Breaking News:

Penanganan Covid

Guru Besar Farmasi UI Harap Ada Pemantauan Reaksi Alergi Pasca Vaksinasi Covid-19

WHO merekomendasikan untuk dilakukan kegiatan pemantauan pascaotorisasi yang berupa pengawasan dan pemantauan keselamatan

TRIBUN JABAR/ZELPHI
Petugas kesehatan melakukan penyuntikan vaksin covid-19 Sinovac pada lengan Aparat Sipil Negara (ASN) di Gedung B Komplek Perkantoran Pemkot Cimahi, Jalan Raden Demang Hardjakusumah, Kota Cimahi, Jawa Barat, Senin (01/03/2021). Sebanyak 140 ASN berhasil disuntik vaksin covid-19 Sinovac pada hari pertama program Vaksinasi covid-19 bagi pelayan publik di lingkungan Pemerintahan Daerah Kota Cimahi, seperti diungkapkan Kepala Dinas Kesehatan Kota Cimahi, drg Pratiwi M.Kes. ASN yang sebagian besar dari jajaran eselon IV sejak hari Jumat (26/02/2021) sudah mendapat pemberitahuan akan dilakukan penyuntikan vaksin hari Senin ini. (Tribun Jabar/Zelphi) 

Laporan wartawan Tribunnews.com, Rina Ayu

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA -- Guru besar Fakultas Farmasi UI Prof. Dr. apt. Retnosari Andradjati, MS., berharap ada pemantauan reaksi alergi pasca divaksinasi Covid-19.

Diketahui, sejak 13 Januari 2021 pemerintah mulai melaksanakan Vaksinasi Covid-19 secara bertahap untuk 34 provinsi, yang diprioritaskan bagi tenaga kesehatan (nakes) dan petugas publik.

Meskipun demikian, masih ada masyarakat merasa cemas terhadap keamanan vaksin Covid-19 tersebut.

Dalam keterangan yang dikutip Tribunnews.com, Senin (1/3/2021) ia memaparkan, vaksinasi secara umum dapat menimbulkan reaksi hipersensitivitas atau reaksi imun yang dipicu oleh antigen/alergen.

Reaksi tersebut terjadi dalam 24 jam yang diperantarai oleh IgE, IgG dan IgM, yang terbagi dalam tiga tipe, yaitu: Tipe 1 Shok Anafilaktik (melibatkan IgE); Tipe 2 melibatkan IgG dan IgM; dan Tipe 3 melibatkan IgG dan IgM.

Baca juga: Mayoritas Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tangani Pasien Covid, Penderita TBC Sulit Dapatkan Akses

IgE pada tipe 1 berkaitan dengan sel mast dan basophil yang mengandung histamin yang dapat menimbulkan reaksi alergi dan shok anafilaksis.

 IgG dan IgM pada tipe 2 mengaktifkan komplemen yang dapat merusak sel dan memicu trombositopenia, anemia hemolitik otoimun, dan neutropenia otoimun.

 IgM dan IgG pada tipe 3 bereaksi dengan antigen yakni sistem komplemen akan diaktifkan kemotaksis yang menarik neutrophil dan menyebabkan inflamasi dan vasculitis serta serum sickness dan arthus reaction.

"Untuk reaksi-reaksi di atas, vaksin harus melalui Vaksin Safety agar dapat mengetahui vaccine product-related reactions (reaksi produk vaksin serupa) dan vaccine quality defect-related reactions (reaksi terkait cacat kualitas vaksin)," kata Prof. Retnosari.

Retnosari melanjutkan, World Health Organization/WHO (2021) juga merekomendasikan untuk dilakukan kegiatan pemantauan pascaotorisasi yang berupa pengawasan dan pemantauan keselamatan atau safety surveillance and monitoring).

Baca juga: Usia Lansia Bisa Vaksinasi Covid-19 Lewat Layanan Drive Thru

Pengawasan dan pemantauan meliputi reaksi serius, anaphylaxis dan reaksi alergi serius lainnya, Bell’s palsy, kasus sindrom inflamasi multisistem setelah vaksinasi, dan kasus Covid-19 setelah vaksinasi yang mengakibatkan hospitalisasi atau kematian.

“Peran vaccine safety surveillance selama pengenalan vaksin Covid-19 adalah untuk memfasilitasi deteksi dini, investigasi dan analisis kejadian merugikan pasca imunisasi atau investigation and analysis of adverse events following immunization (AEFIs) dan kejadian merugikan kepentingan khusus atau adverse events of special interest (AESIs) untuk memastikan respon yang tepat dan cepat,” ujar Prof. Retno.

Di akhir penjelasannya, Prof. Retno berpendapat keamanan vaksin baru seperti vaksin Covid-19 ini masih perlu dievaluasi lebih lanjut.

Hal tersebut guna meminimalisir adanya efek samping atau reaksi dari vaksin yang dirasakan oleh pasien

Penulis: Rina Ayu Panca Rini
Editor: Eko Sutriyanto
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved