Breaking News:

Vaksin Covid-19 Sinopharm Buatan China Sudah Disuntikkan Kepada Sekitar Satu Juta Orang

Hampir satu juta orang sudah menerima suntikan vaksin Covid-19 eksperimental yang dikembangkan China National Pharmaceutical Group (Sinopharm).

Zhang Yuwei / XINHUA / Xinhua via AFP
Seorang staf menampilkan sampel vaksin Covid-19 yang tidak aktif di pabrik produksi vaksin China National Pharmaceutical Group Co., Ltd. (Sinopharm) di Beijing, ibukota China, 10 April 2020. 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Srihandriatmo Malau

TRIBUNNEWS.COM, BEIJING - Hampir satu juta orang sudah menerima suntikan vaksin Covid-19 eksperimental yang dikembangkan China National Pharmaceutical Group (Sinopharm).

China meluncurkan program penggunaan darurat vaksin pada Juli lalu, untuk pekerja medis dan kelompok terbatas lainnya.

Selain itu, program tersebut digulirkan karena studi klinis belum selesai untuk membuktikan keamanan dan kemanjuran tiga kandidat vaksin yang dikembangkan perusahaan farmasi Beijing.

Baca juga: Kasus Covid-19 Terus Meningkat, Pemerintah Kemungkinan Tiadakan Libur Panjang Akhir Tahun

“Tidak ada reaksi atau efek samping yang serius dilaporkan dari mereka yang menerima vaksin dalam penggunaan darurat,” jelas Sinopharm dalam sebuah artikel di media sosial WeChat, mengutip Chairman Ketua Liu Jingzhen dari wawancara media baru-baru ini dikutip dari Reuters, Kamis (19/11/2020)

Dua kandidat vaksin dikembangkan anak perusahaan Sinopharm, China National Biotec Group (CNBG) dan yang ketiga dikembangkan Sinovac Biotech SVA.

Baca juga: Kasus Aktif Covid-19 Meningkat, Masyarakat Diimbau Patuhi Protokol Kesehatan 3M

Vaksin eksperimental Sinopharm sedang menjalani uji klinis Fase 3 di luar negeri yang telah merekrut hampir 60.000 sukarelawan.

“Di antara karyawan proyek konstruksi, diplomat dan mahasiswa yang berpergian ke luar negeri setelah disuntukkan vaksin Sinopharm, tidak ada yang terinfeksi,” kata Liu.

Tetapi para ahli telah memperingatkan untuk tidak menggunakan data semata-mata dari program penggunaan darurat, tanpa hasil yang sebanding dari kelompok kontrol standar uji klinis, untuk menentukan efektivitas vaksin.(Reuters)

Penulis: Srihandriatmo Malau
Editor: Adi Suhendi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved