lonjakan Virus Corona hingga Membuat Rumah Sakit Kewalahan
Namun, respon imun di tubuh manusia ini bisa menjadi berbahaya.
Bahkan, bisa sampai merusak jaringan tubuh kita sendiri.
"Tapi yang berbahaya adalah respon ini bisa berlebihan sehingga menyebabkan ada kebingungan dari imun kita."
"Sel yang harusnya melindungi (tubuh dari bahaya) malah membabi buta bahkan merusak jaringan kita sendiri," kata dokter patologis klinis yang berpraktik di RS Husada Utama Surabaya ini.
Virus corona akan menggunakan reseptor ACE2 pada sel manusia sebagai pintu masuk dengan mengikat protein spike ke reseptor.

Baca juga: Apakah Virus Corona Menular Melalui Air di Kolam Renang? Begini Penjelasan Dokter
Kemudian, setelah terikat di sel inang dan berhasil memperbanyak diri, mulailah muncul gejala ringan pada tubuh manusia.
Dalam tahap stadium satu atau bergejala ringan, virus corona sudah bisa terdeteksi melalui tes swab PCR.
Lalu dalam tahap stadium dua, virus corona sudah memasuki organ tubuh seperti paru-paru.
Dalam tahap ini, virus corona telah mengalahkan sistem kekebalan tubuh dan akhirnya menyebabkan infeksi.
Infeksi ini dikenal dengan pneumonia dan dibuktikan dengan adanya bercak putih dalam paru-paru atau ground glass opacity (GGO).

Baca juga: Benarkah Infeksi Virus Corona Bisa Membuat Otak Jadi 10 Tahun Lebih Tua? Begini Kebenarannya
Sementara, di tahap stadium tiga, pasien sudah mengalami gejala berat yang bisa menyebabkan kematian.
"Di stadium 3 ada yang namanya hiperinflasi, jadi sel-sel yang diproduksi tubuh kita yang harusnya melindungi justru merusak selnya."
"Biasanya disebut badai sitoksin yang bisa menyebabkan sampai gagal nafas dan kerusakan di organ-organ tubuh lainnya," terang alumnus Universitas Airlangga ini.
dr Novi menjelaskan, virus corona bisa menimbulkan gejala lantaran adanya kerusakan di organ tubuh.
Misalnya ada kerusakan di paru-paru, maka bisa muncul gejala batuk, nyeri telan hingga sesak nafas.
Lalu kerusakan di jantung menyebabkan nyeri jantung, di ginjal akan menyebabkan gagal ginjal, juga di pencernaan yang bisa menyebabkan muntah atau diare.

Baca juga: Waspada, Ini 15 Gejala Virus Corona Menurut WHO
Ia juga mengatakan, adanya kerusakan di susunan saraf menyebabkan gangguan indra pencium dan perasa.
Menurutnya, ada beberapa pengaruh yang membuat tubuh merasakan gejala yang berbeda saat terkena virus corona.
"COVID-19 menyerang tubuh manusia dengan gejala yang berbeda-beda karena dipengaruhi oleh jumlah virus, penyakit penyerta, gaya hidup, usia (lansia lebih rentan terinfeksi) serta kemampuan respon imun tubuh."
"Pendekatan kesehatan yang holistik meliputi fisik, mental, dan sosial, memainkan peran krusial dalam penanganan pandemi ini."
"Karena itu tiap individu dianjurkan untuk menerapkan kebiasaan-kebiasaan yang baik bagi tubuh dan mental, serta menjaga hubungan baik dengan satu sama lain," pungkasnya.
(Tribunnews.com/Maliana)