Selasa, 2 Juni 2026

Penanganan Covid

Harga Vaksin Merah Putih Kemungkinan Dibanderol Rp 72 Ribu

Kemenristek/BRIN), Bambang Brodjonegoro mengatakan kemungkinan besar harga vaksin merah putih akan lebih murah daripada vaksin yang diimpor

Tayang:
Capture Video Zoom/Fitri Wulandari
Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (Menristek/BRIN) Bambang PS Brodjonegoro, dalam Webinar 'Tantangan dan Kebijakan Pengembangan Vaksin Merah Putih untuk Percepatan Penanganan Pandemi Covid-19', Jumat (22/1/2021). 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Menteri Riset dan Teknologi (Kemenristek/BRIN), Bambang Brodjonegoro mengatakan kemungkinan besar harga vaksin merah putih akan lebih murah daripada vaksin yang diimpor untuk penanganan pandemi Covid-19.

"Kalau range harga tentunya saat ini belum bisa diprediksi, tapi yang pasti tadi sudah mendapatkan anggaran baik di riset maupun di uji klinis, mudah-mudahan ini bisa 5 dolar atau lebih kurang dari 5 dolar," ujar Bambang saat acara virtual Peringatan Satu Tahun Pandemi Covid-19 di Indonesia, Selasa(2/3/2021).

Jika harga vaksin 5 dolar, bila dirupiahkan sekitar Rp 72.000. Namun hal ini belum bisa dipastikan, lantaran prakiraan harga sesuai keputusan PT Bio Farma (yang memproduksi vaksin).

Baca juga: Ulama, Dewan Pimpinan dan Pengurus MUI Pusat Akan Terima Vaksin Covid-19 Pagi ini

Baca juga: Kemenkes Siapkan Vaksinasi Covid-19 Drive Thru untuk Pengendara Sepeda Motor

Selain itu Bambang juga menjelaskan bahwa vaksin Merah Putih tentu akan lebih murah lantaran prosesnya sudah didanai oleh Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dan uji klinisnya akan didanai oleh pemerintah.

Rencananya bibit vaksin akan diserahkan ke Bio Farma pada akhir bulan Maret, setelah melewati tahapan di lab yang hampir 100%. Sebelum diproduksi massal, tentu akan melewati tahapan uji klinik 1,2, dan 3 untuk mendapatkan izin dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Setelah mendapat izin dari BPOM, vaksin merah putih akan diproduksi massal dan dilakukan proses vaksinasi.

Ilustrasi vaksin
Ilustrasi vaksin (freepik.com)

Menristek mengungkapkan alasan vaksin produksi Indonesia lebih lama dibanding vaksin asal China.

"Kita lihat backgroundnya, kunci dari suatu negara bisa menguasai vaksin apalagi menghasilkan vaksin dengan cepat itu adalah karena R&D (Research and Development) sudah kuat," ujar Bambang.

Research and Development (Penelitian dan pengembangan/litbang) adalah kegiatan penelitian, dan pengembangan, dan memiliki kepentingan komersial dalam kaitannya dengan riset ilmiah murni, dan pengembangan aplikatif di bidang teknologi.

Bambang menuturkan di pandemi ini pengembangan vaksin harus dilakukan secara mandiri dari hulu sampai hilir.

"Hilirnya mungkin kita merasa sudah punya Bio Farma tapi hulunya kita masih belajar banyak mengenai R&D vaksin khususnya memahami berbagai macam platform yang ada dalam pengembangan vaksin dan yang kedua pralihan dari hulu ke hilir (dari lab ke manufacturing)," ujar Bambang.

Proses tersebut harus dipelajari terlebih dahulu, tidak bisa semata-mata ketika mendapat bibit vaksin langsung dikirim ke pabrik lalu diproduksi."Ada learning proses yang harus dilalui, tetapi lebih baik kita bersusah-susah sekarang agar kedepannya bisa lebih mandiri," ujar Bambang.

Vaksin Datang

Wakil Menteri Kesehatan RI Dante Saksono Harbuwono saat disuntik vaksin COVID-19 produksi Sinovac (CoronaVac) oleh vaksinator dokter dari RSCM Jakarta Pusat, Kamis (14/1/2021). Wakil Menteri Kesehatan RI Dante Saksono Harbuwono seusai disuntikan vaksin berharap tidak ada gejala Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) yang dialaminya. Ini karena vaksin COVID-19 buatan Sinovac sudah melalui serangkaian uji klinik. Tribunnews/Jeprima
Wakil Menteri Kesehatan RI Dante Saksono Harbuwono saat disuntik vaksin COVID-19 produksi Sinovac (CoronaVac) oleh vaksinator dokter dari RSCM Jakarta Pusat, Kamis (14/1/2021). Wakil Menteri Kesehatan RI Dante Saksono Harbuwono seusai disuntikan vaksin berharap tidak ada gejala Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) yang dialaminya. Ini karena vaksin COVID-19 buatan Sinovac sudah melalui serangkaian uji klinik. Tribunnews/Jeprima (Tribunnews/JEPRIMA)

Pemerintah kembali mendapatkan suplai bahan baku vaksin dari Sinovac yang akan digunakan untuk vaksinasi di Indonesia. Pada pengiriman tahap lima, 10 juta bahan baku atau bulk vaksin tiba di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, sekitar pukul 12.00 WIB kemarin.

"Hari ini kita kedatangan 10 juta bulk vaksin, bulk vaksin ini adalah materi dasar vaksin yang nanti akan dibuat oleh Bio Farma menjadi sekitar 8 juta vaksin," kata Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono saat menyambut kedatangan vaksin di bandara Soekarno-Hatta.

Dengan datangnya 10 juta bahan baku vaksin tersebut maka total vaksin yang ada di Indonesia saat ini berjumlah 38 juta. Selain vaksin yang berasal dari Sinovac, pemerintah kata Dante masih menunggu beberapa vaksin lagi yang berasal dari sejumlah produsen. Antara lain dari Pfizer, AstraZeneca, dan Novavax.

"Semua vaksin tersebut akan memenuhi kebutuhan vaksinasi seluruh masyarakat Indonesia sebanyak 186 juta penduduk Indonesia," katanya.

Dante mengatakan pihaknya dibantu oleh Ditjen Bea Cukai Kementerian Keuangan dalam akselerasi pengadaan vaksin Covid-19. Sehingga proses kedatangan vaksin lebih mudah agar bisa segera diberikan kepada masyarakat Indonesia.

"Semuanya ini akan dilakukan secara terintegrasi dan vaksin yang baru tiba ini akan diberikan untuk program vaksinasi tahap II yakni pelayan publik dan Lansia sebesar 21,6 juta," ujar Dante.

Dante Saksono Harbuwono mengatakan, 10 juta bahan baku yang tiba akan diproses oleh PT Bio Farma menjadi 8 juta vaksin. "Hari ini kita kedatangan 10 juta bulk vaksin, bulk vaksin ini adalah materi dasar vaksin yang nanti akan dibuat oleh Bio farma menjadi sekitar 8 juta vaksin," ujar Dante.

Ia mengatakan, bahan baku yang tiba kemarin akan dialokasikan untuk vaksinasi tahap kedua yakni kelompok lansia dan petugas pelayanan umum.

"Semuanya ini akan dilakukan secara terintegrasi dan vaksin yang baru tiba ini akan didiberikan untuk program vaksinasi tahap kedua yaitu petugas pelayanan umum dan lansia," tutur dia.(Tribun Network/fik/rin/vio/wly)

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved