Breaking News:

Virus Corona

WHO Perluas Investigasi Asal Usul Covid-19 Hingga ke Asia Tenggara

WHO mengatakan bahwa 'sangat tidak mungkin' bahwa virus corona (Covid-19) tersebar melalui kebocoran di laboratorium Institut Virologi Wuhan, China.

Hector RETAMAL / AFP
Anggota tim Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang menyelidiki asal-usul virus corona Covid-19, mengenakan alat pelindung terlihat selama kunjungan mereka ke Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Hewan Hubei di Wuhan, Provinsi Hubei tengah China pada 2 Februari 2021 . 

"Penundaan untuk memulai investigasi di China mengindikasikan bahwa kami mungkin tidak akan pernah tahu cerita lengkapnya, itu akan selalu dikaburkan. Tanda tanya yang akan menggantung pada misi ini adalah misi ini bisa sukses, jika tim masuk lebih awal, karena akan ada lebih banyak data yang dikeluarkan," tegas Thomas.

China pun merespons, media pemerintah China menangkap kesimpulan tim investigasi WHO bahwa virus itu kemungkinan tidak berasal dari China, setelah konferensi pers disampaikan WHO pada Selasa lalu.

The Global Times, sebuah tabloid nasionalis di China mengatakan, temuan WHO mengindikasikan bahwa lebih banyak upaya penelusuran harus dimulai di Asia Tenggara.

Begitu pula pemberitaan di surat kabar berbahasa Inggris 'The China Daily' yang didukung pemerintah.

Media itu 'membingkai' ceritanya tentang konferensi pers itu dan menarik kesimpulan bahwa penyelidikan asal-usul Covid-19 tidak boleh terikat secara geografis ke China.

Dua media ini pun menyinggung komentar salah satu anggota tim investigasi WHO, Marion Koopmans yang mengatakan WHO harus terus melacak produk yang dijual di pasar Wuhan pada Desember 2019 ke sumber mereka, seperti ke pertanian di wilayah lain di China atau bahkan ke luar negeri.

Thomas mengatakan teori China bahwa Covid-19 diimpor dari makanan, secara teknis memang masuk akal.

Namun ia terkejut dengan seberapa besar kepercayaan yang diberikan oleh tim investigasi WHO terhadap teori tersebut.

"Itu mengejutkan, karena ini pertama kalinya kami mempertimbangkan dari jarak jauh cerita asal Asia Tenggara untuk kasus ini. Teori bahwa virus itu mungkin berasal dari Asia Tenggara mendekati narasi negara China, dibandingkan dengan apa yang kita lihat dari WHO sejauh ini," tegas Thomas.

Sedangkan Ilmuwan lainnya, telah menolak teori impor ala China ini sepenuhnya.

Mereka berpendapat, asumsi WHO bahwa virus itu masuk melalui interaksi dengan hewan hidup jauh lebih masuk akal.

Karena penularan melalui makanan, jika memang ada, kemungkinan hanya akan menyebabkan sedikit wabah lokal di seluruh dunia.

Sementara itu, pemerintah Amerika Serikat (AS) pun telah mengindikasikan bahwa mereka tidak akan begitu saja 'meyakini 100 persen' hasil investigasi yang dilaporkan WHO.

Seperti yang disampaikan Sekretaris pers Gedung Putih Jen Psaki dalam jumpa pers pada hari Selasa lalu.

"Kami ingin melihat sendiri datanya, kami telah menyatakan keprihatinan kami mengenai perlunya transparansi penuh dan akses dari China dan WHO ke semua informasi mengenai hari-hari awal pandemi," kata Psaki.

Perlu diketahui, sejak awal masa pandemi, WHO telah mendapat kecaman di sejumlah negara termasuk AS karena organisasi itu dituding meyakini asumsi China terkait Covid-19.

Thomas mengatakan temuan WHO mencerminkan perjuangan lembaga tersebut untuk menyeimbangkan antara kepentingan salah satu negara anggotanya yang paling penting dan misinya untuk menemukan bagaimana pandemi ini dimulai.

"WHO terjebak di antara batu dan tempat yang keras. Di satu sisi, WHO bertanggung jawab kepada negara-negara anggotanya, dan dalam hal ini mereka harus mempertimbangkan keinginan China. Tapi di sisi lain, mereka juga mencoba untuk mengungkap kebenaran," pungkas Thomas.

Penulis: Fitri Wulandari
Editor: Anita K Wardhani
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved